Tensu Metsu

Tensu Metsu adalah urban legend tentang teror yang menghadang orang-orang yang berjalan di sekitar jalanan pegunungan. Suatu waktu seorang ibu membawa anaknya berkendara. Ketika mobil itu mogok sekitar pegunungan yang sunyi, mereka kemudian melihat penampakan yang mengerikan. Cerita ini berdasarkan cerita yang ada di Jepang.

Gambar

Seminggu yang lalu, saya tengah mengemudi pulang ke rumah dan anak perempuanku bersamaku di mobil saat itu. Saya tengah tergesa-gesa, jadi saya memutuskan untuk menyusuri jalan singkat yang melalui sebuah pegunungan yang sunyi. Tiba-tiba, di tengah-tengah perjalanan, mesin mobilku mulai tersendat-sendat dan tidak lama berhenti jalan.

Ketika saya melihat telepon genggamku, tidak ada sinyal sedikit pun. Kami benar-benar terjebak, di dalamnya pegunungan. Saya tidak tahu harus berbuat apa dan langit saat itu mulai gelap. Tidak ada tempat pengisian bahan bakar dekat situ dan tidak satu pun yang tampak melintasi jalan itu.

Sudah jelas kami harus menghabiskan malam ini di dalam mobil saja dan berharap ada yang melintas, berhenti dan memberi kami tumpangan. Matahari sudah tenggelam di balik gunung dan udara mulai dingin. Sebuah perasaan ngeri di balik heningnya suasana pegunungan di malam hari muncul dan yang terdengar hanyalah desiran angin yang menembus pepohonan.

Putriku sudah tidur di kursi penumpangnya, saya pun menutup mataku dan mulai terlelap ketika saya mendengar suara yang lainnya.

Suara itu seperti suara seseorang.

Saya tidak bisa mengatakan dengan jelas apa itu. Kedengarannya seperti ocehan.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Awalnya, saya kira ini mimpi, tapi suara itu makin dekat dan kian mendekat. Saya membuka mataku dan melihat di sekelilingku.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Sesosok gelap lalu muncul dan mendekati mobil. Yang ku lihat hanyalah sebuah bayangan. Tampak seperti seorang pria yang kelihatannya tengah menyeret-nyeret kakinya.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Tiba-tiba, suara itu berhenti. Berganti dengan ngerinya keheningan malam yang kembali.

Tidak lama, saya melihat dengan terperanjat ketakutan. Di samping itu, saya harus menghentikan diriku untuk tidak berteriak sekencang mungkin.

Berdiri di jendela penumpang sosok paling menyeramkan yang pernah ku lihat. Seperti seorang pria, tapi wajahnya sangat buruk dengan garis-garis wajah yang menakutkan. Penampakannya benar-benar membuatku tak bisa berkata-kata. Tampak seperti tiap bagian dari kulit wajahnya terkelupas dan yang tersisa hanya darah dan urat-uratnya.

Dia tidak punya hidung. Tidak punya telinga, sorot matanya tajam menembus kaca jendela itu.

Saya lalu memutar kunci kontak mobilku dan mencoba menyalakannya, tapi tidak ada gunanya. Mobil itu hanya bergetar sebentar dan mati.

Di luar jendela itu, pria yang mengerikan itu mengeluarkan sebilah pisau. Dia mulai menggumam ulang-ulang sendirian.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Tiap kali dia mengatakan itu, dia menusuk jendela itu dengan pisaunya – memukul dengan keras dan semakin beringas tiap kalinya. Saya terus mencoba menyalakan mesin mobilku. Airmata sudah dari tadi mengalir di wajahku. Saya benar-benar tak berdaya untuk keluar dari sana.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Tiba-tiba, hantaman yang keras terdengar dari jendela penumpang. Kacanya pecah – menyebar ke seluruh tubuh putriku. Saya berteriak semakin histeris. Tangan pria itu menembus jendela dan masih menggenggam pisau tajamnya, sembari mengacungkannya ke arahku.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Tidak lama dari situ, ketika saya memutar sekali lagi kunci mobilku, entah bagaimana mesin itu berderung hidup. Sontak saya menginjak pedal gasnya dan membawa mobil itu lari dari cengkeram makhluk menyeramkan itu. Saya terus memacunya di tengah jalanan sempit pegunungan, meninggalkan pria itu di belakang.

Saya tidak tahu kemana kami pergi, saya hanya terus mengemudi dan memacu mobilku, tanpa pernah memandang ke belakang lagi.

Ketika itulah saya menyadari bahwa anak perempuan tidak pernah bergerak. Ketika aku berhenti untuk melihatnya, saya lalu menemukan dirinya bergumam sendiri.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Seketika bulu kudukku berdiri.

Wajah putriku memucat dan dia gemetar. Saya mengguncang tubuhnya, berusaha menyadarkannya, tapi ketika dia membuka matanya, yang ada dia sungguh membuatku ketakutan.

