Hinna-kami

Gambar

Hinna-kami adalah ritual untuk membuat sebuah boneka yang bisa mewujudkan segala keinginan dari pembuatnya. Namun, pada akhirnya akan membawa kesengsaraan bagi yang memujanya.

Bagaimana membuat Hinna-kami :

*      Kumpulkan tanah dari tujuh makam dari tujuh desa yang berbeda.

*      Campur tanah itu dengan darah manusia dan bentuk menjadi sebuah boneka dewa/dewi yang kau yakini.

*      Kuburkan boneka itu di jalan-jalan yang ramai dan biarkan seribu orang melangkah di atasnya.

*      Jika kau memuja boneka itu nantinya, dia akan mewujudkan segala keinginanmu.

Tapi sebelum kau melakukan ritual ini, ingat bahwa Hinna-kami akan mengikutimu seumur hidup, dan pada akhirnya kau akan berakhir dengan kematian yang sangat menyakitkan dan mengerikan. Benda itu mungkin bisa menguasai jiwamu setelah kematian, dan membawanya ke neraka.

Di Jepang, apalagi di sekitar prefektur Toyama, orang-orang mengartikan Hinna-kami sebagai nama yang diberikan kepada jenis roh yang selalu ingin menguasai. Pada jaman dahulu, jika orang-orang yang tinggal di daerah itu melihat sebuah keluarga yang tiba-tiba menjadi kaya, maka mereka akan beranggapan bahwa keluarga itu pasti memuja Hinna-kami.

Ada juga pembuatan Hinna-kami dengan cara lain :

*      Buat seribu buah boneka, dengan masing-masing tingginya 9cm lalu rebus mereka di sebuah panci.

*      Jika kau melihat satu dari seribu boneka itu mengapung di permukaan air. Namakan boneka itu ‘Kochobo’, konon boneka ini telah memerangkap seribu roh di dalamnya.

*      Jika kau memuja boneka itu nantinya, dia akan mewujudkan segala keinginanmu.

Jika kau tidak memberitahu apa keinginanmu seterusnya, maka dia akan mendatangimu dan menanyakan “Apa berikutnya? Apa berikutnya?”. Maka dari itulah disebutkan bahwa keluarga yang memuja Hinna-kami akan kaya mendadak.

Kami dalam bahasa Jepang berarti ‘dewa/tuhan’. Ada banyak cara lain membuat Hinna-kami, beberapa juga berbunyi boneka itu harus terbuat dari batu nisan atau membutuhkan tiga ribu orang dalam jangka waktu tiga tahun.

Advertisements

Penguntit di Dalam Rumah

Gambar

Ini bukan cerita melainkan sebuah sesi tanya jawab dari situs Dr. Hayashi – seorang psikiater yang terkenal di Jepang. Suatu waktu dia mendapat surat dari seseorang yang mengeluh akan keadaannya dan memohon dicarikan jalan keluar.

 

Kasus [1087] Saya Punya Seorang Penguntit di Rumahku

 

Pertanyaan :

Ini tentang adik laki-lakiku, yang berusia 38 tahun. Dia sudah tidak bekerja selama tujuh atau delapan tahun yang lalu dan hanya tinggal di rumah sepanjang hari.

Untuk jangka waktu yang panjang saya mengalami perlakuan kekanak-kanakan secara terus menerus darinya tapi akhir-akhir ini kian memburuk.

Ruanganku dan ruangannya sebenarnya sama dan satu kamar tapi kami membaginya dengan sebuah pintu geser dan menyandarkan beberapa perabotan di pintu itu.

Barang-barang ini tidak memiliki peredam suara dan masing-masing kami bisa mendengar suara di tiap ruangannya.

Ketika akhir pekan adik laki-lakiku bangun sekitar tiga puluh menit hingga sejam sebelum saya terbangun, oleh suara jam alarm yang sangat ribut.

Ketika saya turun ke lantai bawah dia ikut di belakangku.

