La Casa Matushita

La Casa Matusita atau sering juga di sebut dengan Yellow House atau Rumah Kuning merupakan sebuah rumah hantu yang memiliki kisah nyata di Lima, Peru. Ini adalah urban legend yang sangat terkenal di Peru.

Gambar

Sebuah rumah yang aneh, berwarna kuning terang di Lima, Peru kabarnya menjadi rumah yang terkutuk. Nama rumah itu adalah “La Casa Matusita” dan menurut legendanya, sekumpulan orang-orang pernah terbunuh dengan sadis di lantai dua gedung tua ini.

Beberapa tahun yang lalu seorang pria tua menempati rumah berwarna kuning ini. Dia memiliki seorang istri atau anak-anak yang tinggal bersama para pelayannya dan seorang koki. Pria itu menghuni lantai kedua dari rumah ini dan para pelayannya tinggal di lantai dasarnya.

Pria tua ini merupakan orang yang temperamennya sangat buruk dan kerap memperlakukan para pelayannya dengan semena-mena, terus menyiksa dan menghina mereka. Para pelayan sangat membenci pria tua ini dan bersumpah bahwa suatu hari mereka akan dapat balasannya. Mereka lalu merencanakan sesuatu untuk mempermalukan majikannya.

Suatu hari, pria tua ini mengadakan sebuah pesta makan malam. Para tamu hadir dan diberi tempat duduk di ruang makannya, para pelayan yang melihat itu memutuskan bahwa inilah waktu yang tepat untuk melancarkan pembalasan mereka. Mereka menambahkan obat ilegal –LSD yang dapat menyebabkan orang-orang berhalusinasi, ke dalam makanan yang mereka sajikan untuk majikan dan para tamunya.

Kemudian para pelayan meninggalkan ruangan, dan diam-diam mengunci pintu ruang makan. Mereka beristirahat di dapur sambil menunggu hasil dari rencana mereka. Setelah 15 menit berlalu, mereka mulai mendengar suara-suara kemarahan dan piring-piring yang pecah. Mendengar itu mereka tertawa puas. Namun tak lama menyusul teriakan-teriakan yang kasar dan beberapa jeritan yang mencekam, para pelayan itu mulai khawatir.

Setelah kericuhan itu reda, koki dan para pekerja yang lain membuka pintu ruang makan itu dan ketakutan melihat pemandangan mengerikan yang mereka temukan di dalamnya. Dinding dan langit-langitnya berlumuran darah. Di lantainya tergeletak tubuh-tubuh yang lunglai dan beberapa bagian organ tubuh mereka –mata, tangan, organ dalam, kepala yang terlepas. Wajah para tamu diselimuti dengan rasa bengis serta ngeri.

Semua satu per satu para tamu di ruang makan itu, termasuk pria tua majikan mereka, telah berakhir dengan tragis dan kejam. Menggila karena obat-obatan halusinasi itu, para tamu saling membunuh satu sama lain dengan cara yang tak pernah terbayangkan.

Penampakan itu sangat biadab sehingga menyebabkan pelayan-pelayan itu kehilangan akal sehat mereka. Ketakutan dengan pembantaian yang mereka sebabkan dan cemas mereka akan dieksekusi sesuai hukum, para pelayan itu memutuskan mengambil nyawanya sendiri, menggantung diri mereka di langit-langit di ruang makan.

Sejak itu, rumah berwarna kuning di Peru itu memiliki reputasi berhantu. Banyak orang takut untuk mendekati tempat itu. Kabarnya rumah itu mulai ambruk dan rusak hingga terjual beberapa tahun kemudian oleh pihak pengembang.

Setelah itu, sebuah keluarga Jepang pindah ke dalam rumah tersebut. Mereka sama sekali tidak mengetahui sejarah dari bangunan tua ini beserta reputasinya yang menakutkan. Pada malam mereka memasuki rumah itu, sang suami mengambil sebuah pisau dan membunuh seluruh keluarganya sebelum membunuh dirinya sendiri.

Rumah itu kemudian ditinggalkan kosong begitu saja untuk beberapa tahun kemudian hingga seorang pendeta di kota itu diminta untuk melaksanakan pengusiran roh-roh jahat dari tempat itu. Pemiliknya ingin rumah itu ‘dibersihkan’ agar dapat terjual. Pendeta itu lalu memasuki lantai dasarnya tanpa masalah yang berarti. Namun ketika menginjakkan kakinya di lantai kedua, dia diserang rasa takut yang amat sangat hingga membunuhnya.

Kasus lain yang paling terkenal adalah seorang pembawa acara televisi dan juga komedian Humberto Vera Vilchez, bertaruh pada sebuah siaran langsung, dia mengatakan bahwa dia akan menghabiskan tujuh malam sendirian dalam rumah itu. Dia kemudian memang tinggal untuk semalam disana, dan keesokan paginya, dia ditemukan terbaring di atas trotoar. Dia kehilangan akal sehatnya dan akhirnya dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Dia tak pernah terdengar lagi sejak itu.