Matanya berputar ke belakang – saya hanya melihat bola putih matanya. Dia mengencangkan rahangnya dan mulai mengeluarkan busa dari mulutnya. Wajahnya berubah. Dia bahkan tidak terlihat seperti putriku lagi. Dia hanya terus mengerang, lagi dan lagi.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Saya melanjutkan memacu mobilku dan akhirnya sampai di riuhnya perkotaan. Kami langsung ke gereja dan saya memarkirkan mobilku di sampingnya. Memapah tubuh anakku, saya kemudian membawanya masuk ke gereja dan berteriak meminta tolong.

Seorang pendeta tua muncul di depan pintunya dan menanyakan apa yang terjadi. Saya menceritakan seluruh yang ku temui di jalan pegunungan. Dia memandang putriku, lalu mengambilnya dari lenganku dan membaringkannya di altar gereja.

Saya hanya melihatnya, sambil menangis dan gemetar karena ketakutan, pendeta itu mengambil sebuah rosari dan menggengam salib kayu di hadapan putriku. Tidak lama kemudian, dia mulai membaca doa-doa dalam bahasa Latin.

Pendeta itu mengijinkan kami untuk tinggal di sana malam itu. Dia membawa putriku di kamar yang lain dan menjaganya semalam penuh, menggenggam tangannya, membalurinya dengan air suci seraya membacakan ulang doa-doa untuknya. Dia juga menaruh sebuah alkitab di dadanya dan sebuah scapula di lehernya.

Dia memberitahu bahwa putriku tengah dirasuki oleh iblis dan dia harus melakukan ritual eksorsis untuknya. Dia bilang jika itu tidak dilakukan dan putriku dibiarkan terus begitu hingga 49 hari, dia tidak akan pernah sembuh lagi. Dia akan sepenuhnya kehilangan kesadarannya.

Pendeta itu menyuruhku untuk mempercayakan anak perempuanku padanya jadi dia bisa melakukan ritual yang seharusnya. Dia juga bilang kalau saya tinggal, ada kemungkinan iblis itu juga bisa beralih merasukiku.

Sudah seminggu sejak anak perempuanku mengalami hal itu dan pendeta itu masih merawatnya. Saya mengunjunginya tiap hari. Ini membuatku merasa dia tidak seperti putriku lagi. Dia hanya menyeringai dan menatapku dengan pandangan mengerikan.

Saya benar-benar ingin putriku kembali.

Jika kau nanti menemukan dirimu tengah berkendara sendiri di pegunungan, apapun itu, jangan pernah berhenti …

Foto Hitam Putih

Foto Hitam Putih adalah cerita seram tentang sekumpulan muda-mudi yang pergi berkemah dan tanpa sengaja lewat di depan sebuah gubuk tua di pegunungan. Cerita ini berdasarkan cerita yang ada di Jepang.

Gambar

Ketika saya masih sekolah, saya pergi berkemah di gunung dengan ketiga teman baikku. Setelah kami mendirikan tenda, kami berncana untuk mengarungi area sekitarnya. Setelah berjalan-jalan selama satu jam, kami mulai lelah dan langit juga sudah mulai gelap. Saat itu memang sudah waktunya untuk kembali ke kemah.

Lalu kemudian, tanpa sengaja kami melewati sebuah gubuk tua yang terbengkalai. Penasaran, kami semua memutuskan untuk memeriksanya. Ketika saya mengingat kembali tentangnya, seharusnya saat itu kami meninggalkan tempat itu begitu saja dan kembali ke kemah kami.

Gubuk tua itu sudah sangat buruk dan kayu-kayunya sudah mulai lapuk dan membusuk. Salah satu temanku mencoba untuk membuka pintunya, tapi pintu itu terasa sulit untuk dibuka. Kami semua kemudian beramai-ramai untuk menariknya dan memaksa pintunya terbuka.

Di dalam gubuk itu, debu dan sampah berserakan di lantainya. Ada sebuah meja di sana dan di sampingnya, sekumpulan kertas suratkabar tersusun di sana. Tampaknya tempat ini sudah lama tidak ditinggali pemiliknya.

Saat temanku melihat-lihat sekeliling gubuk itu, saya mengambil salah satu suratkabar yang ada di sana. Tanggalnya menunjukkan tahun 1961. Saya kemudian penasaran siapa yang tinggal di gubuk ini di tahun itu.

Saya membuka halaman demi halaman dari suratkabar itu hingga saya sampai di salah satu halamannya – yang paling belakang. Ada sebuah artikel di halaman depannya yang tampak familiar. Saya melihat tanggal dari suratkabar itu dan menyadari bahwa suratkabar itu baru saja di sini beberapa hari yang lalu.

Ada seseorang yang benar-benar tinggal di sini.

Saya merasa tidak nyaman, perutku terasa mual.