Ketika naik dia dengan cepat mengejarku, berdiri di depan kamarku dan tertawa terkekeh-kekeh dengan cara yang menakutkan, lalu kembali ke kamarnya sendiri – membanting pintunya tertutup.

Ketika saya bersiap-siap ke kantor pagi hari, dia mengikutiku setiap saat ketika saya naik turun lantai 2 dan lantai 1.

Ketika saya menggunakan wastafel dia juga ikut dan cepat-cepat menggunakannya ketika saya selesai.

Ketika tanganku kotor dan saya pergi ke kamar mandi untuk mencucinya, adik laki-lakiku bergegas datang mengikutiku dan mencuci tangannya juga.

Ketika saya tiba di rumah sepulang bekerja dan mulai menyantap makan malam, dia pergi ke wastafel dan mulai menyikat giginya lalu membuat suara yang menjijikkan.

Suara berisik itu membuat selera makanku hilang jadi saya selalu memutuskan berhenti makan dan menunggu hingga dia selesai, tapi ketika saya berhenti dia juga berhenti, dan dia menungguku hingga saya mulai makan lagi lalu dia mulai menyikat kembali.

Ketika dia mandi dia selalu berusaha untuk melakukannya sebelum saya jadi dia selalu memperhatikanku dan menawari waktunya.

Ketika dia sudah mandi sebelum saya dia akan menguras semua air panas dan mengisi air dingin sebagai gantinya, ataumengisi air mendidih untuk menggantikannya, benar-benar menjengkelkan.

Ketika saya telat mandi malam-malam dan naik ke atas setelahnya, dia akan menungguku dalam gelap di lantai satu dan mengikutiku naik dari belakang seraya terkekeh-kekeh dengan menakutkan.

Di malam hari ketika saya turun ke bawah minum air dan setelah itu kembali naik lagi, adikku – yang diam-diam mengikutiku, juga naik ke atas denganku.

Ketika saya mematikan lampu untuk bergegas tidur dia juga mematikan lampu di kamarnya dengan cepat, walau dia masih menonton TV dan tertawa setelah itu. Dia kemudian berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan keributan sebelum akhirnya tertidur.

Ketika saya punya hari libur, dia bangun lebih awal dan seperti biasa dia akan menyetel suara radio keras-keras. Dia tidak akan berhenti mendengarkan radio itu hingga saya terbangun. Jika saya masih tidak bangun karena radionya dia mulai menyalakan penghisap debu di kamar.

Kelihatannya dia berhasil mengetahui bagaimana cara menghisap debu seribut mungkin, dan dia bisa membersihkan kaca jendela selama beberapa menit hanya untuk membuat suara berisik, atau sekali-kali dia akan menghisap tempat yang sama terus menerus selama lebih dari sejam.

Ketika membuka dan menutup pintunya dia melakukannya dengan kasar hingga barang-barang di kamarku bergetar.

Dia berhenti melakukan semua hal itu hanya jika saya sudah benar-benar bangun (saya memakai penutup kuping).

Satu-satunya waktu yang dia pakai mengeringkan pakaian di balkon yaitu ketika hari liburku. Dia memakai seluruh tali jemuran dan mengeringkan semua miliknya serta mencegahku untuk mengeringkan cucianku. Dia melakukan hal itu walau saat hujan turun.

Di lain waktu dia enggan mengeringkan pakaiannya walau cuaca saat itu cerah.

Dia malah muncul ketika saya membawa barang-barangku ke tali jemuran dan memperhatikanku, menempel wajahnya ke kaca jendela seraya mulai tertawa menakutkan.

Ketika saya mengambil penghisap debu dia segera datang dan duduk di tengah-tengah koridor untuk menghalangi jalanan.

Dia juga melakukan bermacam-macam hal yang tidak kutulis di atas.

Saat ini saya mencoba mengabaikannya dan berusaha melakukan pekerjaanku sendiri, tapi saya bisa gila jika semuanya terus berjalan seperti sekarang.

Kadang-kadang bahkan ketika saya sudah mencoba tidak menghiraukannya, sesuatu bisa membangkitkan amarahnya dan dia akan mulai memukul dan mencoba mencekikku.

