Poin-poin

Image

Aku adalah satu-satunya anak kecil di keluargaku dan aku selalu dimanjakan oleh kedua orangtuaku. Ibu sangat menyayangiku dan dia tidak pernah marah padaku ketika aku nakal atau melakukan sesuatu yang salah. Malah, dia hanya akan tersenyum dan memaafkanku. Mungkin dia bukan orangtua yang baik tapi aku menyayanginya apa adanya.

Suatu hari aku sudah tiba di rumah sepulang sekolah dan sedang menonton televisi di ruang tamu ketika telepon berdering. Itu dari ibu.

“Manami, Aku di supermarket sekarang. Bisakah kau melihat apakah ada wortel di kulkas?”

Aku menjawab, “Tunggu,” dan pergi ke dapur.

Ketika baru saja ingin membuka kulkas aku menemukan sesuatu di mataku. Sebuah buku catatan kecil ada di atas kulkas.

Itu sangat aneh pikirku. Aku membuka kulkas, memeriksa isinya, dan mengatakan pada ibu di telepon. Setelah menutup telepon itu aku pergi ke dapur kembali untuk melihat buku catatan itu. Buku itu adalah sesuatu yang selalu ibu bawa bersamanya dan kelihatannya itu sudah tersobek-sobek sedikit.

Sejak kecil aku sudah penasaran dengan buku catatan itu. Aku pikir ibu selalu tersenyum dan memaafkanku. Tapi aku ingat, tiapkali aku nakal atau melakukan kesalahan dia segera menulis sesuatu di buku catatan itu. Dan dia masih melakukan hal itu hingga sekarang.

Selama ini aku selalu ingin tahu apa yang ditulisnya di dalam. Dihinggapi rasa ingin tahu, aku membuka buku itu tanpa ragu sedikitpun. Dan tepat di tengah halaman yang kubuka secara acak, aku melihat tulisan ini; “Hari ini Manami, – 3 poin. Tinggal 168 poin tersisa.”

Advertisements

2 thoughts on “Poin-poin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s