Tidak lama kemudian, salah satu dari temanku menyahut, “Wow!”

“Ada apa?” tanyaku.

“Ketika aku membuka laci mejanya, keluar ini …” katanya, seraya menunjuk ke foto-foto hitam putih yang ada di lacinya.

Dia mengambil foto-foto itu keluar dan kami semua melihatnya. Awalnya saya tidak tahu apa yang ku lihat. Ada gambar-gambar dari dua orang gadis yang duduk di kursi. Foto-foto itu tampaknya diambil dalam gubuk itu. Ketika melihatnya lebih dekat, saya lalu menyadari bahwa gadis-gadis itu tengah diikat dan ditawan. Mimik wajah mereka mengerikan.

“Oh, Tuhan!” sahut salah satu temanku.

“Ini aneh,” kataku. “Ayo cepat keluar dari sini … lekas!”

Kami meninggalkan gubuk itu secepatnya dan mulai menyusuri perjalanan panjang ke tempat berkemah kami. Saat itu langit sudah gelap dan kami terbiasa melihat dari balik pundak kami ke belakang – memastikan tidak seorang pun mengikuti.

Malam itu, tidak satu pun dari kami bisa terlelap. Kami terus terjaga di dalam tenda dan mengobrol tentang foto-foto hitam putih yang aneh itu. Kami semua ketakutan karenanya.

“Mungkin kita harus melaporkan hal ini kepada polisi.” saranku.

“Mari lupakan semua yang terjadi hari ini.” timpal temanku.

Semuanya lalu sepakat.

Keesokan paginya, kami mengepak barang-barang kami dan berkendara pulang ke rumah. Temanku menurunkanku di depan rumahku. Ayah dan ibu sedang keluar untuk berakhir pekan, jadi saya masuk sendiri mengangkat tasku dan langsung naik ke atas untuk segera mandi.

Ketika saya membuka pintu kamarku, saya benar-benar terperanjat.

Di dindingnya berbaris foto-foto hitam putih. Foto-foto yang sama yang kami temukan di dalam gubuk itu.

Lukisan yang Aneh

Cerita ini tentang lukisan aneh yang terdapat di sebuah sekolah. Jika kamu jeli, cerita ini bisa menjadi sangat menyeramkan. Mari kita lihat apakah kamu bisa menemukan keanehannya.

Gambar

illustrasi dari http://mixppl87.blogspot.com/

Suatu hari saya ditugaskan untuk membersihkan ruang kesenian di sekolah. Saya ingin pulang ke rumah secepatnya, jadi saya melakukan itu dengan cepat ketika saya menyadari sebuah lukisan yang tergantung di dindingnya. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita yang sangat cantik tapi sedikit menakutkan, dan ada sebuah pandangan mencurigakan tersirat dari matanya. Rasanya seperti tengah ditatap oleh mata-mata yang besar. Saya merasa sedikit takut jadi saya secepatnya menyelesaikan tugasku dan pulang ke rumah.

Hari berikutnya sekolah mengalami kegaduhan. Lukisan di ruang kesenian itu dicuri. Karena saya orang terakhir yang melihatnya, guru kesenian kemudian memanggilku untuk bertanya beberapa pertanyaan.

“Jadi kau bilang lukisan itu masih di sana ketika kau membersihkan.”

“Benar. Apa lukisan itu mahal?”

“Lukisan itu berjudul ‘Sleeping Beauty’ dan itu diberikan oleh temanku yang seorang seniman. Dia melukiskannya dengan melihat anak perempuannya yang tengah tertidur. Lukisan itu tidak mahal. Tapi baik pelukis dan anak perempuannya kini telah meninggal.”

“Oh, saya mengerti …”

Lukisan itu kemudian tidak pernah ditemukan. Anehnya mereka tidak menemukan satu pun jejak pencuri atau seseorang yang menyusup masuk ke dalam sekolah.

Apartemen Blok 9 Eunos Crescent

Cerita ini merupakan pengalaman dari seorang penjaga apartemen di Singapura, tepatnya di Blok 9 Eunos Crescent. Kejadian itu terjadi pada bulan ke 7 dari penanggalan Cina dan seperti biasa, di saat-saat seperti itu memang dikenal sebagai bulan di mana hantu-hantu bergentayangan.

Gambar

Saat itu saya tengah berpatroli dengan rekanku pada pukul 3 lewat dinihari, ketika kami menerima sebuah laporan dari Pos Divisi Penjaga untuk melayani keluhan dari salah satu penghuni blok apartemen.

Kami tiba di sana dan mengetuk pintu apartemen itu sekitar 10 menit kemudian. Pintu itu dibuka oleh seorang wanita yang berusia kira-kira di awal 20 tahunan. Dia menggunakan sebuah handuk untuk menutupi tubuhnya – dia histeris. Wanita itu menggenggam sejumput bawang putih dan sebuah salib di tangannya, serta sebilah pisau di tangan yang satunya.