Adikku satu-satunya laki-laki di keluargaku dan tidak seorangpun bisa menghentikannya.

Hal lain yang dia lakukan adalah meninggalkan obat-obat nyamuk bakar di sekeliling rumah pada musim panas karena dia benci digigit nyamuk.

Saya rasa alasan dari tingkah lakunya yang tidak normal adalah karena dia schizophrenia. Bagaimana menurutmu?

 

Jawaban :

Dr. Hayashi

Jika semua yang ada dalam suratmu benar, kami mempunyai alasan kuat untuk percaya bahwa saudaramu tengah menderita schizophrenia.

Tapi beberapa hal dalam ceritamu membuatku bingung.

Walau dengan mengatakan bahwa adik laki-lakimu benar-benar seorang schizophrenic  dan memiliki halusinasi tentangmu, bisakah dia melakukan sesuatu secara terperinci dengan terus menerus memperhatikanmu dan menghalangi tiap tindakanmu? Sangat sulit membayangkan dia bisa melakukan hal demikian.

Juga sangat sulit membayangkan kau mampu mengabaikan tindakannya dan tinggal seperti biasa selama jangka waktu yang lama seperti itu.

Di atas semua itu, pikiran dari tulisan “seseorang tengah memperhatikanku sepanjang waktu dan berusaha mengganggu tiap tindakanku” ini adalah salah satu jenis keluhan halusinasi yang biasa dibuat oleh seseorang penderita schizophrenia.

Aku tidak bisa yakin sepenuhnya tapi apakah kau berpikir ada kemungkinan “adik laki-laki” yang kau bicarakan ini adalah seseorang yang muncul hanya dalam imajinasimu? Jika demikian hampir pasti bahwa dirimu sendiri yang menderita schizophrenia.

Atau mungkin saja “adik laki-laki” ini benar-benar ada dan dia tidak menunjukkan semua kelakuan aneh itu, semua itu hanya ciptaan dari halusinasimu. Jika demikian kau hampir pasti juga menderita schizophrenia.

Aku mungkin saja salah sepenuhnya tapi aku ingin menunjukkan kemungkinan itu kepadamu.

Karena aku harus menetapkan penilaianku sendiri berdasarkan informasi yang ada dalam suratmu, mohon pengertiannya bahwa inilah yang terbaik yang bisa kulakukan pada sesi tanya jawab di situs psikiater ini.

Bell Witch Haunting

Gambar

Pada tahun 1804, John Bell dan istrinya Lucy mengepak barang-barang mereka  di North Carolina untuk pindah ke Tennesee  bersama kesembilan anak mereka. Itu seharusnya menjadi awal yang indah dan damai dari kehidupan mereka sehari-hari sejak John membeli sepetak tanah yang jika dihitung berkisar lebih dari 300 are.

Sayangnya, selama masa-masa pembelian itu, dia berselisih dengan tetangganya Kate Batts. Kate yakin bahwa John telah berbuat curang untuk mendapatkan tanah itu dan dia tidak akan pernah memaafkannya. Sejak itulah legenda ini dimulai.

Kate Batts kemudian meninggal sekitar tahun 1817, di atas tempat tidurnya – masih mengutuk perbuatan John. Dia pernah bersumpah bahwa dia akan menghantui keluarga Bell dan seluruh keturunannya.

Pada awal tahun 1817, keluarga Bell mulai merasakan kejadian-kejadian aneh di rumah mereka. Dimulai dengan sebuah suara-suara tepukan dan cakaran di temboknya, tidak lama bisikan terdengar. Suara itu makin besar dan kian besar hingga bisa dikenali seperti suara wanita tua – tapi masih belum ada kata-kata yang dapat ditangkap.

Lalu aktivitas fisik kemudian terjadi pada keluarga Bell seperti pakaian atau selimut mereka ditarik dan bergeser ketika tengah tertidur. Bahkan tiga dari anak-anak Bell – yang tidur dalam ranjang yang sama – pernah terbangun di malam hari dan langsung berteriak karena melihat pakaian tidur mereka ditarik oleh sosok yang tak kasat mata.