Kabarnya dari waktu ke waktu, jeritan menyeramkan dan teriakan-teriakan masih terdengar dari La Casa Matusita. Beberapa orang bahkan melihat penampakan sosok menakutkan mengendap-endap di jendela lantai dua. Hari ini, lantai dasar rumah kuning ini disewakan untuk keperluan usaha. Namun lantai duanya tetap tak berpenghuni dan terkunci rapat-rapat. Menurut legendanya, jika sekumpulan orang-orang pergi untuk tinggal semalam di lantai dua rumah kuning itu, mereka akan menjadi gila sepanjang malam dan saling membantai satu sama lain, seolah memperagakan ulang kejadian mengerikan yang pernah terjadi di sana bertahun-tahun sebelumnya.

La Llorona

La Llorona adalah sebuah kisah yang menakutkan sekaligus memilukan tentang seorang wanita yang kehilangan anaknya. La Llorona merupakan urban legend yang berasal dari daerah-daerah hispanik, dan biasa juga dikenal dengan nama “Lady in White”. Sedangkan arti kata La Llorona berarti “Wanita yang menangis”.

Gambar

Ini adalah sebuah cerita lama yang biasa diceritakan kepada anak-anak ratusan tahun yang lalu. Sebuah kisah menyedihkan, namun hidup dengan kuat diingatan masyarakat di sana, dan banyak dari mereka bersumpah bahwa kejadian ini benar-benar pernah terjadi.

Bertahun-tahun yang lalu di sebuah pedesaan kecil yang sederhana tinggallah seorang gadis bernama Maria –beberapa orang mengatakan dia adalah gadis tercantik di dunia. Karena dia sangat cantik, Maria selalu merasa dirinya lebih baik dari pada orang lain.

Ketika dia tumbuh dewasa, kecantikannya juga bertambah seiring rasa bangganya juga ikut membesar. Ketika dia telah menjadi seorang wanita muda yang dewasa, dia enggan memandang pemuda-pemuda dari desanya. Mereka tidak cukup baik baginya. “Ketika saya menikah,” kata Maria, “Saya akan menikahi pria tertampan yang ada di dunia.”

Lalu pada suatu hari, di pedesaan Maria datang seorang pria yang tampaknya merupakan satu-satunya yang selalu dia bicarakan. Dia seorang ranchero* muda yang gagah, putra dari seorang peternak kaya dari daerah selatan. Dia berjalan layaknya seorang comanche**. Jika dia memiliki seekor kuda, dan sudah bosan dengannya, dia akan melepaskan kuda itu dan membawa seekor kuda liar lagi dari daerahnya. Dia merasa sangat tidak jantan baginya menunggangi kuda yang setengah liar.

Pria itu sangat tampan, dan dia bisa bermain gitar dan menyanyi dengan baik. Maria yakin dengan pikirannya –itu adalah pemuda yang tepat untuknya. Dia tahu bagaimana cara memenangkan hatinya.

Suatu hari ranchero itu mengatakan padanya untuk bertemu di jalan setapak, namun Maria tidak menggubrisnya. Ketika pemuda itu datang ke rumahnya pada suatu petang untuk memainkan gitarnya dan menghiburnya, Maria bahkan tidak memandangnya dari jendela. Dia menolak semua pemberian tak berharganya. Pria muda ini lalu terperdaya dengan permainan Maria. “Gadis nakal itu, Maria, Maria!” dia berkata kepada dirinya. “Saya tahu saya dapat memenangkan hatinya. Saya bersumpah akan menikahi gadis itu.”

Dan kemudian semua berjalan sesuai dengan rencana Maria. Tak butuh waktu lama, dia dan ranchero muda itu bertunangan dan segera menikah. Awalnya, semua berjalan baik. Mereka memiliki dua orang anak dan terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia. Namun setelah beberapa tahun berlalu, sisi liar ranchero itu mulai kembali lagi. Dia sering meninggalkan kota itu dan pergi berbulan-bulan lamanya. Dan ketika dia kembali ke rumah, dia hanya menemui anak-anaknya. Dia tampaknya sudah tak memperdulikan Maria. Dia bahkan berpikir untuk menyingkirkannya dan menikah dengan wanita yang berasal dari kelas sosial yang kaya, sama dengannya.

Tentu saja, hal ini membuat Maria sangat marah dengan pria itu. Dia mulai membenci anak-anaknya juga, karena suaminya hanya memberi perhatian ke mereka, namun tidak pernah menghiraukannya.