Dia tampak mulai tenang ketika melihat kami dan segera mengajak kami masuk ke rumahnya dan mengantar kami ke dapur. Dia berbicara dengan penuh semangat dan terlalu cepat, sehingga membutuhkan waktu bagi kami untuk mencernanya. Saya lalu bilang padanya untuk menaruh pisau dan barang-barang lain yang dibawanya terlebih dahulu – dia hanya menaruh pisau itu, tidak dengan bawang putih dan salib yang masih di tangannya. Katanya itu untuk melindungi kami. Lalu lanjut mengantar kami ke dapurnya.

Di dalam dapur kami melihat sebuah gelas seperti telah dibanting, dengan sebuah cairan yang kami yakini adalah kopi. Ada juga beberapa laci tergeletak di lantai dengan isi yang berhamburan keluar di sekeliling dapur. Ada bau yang menyengat seperti kotoran dan beberapa oli hitam yang tebal di lantainya. Juga beberapa pakaian yang compang-camping.

Wanita itu kemudian mengiring kami melihat jendela dapurnya dan menunjuk ke sebuah pohon yang berada sekitar 10 meter dari jendela itu. Dia kemudian bertanya kepada kami, “Kalian lihat dia?” Saya jawab, “Lihat apa?”

Dia melihat kami dengan tatapan tak percaya, dan bertanya lagi. “Kalian lihat sosok itu?” Sekali lagi saya menjawab, “Sosok apa? Bu, tidak ada apa-apa di sana!”

“Pak, apa kau buta, di sana ada sesosok laki-laki yang berdiri di ranting pohon itu, dan tangan kanannya sedang menggenggam kepala buntungnya, tersenyum dan melihat kita sekarang!”

Berdua, saya dan rekan segera memperhatikan lama-lama ke arah pohon itu tapi tak satu pun dari kami melihat sesuatu. “Ibu, apa kau sedang mengkomsumsi obat-obatan?” Dia menggelengkan kepalanya. “Apa kau mengatakan bahwa ada seorang laki-laki berkepala buntung di ranting pohon yang ada di luar rumahmu dan dia menggenggam kepala di tangannya?” Dia mengangguk.

Saya menoleh ke rekanku dan mengatakan “32”, rekanku itu juga menganggukkan kepalanya. (32 adalah kode polisi yang mengisyaratkan Orang Gila). Saya menoleh kembali kepadanya dan mengatakan, “Bu, tidak ada apa-apa di luar! Dan saya rasa itu hanya imajinasimu yang terlalu keras bekerja.”

 

Wajahnya mendadak pucat dan kami mengantarnya kembali ke ruang tamu, dan beginilah ceritanya selanjutnya berjalan.

 

Janet – bukan nama sebenarnya, adalah seorang warga negara Singapura keturunan China dan telah menikah dengan suaminya yang kini masih berada di Malaysia karena pekerjaannya. Mereka baru saja pindah kemari 3 bulan setelah pernikahan mereka.

Suaminya Jack – juga bukan nama sebenarnya, adalah seorang tenaga penjualan oli pelumas dan harus rutin pergi ke negara-negara yang ada di Asia Tenggara untuk melayani kliennya.

Suaminya telah meninggalkannya untuk pergi ke Malaysia pagi-pagi sekali hari ini, dia harus berada di Kuala Lumpur untuk menemui salah satu kliennya.

Janet bilang, “Pak Petugas, apa yang akan saya ceritakan padamu ini, walau tidak biasa dan mungkin terdengar gila atau saya seperti orang yang kecanduan obat-obatan, tapi saya bisa memastikan bahwa 100% saya tidak menggunakan obat-obatan terlarang atau pun gila. Apa yang saya akan ceritakan benar-benar nyata!”

Saat saya tidak bisa tidur, saya mencoba membuatkanku segelas kopi sebelum menonton VCD. Ketika saya masuk ke dapur, saya bisa merasakan sesuatu yang aneh telah hadir. “Perasaan itu seperti seseorang memperhatikanku dari jauh”. Berpikir itu hanya imajinasiku, saya melanjutkan membuat kopiku. Saat itu juga semua lampu mendadak padam, meninggalkanku dalam kegelapan.

Apa yang kucoba lakukan hanyalah menemukan sebuah lilin dan korek api dari salah satu laci di dapur, namun saya melihat seseorang melompat masuk ke dalam dari jendela. Sosok itu kemudian berusaha memperkosaku. Dia menarikku dari tempatku dan memelukku. Tangannya menggerayangi tubuhku. Sosok itu kemudian mencoba menelanjangiku dan akhirnya berhasil merobek piyamaku.