Dari sana keluarga Bell sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Barang-barang mereka yang di dalam rumah atau sekitar tanah milik mereka dicuri atau hilang dengan sendirinya. Anak-anak mereka ditampar dan dicubit. Pada malamnya, kayu-kayu pondasi rumah terdengar ada yang menggigit, dan binatang-binatang aneh bisa terlihat di pekarangannya.

Anehnya, aktivitas paranormal dari hantu ini paling sering dan paling kejam dialami oleh John Bell dan anak perempuannya Betsy (Elizabeth). Teriakan-teriakan akibat tersiksanya mereka berdua seolah membawa kesenangan pada hantu itu. Dia akan tertawa ketika Betsy menangis, atau membuat John terlihat tidak nyaman.

Tak lama kemudian suara itu menjadi cukup jelas bagi keluarga tersebut untuk menangkap apa yang dikatakannya. Secara berulang-ulang suara itu mengatakan akan membunuh John Bell, dan sewaktu-waktu akan mengincar anggota keluarga yang lainnya.

Tak lama dari sana, Betsy lalu diserang ketika tengah tertidur. Dia terbangun karena merasakan luka iris dan memar-memar di tubuhnya. Tidak tahu harus melakukan apa, John Bell lalu mengundang temannya James Johnson untuk makan malam sekaligus tinggal malam itu. James yang datang bersama istrinya lalu menyaksikan dengan mata kepala sendiri wujud hantu itu. Mereka kemudian menyebut seorang penyihir, yang tengah merapalkan mantra dan nyanyian-nyanyian.

Tahun 1818 kabar ini kemudian menyebar di kalangan masyarakat yang menyebut kejadian ini sebagai ‘Penyihir Bell’ dan aib keluarganya juga ikut dibeberkan. John berusaha mencari perlindungan pada pihak-pihak religius, tapi mereka menutup mata akan kejadian ini – mungkin karena ini berkaitan dengan sihir dan penyihir.

Orang-orang berduyun-duyun ke rumah Bell hanya untuk melihat kejadian itu, atau mungkin mengalaminya sendiri. Penyihir itupun sepertinya memang ingin dikenal, tapi tak pernah menampakkan diri, hanya selalu didengar. Dia tidak pernah kasar atau berani pada pengunjung, dan bahkan suatu waktu akan menawarkan tangannya untuk bersalaman.

Cerita berikutnya mungkin sulit dicerna, tapi kabarnya ini terus berputar di antara masyarakat ketika itu. Jenderal Andrew Jackson (calon presiden ke 7 Amerika Serikat) bahkan mengumpulkan beberapa orang temannya dan melakukan kunjungan di tanah itu di Adams, Tennesee hanya untuk merasakan aktivitas paranormal tersebut. Dia sendiri tak dapat menyimpulkan apakah itu hanya tipuan belaka, atau benar-benar sesuatu yang berhantu.

Kelompok Jackson itu kemudian menuju rumah Bell, membawa sejumlah tenda, keperluan dan barang-barang lainnya dalam sebuah gerobak. Ketika mereka hampir tiba di rumah itu, gerobak itu mendadak berhenti sendiri dan tidak seorangpun bisa membuatnya bergerak. Roda-rodanya dilepas dan diperiksa, namun tampaknya segalanya baik-baik saja dan seharusnya bisa berfungsi. Jackson, ditengah-tengah kekalutan ini, lalu melemparkan gurauan bahwa kejadian ini pastilah perbuatan penyihir – menyebutnya keras-keras hingga terdengar di seluruh tanah milik keluarga Bell. “Baik Jenderal, jalankan gerobak itu, dan aku akan menemuimu lagi nanti malam.” sebuah suara menyahutnya. Begitu saja lalu gerobak itu kembali berjalan dan mereka melanjutkan perjalanannya.