Suatu sore, Maria yang berjalan-jalan dengan kedua anaknya di jalanan yang teduh di pinggir sungai, ranchero itu datang mendekat. Wanita cantik itu duduk di sampingnya. Suaminya berhenti dan berbicara kepada anak-anaknya, tapi tak melihat sedikit pun ke Maria. Setelah itu, dia pergi lagi menunggangi kudanya ke jalanan.

Melihat itu, Maria menjadi sangat marah, dan akhirnya mencelakai anak-anaknya. Maria menangkap kedua anaknya dan membuang mereka ke dalam sungai. Namun ketika mereka tak tampak lagi di permukaan, dia sadar apa yang telah dilakukannya. Dia lalu turun ke pinggir sungai itu, dan berusaha meraih-raih tangan mereka. Namun mereka telah hanyut jauh.

Menyadari kesalahannya, Maria lalu menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam sungai itu. Keesokan paginya, seseorang membawa kabar kepada penduduk desa bahwa ada seorang wanita cantik yang terbaring tak bernyawa di pinggir sungai. Disanalah mereka menemukan Maria, mereka akhirnya menguburkannya di tempat dimana dia ditemukan.

Diceritakan bahwa ketika arwah Maria menuju ke alam baka untuk masuk ke surga, malaikat disana menolaknya. “Mana anak-anakmu?” Dia menanyakannya. Malu, Maria lalu mengakui tidak tahu dimana keberadaan anak-anaknya. “Pergi dan bawa mereka kemari,” kata malaikat itu. “Kau tak akan istirahat hingga mereka ditemukan.”

Sejak itulah, tiap malam para penduduk desa mendengar suara tangisan dari arah danau tersebut. “Ay, mis hijos! Ay, mis hijos!” –“Mana, anak-anakku! Mana, anak-anakku.” Mereka pun tidak menyebutnya dengan Maria lagi, mereka menamakannya La Llorona, wanita yang menangis. Menurut beberapa orang, La Llorona juga kerap menampakkan diri kepada pemuda-pemuda yang melintas dekat sungai itu untuk membalaskan dendamnya. Sosoknya sering terlihat mengenakan sebuah gaun panjang berwana putih, dengan tatapan yang kosong menakutkan, serta kuku-kuku jarinya yang panjang seakan siap menerkam.

Kisah Wanita yang Menangis ini diceritakan kepada anak-anak muda sebagai kisah nyata, dan anak-anak diperingatkan untu tidak keluar rumah pada malam hari karena bisa saja La Llorona menangkap dan tidak akan mengembalikan mereka. Namun, banyak juga legenda ini dipakai oleh orang-orangtua untuk mengajarkan anak gadis mereka tentang kehidupan percintaan, memperingati mereka untuk tidak terlena dengan pemuda-pemuda yang berpenampilan bagus dan kaya jauh dari mereka, serta agar berhati-hati dalam memutuskan pernikahan.

 

*ranchero (bahasa Spanyol), berarti pemilik peternakan.

**comanche (bahasa Spanyol), sebutan untuk salah satu suku asli di Amerika.

El Garitas del Diablo

Benteng San Cristobal di Mexico merupakan tempat dimana bisa kamu dapati sebuah gardu berhantu yang disebut “El Garitas Del Diablo” atau “Gardu Setan”.

Gambar

Gardu atau “garitas” di San Cristobal di bangun pada tahun 1634 dan digunakan oleh prajurit Spanyol untuk menjaga dinding kota tersebut pada malam hari. Banyak dari para penjaga gardu itu sangat tertutup dari dunia luar dan ditinggalkan sendiri, dan pada malam hari para penjaga itu akan menyeru satu sama lain dalam gardu-gardu miliknya untuk memastikan semua baik-baik saja.

Akan tetapi ada gardu penjaga yang tak satu pun prajurit ingin menghabiskan malam di situ. Gardu itu adalah yang paling jauh dan terpencil, berdiri di ujung tebing dari benteng San Cristobal, dan merupakan bagian yang paling tua dari pertahanan benteng tersebut. Para penjaga yang pernah tinggal disana semalaman menceritakan cerita-cerita aneh tentang suara yang mengerikan dan bisikan-bisikan yang bisa mereka dengar ketika malam hari. Mereka bilang itu terdengar seperti roh jahat atau setan yang saling berbicara satu sama lain.

Suatu malam adalah giliran bagi seorang prajurit yang bernama Sanchez untuk berjaga melakukan tugasnya di sana. Seperti malam-malam yang lainnya, kesempatan melaporkan keadaan dari satu penjaga ke penjaga lainnya terdengar dari gardu mereka masing-masing tapi tidak ada yang terdengar dari gardu dimana Sanchez berjaga. Tiap kali salah satu dari mereka memanggilnya, tidak pernah ada balasan. Prajurit lain kemudian menjadi khawatir di sisa malam itu, dan gemetar memikirkan apa yang mungkin terjadi dengan temannya.