Saya sedang berusaha melawannya, ketika saya menangkap penampakan dari sosok yang menyerangku itu. Dia tinggi, besar dan hitam. Tubuhnya di lapisi minyak yang lengket atau oli mesin. Kedua matanya menyala terang berwarna kuning seperti macan. Saya kemudian berhasil mengambil papan cuci dan memukulnya di kepala dengan itu. Sosok itu menyerah dengan pekikan yang keras setelah kepalanya jatuh menggelinding. Dia lalu bangkit, mengambil kepalanya dan melarikan diri keluar dari dapur dan singgah di ranting pohon yang ada di luar apartemenku. Sosok itu masih duduk di atas pohon itu di luar.

Wanita itu kemudian menunjukkan piyamanya yang robek, yang ada di dapurnya. Di piyama itu, ada dua bekas tangan yang terlihat jelas di permukaannya. Itu bekas tapak yang tercetak dari oli dan lumpur dan tampak jelas sekali.

Ketika rekanku selesai mengirim laporan tentang itu ke Pos Penjaga, Kepala Operator kami menyuruhku menelepon balik. Aku lalu memerintahkan rekanku untuk tinggal bersama wanita itu sementara saya turun ke bawah menggunakan telepon umum.

Saat itu sudah hampir pukul 4. 35 ketika saya berbicara dengan Kepala Operatorku. Dia mengabarkan bahwa ada sebuah mobil yang terlibat dalam sebuah kecelakaan fatal di jalan tol pada pukul 1 dinihari tadi. Mobil itu selip dan terjungkal balik hingga masuk ke sebuah sungai kecil yang ada di sana. Tubuh dan kepala korban kemudian ditemukan terpisah dari kejadian itu. Saya membalasnya, “Sersan, saya masih menangani sebuah kasus juga!” Saya pikir dia ingin saya bergabung dengan kesatuan yang menangani itu. Kadang-kadang ketika sebuah lokasi sulit ditemukan, mereka akan meminta bantuan untuk mencarinya.

“Kapten Christopher, biarkan saya menyelesaikannya.” kata Kepala Operator.

“Dari isi yang ada di dalam dompet korban, diketahui bahwa korban adalah Jack Lim yang tinggal di blok apartemen Ubi Ave. Apartemen itu adalah apartemen yang sama, yang kau tangani sekarang!… Kau harus mengabarkan kecelakaan ini kepada istrinya.”

Saya lalu kembali ke apartemen itu dan memberitahu kabar buruk ini kepada Janet setenang yang saya bisa. Ketika saya memberitahunya, dia goyah dan jatuh ke lantai. Kami membawanya ke ruang tamu dan membaringkannya di atas sofa. Saya kemudian menghubungi Ambulance.

Sambil menunggu kedatangan Ambulance, rekanku dan saya mendengar suara tangisan yang meratap keluar dari dapurnya. Kami pergi memeriksa dari mana suara itu, dan menemukan jejak suara itu berasal dari pohon yang ada di luar. Walau begitu, tak satu pun dari kami bisa melihat sesuatu tapi itu sudah cukup membuat bulu kuduk kami merinding.

Ketika Ambulance datang, Janet dibawa ke rumah sakit. Setelah itu diketahui bahwa dia pun meninggal di malam yang sama tanpa pernah sadar kembali.

Setelah kejadian tersebut, kapan pun saya menangani kasus yang ada di blok apartemen, kenangan itu tidak pernah gagal membuatku bergidik.

Saya harap jiwa-jiwa mereka menemukan kedamaian di mana pun mereka berada.

Taxi de los Muertos

Taxi de los Muertos adalah sebuah urban legend dari Argentina tentang sebuah taksi yang konon menyelinap keluar dari kuburan, hanya untuk menunggu orang-orang yang masuk menjadi korbannya, dan membawa mereka ke sebuah pengalaman menyeramkan hingga menemui kematiannya.

Gambar

Di Argentina ada sebuah legenda urban yang menyebar dari mulut ke mulut. Setiap hari pasti ada orang yang menggunakan taksi, itu adalah sesuatu yang biasa dan kau lakukan tanpa berpikir yang macam-macam. Entah apakah itu telat malam atau hujan deras, kau mungkin lebih memilih taksi untuk membawamu ke tujuan.

Walau begitu, di Argentina orang-orang mengatakan bahwa sebaiknya kau tidak menumpang taksi yang berada di luar kuburan. Jika kau melakukannya, kau mungkin mengijakkan kakimu ke “Taxi de los Muertos” – Taksi Maut – yang menakutkan itu.

Menurut legendanya, taksi yang mematikan ini keluar dari pemakaman, menunggu orang-orang untuk dijadikan korbannya ketika masuk ke dalamnya.

Sebuah kisah terjadi kepada seorang wanita muda Argentina bernama Claudia, yang saat itu tengah dalam perjalanan ke rumahnya di malam hari. Dia telat pulang dari tempatnya bekerja ketika hujan turun dengan deras malam itu. Dia terlalu lelah berjalan menuju ke apartemennya, jadi dia memutuskan menumpang taksi ke rumahnya.