Jenderal Andrew Jackson dan kelompoknya berencana tinggal selama seminggu, tapi akhirnya pergi keesokan harinya. Mengalami segala kejadian-kejadian aneh, mereka tidak bisa membuktikan bahwa kabar ini hanyalah tipuan. Mereka juga dicubit, ditampar, dan rambut mereka ditarik-tarik, ketika Betsy Bell menjerit kesakitan karena memar-memar yang muncul akibat perbuatan penyihir tersebut. Kisah Jackson di rumah keluarga Bell ini tidak muncul dari tulisannya sendiri, melainkan dari berbagai sumber.

Yang ganjil adalah kelurga Bell ini tetap tinggal di rumah mereka selama masa itu, tanpa pernah pindah.

Pada Oktober 1820, John Bell jatuh sakit, dan banyak yang meyakini penyakit strokenya ini diberikan oleh penyihir tersebut. Walaupun dia masih dapat terus bekerja, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur. Di bulan Desember dia tidak bangun lagi dalam tidurnya. Obat-obatan yang dikirim untuknya masih ada, namun ketika diperiksa menunjukkan sesuatu yang aneh. Penyihir itu sepertinya mengganti obat tersebut dengan racun, dan tentu saja menyebabkan John meninggal dunia.

John meninggal pada usia 70 tahun – tepat yang penyihir jahat itu perkirakan. Penyihir itu kemudian bisa terdengar menyanyi dengan riang saat-saat pemakaman John, dan terus didengar oleh anggota keluarga serta teman-teman mereka.

Tahun berikutnya, 1821, penyihir itu kemudian mengatakan bahwa dia akan pergi. Ini terjadi ketika dia berhasil membuat Betsy Bell putus hubungan dengan pacar sekaligus teman masa kecilnya, dan penyihir itu juga mengatakan dia akan kembali tujuh tahun kemudian.

Tahun 1828, sesuai dengan janjinya, penyihir itu hadir kembali. Kali ini dia menampakkan diri kepada John Bell Jr., putra John Bell. Dia memberi Bell Jr. sebuah penglihatan dan ramalan mengenai masa depan. Dan sebelum dia meninggalkannya lagi, penyihir ini mengatakan bahwa dia akan kembali seabad kemudian tepatnya di tahun 1935.

Tidak pernah diketahui apakah dia menepati janjinya atau tidak.

Dekat rumah keluarga Bell ada sebuah gua yang dikenal sebagai Gua Penyihir Bell. Orang-orang yang pergi ke sana bercerita melihat sosok yang aneh dan mengalami kejadian-kejadian supranatural di sekitar area itu. Sebagian percaya disinilah penyihir Bell itu tinggal ketika tidak mengganggu keluarga dan keturunannya.

Manila Film Center

Gambar

Seseorang berjalan melintasi bangunan Manila Film Center pada pertengahan tahun 1990an, ketika itu dia didekati oleh seorang pria yang nanti memberinya sebuah kartu telepon. Pria itu mengatakan padanya untuk menghubungi keluarganya, memberitahu mereka bahwa dia baik-baik saja serta akan bebas tidak lama lagi. Orang itu mengikuti seluruh perintah pria tersebut.

Ketika menghubungi keluarga pria tadi, dia mendapat kabar yang cukup mencengangkan. Pihak keluarga mengatakan bahwa pria itu merupakan seorang suami yang sudah meninggal – tepat di tempat itu – sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Kisah ini boleh dibilang tidak terlalu aneh jika menyangkut Manila Film Center. Bangunan yang didirikan pada tahun 1982 ini ditujukan sebagai panggung utama dari Festival Film Internasional Manila yang pertama. Festival film ini merupakan buah pikiran dari seseorang yang nantinya menjadi seorang first lady Filipina, Imelda Marcos.

Marcos adalah seseorang yang menyukai kehidupan mewah, dan ingin gaya hidupnya itu tercermin dalam segala pekerjaannya, karyanya, dan juga pandangan di negerinya. Sebagian akan mengatakan Marcos seorang yang sangat ambisius, dengan tidak memberi proyek ini cukup waktu untuk didirikan bangunan yang akan menghelat fesival film tersebut. Walau begitu, rencana itu terus dijalankan.