Ketika matahari terbit, semua lalu pergi memeriksa Sanchez dan menemukan gardu tersebut kosong. Mereka menemukan senjata dan seragamnya, tapi diri Sanchez lenyap tanpa jejak sedikit pun.

Sanchez hanyalah salah satu dan yang pertama dari para prajurit yang menghilang dari gardu di San Cristobal tersebut di tahun-tahun yang berikutnya. Selama beberapa tahun kejadian itu kerap terulang kembali. Tiap kali, ketika para prajurit pergi untuk memeriksa sesama penjaga disana, mereka tidak menemukan apa-apa kecuali senjata dan seragamnya. Tak ada jejak dari pria-pria tersebut pernah ditemukan dan keluarga mereka juga tak pernah mendengar kabar dari mereka lagi.

Misteri ini tak pernah terpecahkan dan gardu di San Cristobal itu akhirnya disebut “Gardu Setan” atau “La Garita Del Diablo” karena para prajurit percaya bahwa rekan-rekan mereka telah direnggut jiwanya dan dimangsa oleh setan disana.

La Casa de Aramberri

La Casa de Aramberri atau Monterrey House adalah sebuah kisah nyata tentang sebuah rumah yang berhantu di Mexico dan sebuah pembunuhan yang mengerikan pernah terjadi di sana.

Gambar

Ada sebuah rumah berhantu di kota Monterrey, Mexico yang penduduk di sana biasa menyebutnya La Casa de Aramberri. Rumah itu telah dikunjungi beberapa kali oleh paranormal dan mereka menyebut bahwa ada dua arwah wanita yang pernah dibunuh disana yang tak pernah beristirahat dengan damai.

Hari ini, Rumah Aramberri dibiarkan tak terawat dan sangat terabaikan, tapi beberapa tahun yang lalu, itu adalah rumah dari salah satu keluarga terkaya yang ada di kota Monterrey. Pada tahun 1933, seorang pria tinggal di sana dengan istrinya, Florinda bersama anak perempuannya, Antonieta. Tak ada yang tahu bahwa keluarga bahagia dalam rumah itu akan mengalami suatu kejahatan yang mencengangkan dan keji dimana diakibatkan oleh keserakahan manusia.

Suatu pagi, ayah dari keluarga tersebut pergi untuk bekerja, meninggalkan istri dan anak perempuannya di rumah. Tak lama setelah itu, tiga laki-laki mendobrak masuk dan menyerang kedua wanita itu. Penjahat itu lalu meminta untuk diberitahu dimana lokasi peti besar berisi penuh koin perak yang mereka curigai di sembunyikan dalam rumah tersebut. Para lelaki ini juga menyiksa istri dan anak perempuan di ruang makan dan akhirnya membunuh mereka.

Ketika tubuh mereka di temukan, orang-orang berkata itu adalah salah satu kejahatan paling mengerikan, berdarah dan paling jahat yang pernah ada di daerah itu. Sang istri dan anak gadisnya hampir sepenuhnya terpotong-potong. Penduduk Monterrey dikejutkan dan dicemaskan dengan pembunuhan yang sadis.

Polisi yang menghadapi kasus ini sangat kesulitan untuk melakukan investigasi karena tak ada tanda atau petunjuk bahwa pintu utama telah di dobrak dan tidak satu pun saksi mata yang ada dalam kejahatan ini kecuali hewan peliharaan keluarga tersebut.

Hewan peliharaan keluarga ini adalah seekor burung nuri dan terbukti bisa menjadi alat untuk menangkap pembunuhnya. Sementara polisi menyelidiki rumah itu, nuri peliharaan itu mulai bersuara “No me mates, Gabriel! No me mates, Gabriel!” dimana itu berarti “Jangan bunuh aku, Gabriel! Jangan bunuh aku, Gabriel!”.

Mereka lalu menyadari bahwa burung nuri itu mengulangi kata-kata terakhir dari pemiliknya. Polisi lalu menanyakan hal ini kepada suami keluarga tersebut dan mendapatkan bahwa nama keponakannya adalah Gabriel. Mereka akhirnya menahan Gabriel dan setelah ditanya-tanya, dia mengaku membunuh kedua wanita itu. Dia memberitahu polisi bahwa dia telah merencanakan untuk merampok rumah itu dengan kedua saudaranya yang memiliki tempat penjagalan hewan.

Ketiga pembunuh itu akhirnya di tahan oleh polisi dengan memberikan mereka hukuman khusus dari pengadilan yang biasa diterapkan di Mexico beberapa tahun lalu. Mereka menyebutnya dengan “Hukum Terbang” atau “Hukum Melarikan Diri”. Polisi mengantar ketiga penjahat itu ke suatu padang pasir, kemudian membiarkan mereka untuk melarikan diri sementara mereka ditembaki ketika berlari. Tubuh mereka akhirnya di bawa kembali ke kota Monterrey dan dipamerkan jadi semua orang di daerah itu bisa melihatnya.