Ketika dia berjalan ke sebuah jalanan sepi yang melewati sebuah pemakaman, dia tiba-tiba melihat sebuah taksi yang datang mendekatinya. Dia mengacungkan tangannya dan menghentikan taksi itu. Ketika taksi itu berhenti, dia masuk dan mengatakan alamatnya kepada sopirnya.

Duduk di kursi belakang, seraya menepikan air hujan dari keningnya, Claudia tiba-tiba merasakan hawa dingin yang begitu hebat – kedinginan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Melihat di sekelilingnya, dia menyadari bahwa jendela-jendela taksi itu tertutupi dengan es. Pada saat itulah dia menyadari juga bahwa mereka telah salah jalan.

Dia baru saja ingin mengatakan sesuatu kepada sopir itu ketika tanpa sengaja dia melihat tangan di belakang kemudi taksi itu. Kulit sopir itu pucat dan kulit serta jari-jarinya hampir menyatu dengan tulang-tulangnya. Dia tidak bisa melihat wajahnya di kaca spion tengah taksi itu.

“Kita sudah salah jalan,” kata Claudia tanpa basa-basi.

Sopir itu tidak menjawabnya, dia terus mengendarai kendaraannya seolah tak pernah mendengar apapun darinya.

Ketika Claudia mengangkat tangan untuk menyentuh pundaknya, sopir itu perlahan-lahan membalikkan kepalanya. Claudia langsung menjerit ketakutan. Wajah sopir itu seperti mayat. Kulitnya membusuk dan hanya melekat di sekeliling tulang tengkoraknya.

Claudia mencoba membuka pintu belakang taksi itu dan berusaha keluar, tapi gagang pintu itu malah terlepas di tangannya. Dia mencoba menurunkan jendelanya tapi tombolnya tidak berfungsi. Dia lalu melihat sepasang muda-mudi berjalan di jalanan, jadi dia berteriak kepada mereka dan memukul-mukul jendela itu, mencoba menarik perhatian mereka. Namun, mereka tidak mendengarnya.

Taksi itu melanjutkan jalannya, dan tampaknya tidak akan berhenti.

Claudia pucat pasi. Putus asa setelah mencoba melarikan diri, dia menyerang sopirnya dan mencakar wajah sopir itu dengan kuku-kukunya. Kulit layu dan menjijikkan itu menempel di kedua tangannya, dan makin menunjukkan tengkorak di baliknya.

Taksi itu mulai menambah kecepatannya, makin cepat dan cepat menembus hujan di jalanan kota itu. Claudia menoleh ke belakang dan di tepat di jendela belakangnya tertulis tanda, “Bersiaplah untuk mati!”

Setelah itu, Claudia tidak pernah terlihat lagi.

Tidak ada yang tahu pasti apakah urban legend ini benar. Satu-satunya yang tahu pasti adalah orang-orang yang diculik oleh taksi maut itu dan mereka tidak akan pernah bisa memberitahu kita tentang apa yang mereka alami. Kita tidak akan pernah tahu, tapi karena itu, berhati-hatilah dan simpan peringatan ini untukmu. Jika kau berjalan di sekitar pemakaman, jangan pernah menumpang taksi.

Ritual Raku-nene

Ritual Raku-nene adalah sebuah ritual yang berasal dari pulau terpencil di Samudra Pasifik. Ritual ini akan memanggil dan mengundang roh jahat yang bernama Raku-nene. Roh ini akan memberitahukan apakah seseorang mencintaimu atau tidak. Juga akan membunuh orang yang kau cintai itu jika mereka menolak atau tidak menganggapmu.

Gambar

Raku-nene adalah sesosok roh jahat dari Kepulauan Gilbert di Samudra Pasifik – beberapa orang menyebutnya Laut Selatan. Di sana ada sebuah ritual yang terkenal dan sering digunakan oleh para penduduk kepulauan. Ritual itu yang melibatkan roh jahat tersebut untuk mengetahui apakah seseorang mencintai mereka atau tidak.

Untuk mengetahui apakah seorang gadis atau laki-laki mencintaimu atau tidak, kau bisa menanyakannya kepada Raku-nene.

Pertama-tama ambillah selembar daun yang panjang – biasanya yang seperti daun kelapa, dan lipat daunnya, tapi hati-hati jangan sampai kau membelahnya menjadi dua. Lalu, genggam itu di antara jemari dan ibujari tangan kananmu dan ayunkan perlahan-lahan seraya mengatakan mantra ini.

“Katakan Raku-nene. Katakan apakah dia mencintaiku, katakan apakah dia mencintaiku. Katakan, katakan, katakan.”

Setelah kau mengulangi mantra itu tiga kali, belah daun itu menjadi dua. Lalu, bungkus kedua jari telunjukmu dengan masing-masing setengah dari daun tadi untuk membandingkannya. Jika kedua belahan daun itu memiliki tinggi yang sama, berarti orang yang kau cintai tidak menyukaimu. Jika belahan itu memiliki tinggi yang berbeda, berarti dia mencintaimu.