Penampilan gedung itu terinspirasi dari Parthenon, dan lokasinya berada di sebuah lahan di atas laut – ujung Pasay City. ‘Daratan baru’ ini belum cukup kuat untuk menampung berat struktur bangunan, jadi pondasi kemudian dibuat sedemikian rupa hingga diyakini memperkokoh daratan tersebut.

Pembangunan lantas tetap berjalan sesuai rencana, tapi Marcos melakukan beberapa perubahan hingga menyebabkan penundaan dan kabarnya mengabaikan standar keselamatan. Walau begitu, dengan harta yang melimpah di tangan, keajaibanpun mungkin terjadi, dan tak membutuhkan waktu yang lama makin banyak pekerja bangunan bekerja di tempat itu. Sebuah perkemahan dibangun, di mana para pekerja serta sebagian kecil keluarga mereka dapat tinggal – agar dapat mengawasi mereka tiap waktu.

Demi laju pembangunannya, dan untuk memenuhi tenggat waktu yang mepet, lebih dari 4000 pekerja bangunan di pekerjakan dengan tiga sesi,  24 jam sehari. Beberapa bagian bangunan yang seharusnya membutuhkan enam minggu terselesaikan hanya dengan tiga hari. Tentu saja, itu sesuatu yang terlalu dipaksakan dan biasanya apa yang dipaksa itu akan berakhir buruk. Dan memang demikian.

Pada sekitar pukul 3 dinihari tanggal 17 November 1981, sebuah tragedi terjadi. Sebagian besar dari landasan langit-langit bangunan tersebut runtuh, dan menimpa sekurang-kurangnya 169 pekerja di bawahnya. Bukannya, menolong nyawa yang malang itu, menghubungi bala bantuan, atau apapun untuk membantu orang-orang itu keluar, Imelda Marcos dan juga beberapa bawahannya malah memerintahkan pihak keamanan untuk menutup area itu – agar tidak seorangpun masuk, tidak ada bala bantuan, atau apapun.

Area itu kemudian tertutup selama sembilan jam hingga akhirnya siapapun diperbolehkan memasukinya – untuk menolong orang-orang yang masih hidup. Banyak nyawa melayang akibat runtuhan itu, dan mungkin lebih banyak lagi diakibatkan tidak seorangpun bala bantuan dapat masuk ke dalamnya.

Banyak rumor yang beredar mengenai apa yang terjadi selama area tersebut ditutup berjam-jam. Ada yang mengatakan penyelidikan sedang dikerjakan untuk mengetahui penyebab runtuhnya bangunan, dan Marcos khawatir adanya sabotase dari pihak pengembang setelah melihat tiga belas landasan langit-langit itu terpotong. Sebagian orang lagi mengatakan bahwa Marcos cemas pembangunan itu tidak akan selesai tepat waktu, dan fesitval filmnya akan dibatalkan. Takut menanggung malu, dia malah meminta dibuatkan campuran beton lebih banyak lagi, untuk menyembunyikan bukti-bukti kejadian tersebut. Pada akhirnya, jasad para pekerja bangunan itu ditimbun dengan semen dan menjadi rata dengan tanah – menjadikan bangunan itu layaknya sebuah kuburan.

Dengan begitu banyaknya orang yang mengalami cedera dan terbunuh dari tragedi ini, jumlah sebenarnya tidak pernah terungkap. Namun menurut orang-orang yang berada di tempat kejadian, ada lebih banyak nyawa melayang dari yang di perkirakan. Langit-langit bangunan itu runtuh dan juga menghantam perkemahan, membunuh beberapa pekerja bangunan dan keluarganya. Ada banyak nyawa yang juga telah menyatu dalam lapisan beton yang baru saja dituang di tempat kejadian.

Eliodoro Ponio, yang bekerja di sana, diwawancarai dalam sebuah acara televisi, mengatakan bahwa seluruh mayat yang ada di sana sudah tertutup dan menggambarkan ‘bahkan sebuah kuku jari tidak ditinggalkan di sana’. Semua pekerja dikuburkan dengan sebaik-baiknya.