Sejak kejadian tersebut, rumah di Monterrey ini dipenuhi oleh beberapa kejadian supranatural. Banyak orang melaporkan melihat hantu dari kedua wanita yang dibunuh mengendap-endap dalam ruang makan. Yang lain mengatakan, pada malam hari, mereka biasa mendengar tangisan yang memilukan dari ibu dan anak perempuan itu, memohon kepada pembunuhnya dan menjerit, “Jangan bunuh aku, Gabriel! Jangan bunuh aku, Gabriel!”.

Kamar tidur utama di rumah ini berisi sebuah gambar dari sang ibu dan mereka bilang bahwa wajahnya telah berubah dan menjadi sangat rusak. Menurut beberapa saksi, perasaan yang mengerikan bisa terasa dalam rumah ini, dan hingga kau meninggalkannya, kau akan diikuti oleh bau yang sangat kuat beraroma asam.

Menurut legendanya, siapa pun yang mendengar jeritan dari kedua wanita malang yang kehilangan nyawa mereka di tempat ini, dikatakan jiwa mereka tidak akan pernah beristrahat dengan damai.

Kisah dari rumah Aramberri telah menjadi terkenal hingga di luar Mexico selama bertahun-tahun dan kini, kasus itu makin mendapat perhatian ketika sepasang reporter mengunjungi rumah itu. Mereka mencari bukti-bukti dari cerita hantu tersebut dan ketika mereka meninggalkan rumah itu, para reporter itu mengalami kecelakaan mobil yang sangat serius. Ketika memutar kembali rekaman yang mereka dapatkan dan menontonnya, mereka bisa mendengar dengan jelas tangisan yang mengganggu dan erangan yang menggaung keluar dari rekaman tersebut.

Rumah itu akhirnya telah ditutup untuk umum karena anak-anak pemuda sering menyelinap masuk dan menerobosnya, berharap menyaksikan suatu kejadian supranatural. Pemerintah lalu mendirikan pagar kawat yang besar di depan rumah itu, tapi pemandangan dalam rumah masih dapat terlihat dari sisi jalan. Penduduk setempat mengatakan jika kau berjalan melewati rumah itu pada malam hari, kau bisa mendengar tangisan-tangisan dari jiwa yang kesakitan dan kadang kala, jika kau melihat ke dalam jendela, kau bisa menangkap sekelebat bayangan figur hantu yang tak pernah meninggalkan La Casa de Aramberri.

La Muerto Blanco

La Muerto Blanco atau White Death adalah sebuah cerita seram tentang arwah yang sangat jahat di Mexico yang mengincar orang-orang yang mengetahui keberadaannya. Kisah ini bercerita tentang orang yang menghadapi White Death.

Gambar

Saya sekarang tengah duduk di depan komputerku, takut sebodoh-bodohnya. Tiap saat bisa menjadi saat-saat terakhirku. Temanku disini bersamaku dan dia lah satu-satunya alasan mengapa hidupku berada dalam bahaya. Ini tidak masuk akal pada awalnya, tapi biar saya jelaskan.

Ini dimulai pada pagi hari ini, ketika seorang temanku berlari tergesa-gesa ke dalam rumahku dan membanting pintu yang ada dibelakangnya. Matanya terbelalak lebar dengan rasa takut yang tergambar disana, dan dia berdiri dengan membelakangi pintu, nafasnya berat. Saya menanyakan apa yang terjgadi dan dia akhirnya menceritakan cerita ini.

Dia dulu tinggal bersama bibinya beberapa tahun lalu karena kedua orangtuanya berada di Mexico. Mereka ditugaskan sebuah misi oleh rumah sakit kecil di Mexico Selatan. Pada malam yang lalunya, seorang pria terbata-bata di pintu masuk rumah sakit. Dia berteriak dengan bahasa Spanyol dan mengeluarkan segala ketakutan yang ada di pikirannya.

Mereka lalu memberi sebuah kursi dan mempersilahkannya duduk. Setelah dia mengatur nafasnya, dia menceritakan suatu cerita dalam bahasa Inggris yang rancu. Dia mengaku bahwa saudarinya telah terbunuh oleh sesuatu yang dikenal sebagai “La Muerto Blanco”. Dia terus mengucapkan bahwa makhluk itu akan datang berikutnya untuk dia.

Terheran-heran, mereka menanyakan siapa atau apa itu Muerto Blanco. Dengan ketakutan yang tak dipahami tampak di wajahnya, dia menjelaskan bahwa La Muerto Blanco adalah White Death. Dia adalah arwah seorang gadis yang mati beberapa tahun lalu. Dia mati dengan tangannya sendiri, katanya, dia tewas kesepian dan tak pernah dicintai. Dia sangat membenci hidupnya sehingga dia ingin menghapus semua jejak dirinya di muka bumi ini. Keinginannya yang sangat kuat untuk menutup semua kenangan dirinya, membuatnya bangkit kembali dari kematian sebagai arwah yang menuntut balas, membunuh semua yang mengetahui keberadaannya.