Namun karena melibatkan roh jahat Raku-nene, ritual ini tidak jarang digunakan untuk hal-hal yang jahat. Jika seorang laki-laki atau gadis menolak orang yang mencintainya, maka orang itu dapat memanggil Raku-nene untuk membalasnya.

Untuk melakukan ritual ini, kau harus mengambil sehelai rambut dari kepala laki-laki atau gadis itu dan bungkus rambut itu di sekeliling pahamu. Rambut itu harus tetap berada di pahamu selama tiga hari dan ketika pagi hari di hari yang keempat, bakar rambut itu di atas tumpukan dedaunan.

Melakukan ritual ini akan mengundang roh jahat Raku-nene untuk menghukum orang yang kau cintai. Roh itu akan membuat orang itu merobek-robek pakaiannya, membuat wajah mereka rusak, menyiksa dan akhirnya membunuh orang itu.

Selama bertahun-tahun, banyak orang menyaksikan kematian yang disebabkan oleh Raku-nene di Kepulauan Gilbert. Pada suatu petang, seorang gadis muda ditemukan terbaring tanpa sehelai pakaian di lantai kamar tidurnya, mengerang kesakitan. Wajahnya panas seperti terbakar dan tubuhnya membengkak luar biasa. Matanya terbuka lebar, menatap ke atas dengan biji mata yang membesar.

Ketika seseorang menanyakan mengapa tak seorang pun menolong gadis itu, para penduduk hanya mengatakan tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Seorang laki-laki yang ditolaknya sudah mengutuknya dan menyerahkan Raku-nene untuk membunuhnya. Dia lebih baik mati karena tidak ada jalan untuk menyelamatkannya.

Gadis itu mulai semakin keras menggelepar kiri-kanan, mencakar kulitnya sendiri dan menggigit orang-orang yang berusaha mendekatinya. Tiba-tiba, dia mulai memekik, “Raku-nene! Raku-nene!” berulang-ulang. Lalu, dengan tatapan yang mengerikan, tubuhnya menjadi kaku hingga nyawanya melayang.

Setelah itu, ketika otopsi digelar, tidak satu pun penyebab kematian dapat di temukan. Gadis itu dinyatakan sangat sehat, dan tidak ada alasan yang dapat membuatnya meninggal, tapi nyatanya memang demikian.

Seiring waktu, ritual ini menjadi kian terkenal dan makin banyak kematian terjadi karena hal ini. Pemerintah Kepulauan Gilbert lalu mengeluarkan peraturan tentang ritual tersebut dan siapa pun yang mencoba mengundang roh jahat Raku-nene akan dijebloskan dalam penjara.

Bake-neko

Bake-neko atau Setan Kucing merupakan makhluk supranatural yang ada di cerita rakyat Jepang. Bake-neko sejatinya merupakan kucing biasa yang berubah menjadi setan yang menakutkan. Menurut legendanya, dia bahkan bisa mengubah wujudnya menjadi sesosok manusia. Bake-neko memiliki arti “Kucing Setan” atau “Kucing yang mampu berubah wujud”.

Gambar

Pada masa yang lampau di Jepang, ada banyak takhyul mengenai kucing. Banyak orang percaya bahwa seekor kucing bisa menjadi kucing setan yang menakutkan, dan disebut Bake-neko, jika kucing itu telah hidup di tempat yang sama selama 13 tahun dan memiliki berat 3 kilogram lebih.

Ada yang bilang Setan Kucing itu bisa berjalan dengan dua kaki layaknya seorang manusia. Juga bisa mengubah wujudnya menjadi manusia, melahap mereka dan mengambil kepribadiannya.

Kisah Bake-neko yang terkenal melibatkan seorang lelaki yang bernama Takatsu Genbei, yang kehilangan kucing yang telah dipeliharanya selama bertahun-tahun tepat ketika kepribadian ibunya mendadak berubah sama sekali. Wanita tua itu menolak untuk makan bersama dan membawa makanannya ke kamarnya untuk dimakan sendiri. Ketika anggota keluarganya penasaran dan mengintipnya, mereka melihat tidak ada yang mirip dengan sosok wanita itu melainkan makhluk seperti kucing raksasa dalam pakaian wanita tua tersebut, tengah mengunyah bangkai binatang. Takatsu, walau benar-benar enggan melakukannya, akhirnya membunuh sosok yang mirip ibunya itu. Sehari berselang tubuh sosok itu perlahan kembali ke wujud kucing peliharaannya yang hilang. Tak lama setelah itu, Takatsu bersedih setelah merobek alas tatami dan lantai papan kamar ibunya. Di sana, dia menemukan tulang belulang ibunya, tersembunyi di sana dengan daging yang telah bersih dari tulangnya.