Saat pembangunan Manila Film Center ini akhirnya rampung tepat waktu untuk festival film itu, film-film seperti ‘Body Heat’, ‘Gallipoli’, dan ’36 Chowringhee Lane’ dari India diputar – film India ini lalu memenangkan gambar terbaik.

Setelah festival, bangunan ini dimasukkan ke dalam arsip film nasional hingga sebuah gempa bumi menghantamnya di tahun 1990an, menyebabkan bangunan ini rusak dan terbengkalai. Ditinggalkan selama satu dekade, bangunan ini akhirnya digunakan sebagai panggung pertunjukan ‘Amazing Show’, sebuah acara transgender yang diadakan pihak Amazing Philippines Theatre.

Beberapa orang yang mengunjungi tempat ini mungkin tidak mengetahui sejarah dari bangunan tersebut. Tragedi dari hilangnya banyak nyawa, dan jiwa-jiwa yang terperangkap di bawah kaki mereka. Kejadian aneh yang terjadi bukan hanya sosok asing yang meminta para pengunjung untuk menghubungi keluarga mereka, dan mengatakan keadaannya baik-baik saja tapi masih banyak kejadian-kejadian paranormal lainnya. Rintihan-rintihan meratap dan mengerang sering juga dilaporkan, keluar dari pondasi bangunan tersebut. Penampakan juga muncul dihadapan pengunjung, menyelinap keluar dari bawah lantainya. Orang-orang yang berlatih atau membersihkan tempat itu juga selalu melaporkan saat-saat mereka merasakan klaustrofobia ketika mereka berada di dalam, merasakan sesuatu tak kasat mata yang hadir di tengah-tengah mereka.

Beberapa paranormal melakukan ritual-ritual untuk berhubungan dengan yang mati di sana, sebagian besar mendapatkan sambutan yang tidak ramah, penolakan demi penolakan, aktivitas paranormal yang menakutkan, serta aktivitas poltergeist juga terjadi pada beberapa ritual yang dilakukan.

Seorang paranormal melakukan ritual pengusiran di sana dan berhasil mengontak beberapa makhluk halus yang menghuni tempat itu. Pada kesempatan kali ini, paranormal itu mengaku mendapatkan balasan dari beberapa arwah yang ada di sana. Mengatakan bahwa mereka akan pergi apabila kisah mereka diceritakan sehingga diketahui orang. Walau begitu, tidak semua menginginkan itu, beberapa dari mereka sudah tidak bisa lagi dipisahkan dari tempat itu. Jiwa dan kisah mereka tertawan di sana, menghantui tempat itu selamanya.

Ide Buruk

Gambar

Beberapa hari yang lalu, seorang teman meneleponku. Dia Jon, kawan sekolahku yang lama. Sudah bertahun-tahun saya tidak pernah berbicara padanya, dan kami mulai mengingat tentang hal-hal konyol yang pernah kami lakukan bersama di sekolah.

Beberapa hari kemudian saya memutuskan untuk menghubunginya kembali, dan melihat apakah kami bisa keluar bersama – mungkin memancing atau apapun.

Kami berbicara di telepon sejenak, dan saya mengatakan padanya “Hey, bisakah kita keluar bersama.” Awalnya dia bilang itu sebuah ide buruk, tapi kemudian dia menyetujuinya. Saya menanyakan alamatnya, menulisnya, dan mengatakan padanya saya akan menemuinya esok pagi.

Esok paginya saya tiba di tempat yang dia bilang merupakan tempat tinggalnya. Tidak ada apa-apa di sana kecuali puing-puing. Sepertinya pernah terjadi kebakaran di sana beberapa tahun yang lalu, tapi belum di rapikan, dan tanaman-tanaman di sana belum pernah di potong. Di tengah-tengah reruntuhan itu, saya menemukan sebuah telepon gaya putar yang lama di atas lantainya – tidak terhubung dengan apapun. Segera, saya mengambil telepon genggamku dan menghubungi nomornya.