Dia adalah seorang gadis, namun juga bukan gadis biasa. Dia tidak mati, tapi juga tidak hidup. Dia memiliki mata hitam dan dingin yang meneteskan darah. Dia berjalan tanpa dilihat bergerak sedikit pun. Dia mengintai korbannya seperti binatang buas, mengejar mereka menembus sungai dan bukit, menyeret kembali ke rumah mereka. Kau tak pernah tahu bahwa dia mengikutimu, hingga kau mendengar kisahnya mengetuk pintumu.

“Awalnya dia akan menyentuh kulitmu, dimana dia akan menggunakannya untuk menambal dagingnya yang telah membusuk. Kedua pada rambutmu, dimana dia akan menggeretakkan gigi-giginya. Ketiga pada tulangmu, dia akan merubahnya menjadi raungan. Keempat adalah jantungmu, dimana dia akan merobek dadamu. Kelima pada gigi-gigimu, dia akan menggosoknya dan menaruhnya dalam sebuah kotak. Keenam pada matamu, mencongkelnya keluar satu per satu. Ketujuh adalah jiwamu, dimana dia akan menelan semuanya.”

“Tak peduli dimana kau berada, White Death akan mengincarmu dan kau akan mendengar ketukan yang menakutkan dimulai dari pintumu. Kau bisa mencoba untuk lari darinya, tapi dia lebih cepat dari semua manusia yang ada. Jika kau melarikan diri dari rumah ketika dia mengetuk pintumu, dia akan mengikutimu kemana pun kau pergi.”

Pria yang ketakutan itu yakin bahwa makhluk itulah yang telah membunuh saudarinya. Dia sudah mencoba memberitahukan kepada polisi, tentang White Death tapi mereka tidak mau mendengarkannya, menganggap hal itu adalah cerita lama. Berikut dia memberitakukan kepada pendeta, tapi pendeta itu segera menutup pintu gereja dihadapannya dan pergi meninggalkan dia. Pendeta itu melihat White Death tengah mengikutinya, dia bilang, dan mereka tidak ingin terlibat.

Dengan wajah yang tertutup dengan tangannya, pria itu mengatakan bahwa White Death mengikutimu selamanya hingga kau memberitahukan orang lain tentangnya. Dan saat itu juga, dia akan membunuhmu dan mulai mengikuti orang-orang yang kau beritahu.

Setelah menyelesaikan ceritanya, pria itu mencuri sebuah mobil dari tempat parkir rumah sakit, dan hilang dalam gelapnya malam.

Tampaknya, ayah dan ibu temanku telah menghubungi bibinya dan memberitahukannya tentang makhluk aneh yang mereka jumpai. Mereka menanyakannya apakah dia pernah mendengar tentang White Death. Dia bilang dia tidak pernah dan mereka lalu menceritakan cerita yang pria tadi beritahu kepada mereka.

Bibinya setelah itu mendapat sebuah panggilan telepon malam itu. Itu adalah kepolisian Mexico. Mereka memberitahunya bahwa orangtuanya telah ditemukan tewas di luar rumah sakit. Mayat mereka terpisah-pisah.

Bibi temanku ini lalu segera menghubunginya di sekolah untuk mengabarkan kabar buruk ini kepadanya. Ketika dia menangis, bibinya mengatakan dia tidak mengerti apa yang telah terjadi. Dia menceritakan ulang semua cerita tersebut kepadanya, memberitahu tentang seorang pria aneh yang berada di rumah sakit sebelum orangtuanya ditemukan tewas. Dia mengatakan bagaimana pria itu telah membagikan cerita yang aneh dan tak mengenakkan tentang sesuatu yang disebut White Death.

Ketika temanku menutup telepon itu, dia berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Itu hampir tak dapat dipercaya olehnya. Ketika dia pulang ke rumah setelah sekolah berakhir, dia menemukan pintu depan rumah bibinya telah terbuka lebar. Di dalamnya ada sebuah jejak-jejak berdarah, yang bercucuran hingga ke dapur. Di lantai dapur itu, dia menemukan bibinya sudah tak bernyawa lagi. Tubuhnya pun sudah robek terpisah-pisah menjadi beberapa bagian.

Dia lari dari rumah itu dan sepanjang jalanan di kota, tak pernah memandang ke belakang, hingga dia mendapati rumahku. Ketika dia menceritakan cerita ini padaku, saya betul-betul tak dapat mempercayainya. Walau di sepanjang hari itu, ibu, ayah, dan bibinya telah tewas terbunuh. Tapi kelihatannya itu sangat mustahil.