Kisah terkenal lainnya, disebut “Kucing Setan Nabeshima” yang menceritakan tentang seorang pangeran yang menjadi korban Bake-neko. Suatu malam, pangeran ini berjalan di taman istananya dengan geisha kesukaannya – seorang gadis bernama O Toyo. Mereka lalu tidak menyadari bahwa mereka tengah dibuntuti oleh sesosok makhluk yang mengendap-endap dalam kegelapan.

Setelah pangeran itu hendak beristirahat dan pergi ke kamarnya, Bake-neko diam-diam menyelinap ke kamar geisha itu dan menunggu di bawah tempat tidurnya hingga gadis itu tertidur. Tengah malam, Kucing Setan itu naik ke atas gadis yang terlelap itu dan mencekiknya hingga tewas. Kemudian dia menyeret tubuh gadis itu keluar, menggali sebuah lubang di taman bunga, dan mengubur jasad itu dalam sebuah makam buatannya.

Setelah selesai melakukan perbuatan jahatnya, kucing jahat itu mengubah wujud dan penampilannya menjadi geisha yang telah dibunuhnya itu, dan mengelabui orang-orang. Tiap malam, Bake-neko menyamar menjadi gadis itu, menyelinap ke kamar pangeran untuk meminum darahnya.

Tak lama, pangeran itu mengeluh telah mengalami mimpi yang sangat buruk. Tubuhnya melemah dan wajahnya pucat. Para dokter disibukkan dengan penyakit misterius yang menimpa pangeran dan memerintahkan penjaga agar menjaga kamar pangeran selama dia tertidur. Meski begitu, mendekati tengah malam, para penjaga itu merasa mengantuk sekali. Tak peduli bagaimana mereka mencoba untuk tidak tidur, mereka tidak bisa tetap terjaga.

Akhirnya, seorang prajurit muda yang bertugas di kerajaan datang ke istana pangeran. Ketika dia mendengar tentang kejadian aneh yang menimpa pangeran, dia mengajukan dirinya untuk berjaga dan melindungi pangeran. Ketika tengah malam mulai tiba, prajurit itu melihat para penjaga lain mulai mengantuk, satu per satu dari mereka akhirnya tertidur. Walau mulai merasakan kantuk juga, prajurit itu berusaha untuk tetap terjaga. Merasa kesulitan untuk menahan rasa kantuknya, dia mengambil belati dan menancapkannya di pahanya, agar dia bisa tetap terjaga. Kapan pun dia merasa akan segera tertidur, dia akan memutar pisau itu di lukanya untuk menambah rasa sakitnya sehingga dia tetap terjaga.

Tengah malam itu, prajurit itu melihat pintu geser pangeran terbuka perlahan-lahan. Dari sana, seorang geisha yang cantik diam-diam merangkak masuk ke kamarnya dan berjalan menuju kamar tidur pangeran itu. Prajurit itu kemudian bangkit dengan pisau di tangannya, namun ketika geisha itu menoleh dan melihatnya, dia langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa bersuara, sama seperti bagaimana dia masuk.

Selama tiga malam berturut-turut, prajurit itu berdiri menjaga pangeran yang tertidur, menikam tubuhnya tiap malam agar tetap berjaga. Kesehatan pangeran pun mulai kembali. Ketika prajurit itu menceritakan tentang geisha itu, entah kenapa, pangeran itu menolak untuk mendengarkannya. Dia tak membolehkan seorang pun meragukan kesetiaan gadis kesukaannya itu. Tidak gentar, prajurit itu menyusun rencana untuk menghadapi geisha itu sendirian.

Di tengah larut malam, prajurit itu mengetuk kamar gadis itu. Dia bilang dia membawa pesan untuknya dari pangeran. Ketika gadis itu membuka pintu kamarnya, prajurit itu dengan cepat mencabut belatinya dan mencoba menikam gadis itu, tapi dengan mudahnya gadis itu berkelit menghindari serangannya. Geisha itu kemudian berubah menjadi wujud aslinya, Bake-neko dan menyerang balik prajurit itu dengan geramnya, mendesis dan mengumpat ketika dia berusaha bertahan.

Keduanya terlibat perkelahian yang sengit, tapi ketika prajurit itu mulai memenangkannya, Bake-neko lari menerobos jendela, naik ke atas atapnya, dan terjun ke sebuah taman. Makhluk itu berhasil melarikan diri ke pegunungan.

Keesokan harinya, prajurit itu menceritakan pada pangeran apa yang telah terjadi. Petugas kebun istana mencangkul taman bunga itu dan menemukan jasad dari geisha yang asli. Dirundung duka, pangeran itu kemudian memerintahkan penjaganya untuk memburu Kucing Setan itu. Bake-neko kemudian berhasil dibunuh oleh prajurit muda itu, setelah menemukan kelemahan makhluk jahat itu.