Namun sebelum saya dapat mengucapkan sepatah kata pun, temanku dan saya terjebak dalam ketakutan ketika kami mendengar sebuah ketukan bermula dari pintu depan rumahku.

Kami terus memandangi pintu itu sudah sejam yang lalu, tak satu pun dari kami berdua ingin membukanya. Ketukan itu terus terdengar, makin besar dan semakin membesar. Dia tidak menyerah. Dia tidak pernah pergi. La Muerto Blanco tidak terhentikan. Saya berpikir dia ingin menakuti kami, saya dan teman saya. Saya rasa dia ingin menyalahkan kami berdua. Dan memang –saya menyalahkan temanku. Ini semua kesalahannya. Dia seharusnya tak pernah menceritakannya kepadaku.

Saya terduduk dalam rumahku, tepat disampingnya, kami berdua mendengar suara ketukan itu makin membesar, saya berharap banyak hal. Saya harap dia membunuh temanku sebelum dia datang ke rumahku. Jika dia tak pernah menyampaikannya kepadaku, saya tak akan dalam bahaya sekarang. Saya menyesal pernah bertemu dengannya.

Dan saya sangat menyesal untukmu juga. Saya minta maaf telah membuatmu membaca cerita ini. Saya menyesal saya memberitahukamu tentang La Muerto Blanco. Karena ketika kau mengetahuinya, berikutnya dia akan datang kepadamu.

La Pascualita

La Pascualita atau Pascuala Kecil adalah sebuah manekin pengantin yang ‘hidup’ dalam sebuah etalase toko di kota Chihuahua, Mexico sejak 75 tahun yang lalu. Ini merupakan urban legend yang ada di Mexico.

Gambar

Merupakan waktu yang lama untuk sebuah toko gaun pengantin untuk mempertahankan sebuah manekin yang tua, jika bukan memiliki sejarah yang aneh dibelakangnya. Menurut urban legend-nya, La Pascualita sama sekali bukanlah sebuah boneka, tapi merupakan mayat seorang anak perempuan dari pemilik toko tersebut yang sangat terjaga dengan baik.

Selama bertahun-tahun, cerita dari La Pascualita sudah terdengar dari beberapa pengunjung, termasuk media-media pers, dari seluruh Mexico hingga Chihuahua. Kini, orang-orang dari Amerika Selatan, Amerika Serikat dan Eropa juga berdatangan untuk melihat mayat pengantin tersebut. Orang-orang menutup mulut dan hidungnya seraya memandangi kaca jendela toko itu, memperhatikan boneka itu, dan mencoba mengetahui dengan jelas apakah itu nyata atau bukan. Mereka terperangah oleh tatapan yang mempesona dan bentuk yang sangat nyata. Kebanyakan orang mengatakan bahwa itu adalah benar-benar dia.

La Pascualita pertama kali diletakkan di etalase itu pada tanggal 25 Maret 1930, dengan mengenakan gaun pengantin musim semi. Orang-orang kemudian tak bisa melepaskan pandangannya dari La Pascualita, manekin dengan mata yang berbinar-binar, helai rambut yang nyata, dan warna kulit yang mempesona.

Segera, mereka menyadari bahwa manekin itu sangat mirip dengan pemilik toko itu, Pascuala Esparza. Tidak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk menyimpulkan bahwa boneka itu merupakan putri pemilik toko yang sudah dibalsem. Mereka juga mengatakan bahwa anak perempuan Pascuala itu meninggal tepat di hari pernikahannya oleh sebuah gigitan laba-laba beracun Black Widow, mayatnya akhirnya diawetkan bersama gaun pengantin yang melekat ditubuhnya. Nama La Pascualita juga diambil dari nama Pascuala, yang berarti Pascuala Kecil.

Esparza awalnya bersikeras untuk menepis kabar tersebut, namun warga Chihuahua terlanjur percaya dengan rumor itu. Rumor itu makin meluas dan nama La Pascualita kian melekat pada manekin misterius tersebut.

Cerita-cerita menyeramkan juga mengiringi keberadaan La Pascualita. Mereka mengatakan pada malam harinya, manekin pengantin itu akan hidup dan berganti posisi. Ada juga yang mengatakan bahwa matanya kerap mengikuti orang-orang yang melintas di dalam toko pengantin tersebut.

“Setiap kali saya di dekat Pascualita, tangan saya langsung keringat dingin. Tangannya sangat nyata, dia bahkan memiliki varises di kakinya. Saya percaya dia benar-benar seorang manusia.” ungkap Sonia Burciaga, sang penjaga kedai.

Ada yang percaya, namun ada pula yang tidak percaya. Salah satunya adalah sebuah situs yang bernama The Museum of Hoaxes mengatakan bahwa manekin itu hanyalah boneka biasa, karena mustahil mengawetkan mayat manusia dengan begitu sempurna. Kulitnya pun tetap mulus walau sudah berada puluhan tahun disitu.

Bayi Buruk Rupa

Bayi Buruk Rupa merupakan urban legend dari Mexico yang menceritakan tentang seorang anak yang lahir dengan cara yang buruk, di sebuah rumah sakit bersalin yang kecil di kota itu pada malam yang menyeramkan.

Gambar

Menurut legendanya, cerita ini bermula beberapa tahun lalu di sebuah rumah sakit kecil di kota Chihuahua, Mexico. Ketika itu Senin malam di bulan Maret yang hujan. Seorang wanita hamil digiring ke dalam ruang darurat rumah sakit itu, setelah terjatuh di lantai di rumahnya. Wanita malang ini merasakan sakit yang bertubi-tubi, kondisinya pun kian mencemaskan. Dia mengalami pendarahan dalam dan dokter mengatakan dia harus dioperasi segera.

Wanita ini tahu bahwa dirinya sekarat, tapi dia tetap ingin menyelamatkan bayinya. Dokter lalu mempersiapkan segala hal untuk melakukan operasi ‘Caesar’ -satu-satunya cara yang memungkinkan. Ketika wanita ini akhirnya tak bisa terselamatkan di meja operasi, setelah mereka menyayat perutnya untuk dibuka. Ahli bedah meraih ke dalam perutnya dan mendapatkan bayinya, namun sayang mereka juga tak dapat menyelamatkannya. Bayi itu diangkat dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi.

Itu adalah bayi terburuk yang pernah mereka lihat, kulitnya berwarna abu-abu bercampur kebiru-biruan yang menggambarkan tak ada kehidupan. Kepalanya rusak dan belum terbentuk dengan sempurna, wajah bayi tersebut menggelayut dan mengerut persis seperti kulit orang tua.

Perawat secepatnya mengambil bayi tersebut dan membawanya ke ruangan khusus, dimana terdapat tempat tidur untuk bayi yang baru lahir. Bayi itu sangat buruk rupa dan langsung menjadi pembicaraan yang hangat seluruh perawat dan karyawan yang ada di rumah sakit itu, tentang bagaimana menyeramkannya kejadian itu. Mereka semua bergantian ke ruangan dimana bayi itu berada, hanya untuk melihat dengan jelas menggunakan mata kepala mereka sendiri.

Dua orang perawat juga ingin membuktikan kejadian tersebut dan masuk ke kamar bayi itu. Ketika mereka dapat melihatnya, mereka langsung merasa jijik dan tak mampu untuk melihatnya untuk kedua kali.

“Oh Tuhan..” kata seorang dari mereka, “..itu sangat buruk!”.

“Sungguh lebih baik jika itu sudah tak terselamatkan.” kata perawat yang satunya lagi.

Tiba-tiba mata dari bayi buruk rupa itu terbuka dan mulutnya mulai bergerak-gerak. Dari tenggorokannya keluar sebuah suara mengerang, lalu perlahan-lahan dengan suara yang serak dia mulai berbicara, “Saya mungkin bayi yang buruk yang pernah ada, tapi yang lebih buruk akan terjadi pada kalian berdua pada hari Kamis pukul 3 sorenya.”.

Lalu bayi itu menutup kembali matanya dan kembali tenang seperti sedia kala. Kedua perawat tadi sudah langsung berlari keluar ruangan dengan menjerit-jerit dan menangis histeris. Rekan-rekan mereka lalu memberi perawatan kepada mereka agar bisa menenangkan diri. Beberapa waktu kemudian, akhirnya mereka dapat menceritakan kepada semua yang ada disitu tentang apa yang baru saja mereka alami. Namun tak ada yang percaya pada cerita mereka.

Dokter yang memeriksanya kembali, memeriksa organ-organ tubuh bayi itu, tetap mengatakan bahwa bayi itu sudah meninggal, seperti saat pertama kali dikeluarkan dari perut ibunya. Setelah itu, kedua perawat tadi makin ketakutan dan mulai gemetaran. Mereka memutuskan untuk meminta ijin tidak masuk bekerja selama 2 hari karena masih merasakan takut. Psikiater rumah sakit itu lalu mencoba memberitahu mungkin itu hanya imajinasi mereka, hanya pikiran mereka saja.

Di hari itu kedua perawat tersebut akhirnya bisa kembali bekerja. Beberapa jam di rumah sakit itu, mereka mengalami suatu kecelakaan yang aneh yang membuat mereka tewas seketika. Sore itu, sebuah tabung penyimpanan gas bocor di ruangan dimana hanya kedua perawat itu berada, lalu meledak dan menewaskan mereka di tempat.

Peristiwa itu terjadi hari Kamis pukul 3 sore, sesuai dengan yang bayi buruk rupa itu ramalkan.