Telepon di lantai tadi berbunyi.

 

Dua kali.

 

Ketiga kalinya, saya terkejut dan menjatuhkan telepon genggamku. Saya lalu berlutut mengambil gagang telepon putar kuno itu. Sebuah suara – teredam desis, keluar dari sana.

 

“Sudah kubilang ini ide buruk.”

Gadis Kecil & Ayahnya

Gambar

Seorang gadis berusia 5 tahun sedang berada dalam mobil yang dikendarai ayahnya, sambil memeluk boneka Teddy Bear kesayangannya. Dia mengguncang isi mobil itu dengan terus bergoyang ke kiri dan ke kanan. Ayahnya lalu mengatakan, “Sayang, hentikan itu … Membuat ayah pusing.”

“Baik …” kata gadis itu. Tapi kemudian, dia melakukannya lagi.

“Sayang, ayah nanti marah.” kata ayahnya.

“Baik, maaf. Aku tidak melakukannya lagi. Janji.” kata gadis kecil itu.

Beberapa saat kemudian, mobilnya kembali terguncang.

“Aku bilang hentikan itu!” ayahnya marah, lalu gadis kecil itu bilang. “Tapi aku tidak melakukannya, wanita berpakaian putih itu …”

Ci’ Ye’ Pang (Cit Gwee Pua)

Gambar

Tanggal 15 bulan 7 atau pertengahan bulan Juli, merupakan suatu masa dalam penanggalan Tionghoa yang biasa dikenal dengan nama Ci’ Ye’ Pang. Ci’ berarti Tujuh, Ye’ berarti Bulan, dan Pang berarti Setengah, jadi Ci’ Ye’ Pang adalah Pertengahan Bulan ke-7 – dalam bahasa Hokkien, juga disebut Cit Gwee Pua. Di masa atau di tanggal inilah, orang-orang keturunan Chinese pada umumnya akan melaksanakan tradisi mendoakan arwah leluhur dan arwah-arwah yang berada di sekitar mereka. Di masa ini juga merupakan masa-masa paling menakutkan bagi mereka yang mempercayai tradisi tersebut.

Ci’ Ye’ Pang adalah bulan di mana malam-malam paling angker berlangsung dalam tahun itu, karena di bulan 7 itulah dipercaya bahwa arwah-arwah orang mati akan keluar dari dunia mereka untuk masuk ke dunia manusia, mengunjungi keluarga dan kerabat mereka yang masih hidup. Karena adanya kepercayaan semacam itu, maka di bulan ini takhyul dan mitos seakan disebar di mana-mana. Para orangtua akan mewanti-wanti anak mereka agar tidak berkeliaran sembarangan apalagi di malam hari, karena khawatir arwah jahat bisa saja mencelakai mereka. Bagi yang ingin melakukan sesuatu yang penting, seperti pindah rumah atau memulai usaha, juga dianjurkan untuk tidak melakukannya selama bulan ini karena diyakini akan mengalami kesialan atau kegagalan.

Ci’ Ye’ Pang juga terkenal dengan keluarnya para hantu kelaparan dari alam baka untuk masuk ke dalam dunia manusia dan mencari makanan. Di Indonesia misalnya, di daerah-daerah di mana terdapat mayoritas warga keturunan Tionghoa, beberapa dari mereka akan mewanti-wanti anak mereka agar tidak mandi atau makan terlalu malam, karena konon akan diculik oleh hantu-hantu kelaparan. Mereka juga akan dilarang keluar rumah di malam hari. Di hari puncaknya, Ci’ Ye’ Pang biasanya diadakan upacara sembahyang di rumah di tiap keluarga. Beberapa dari mereka akan menyiapkan barang-barang untuk dibakar seperti lilin, dupa/hio, hingga uang kertas alam baka, pakaian, dan barang-barang lainnya yang tentu saja dikhususkan untuk orang mati. Karena ada kepercayaan hantu-hantu kelaparan akan keluar dari dunianya, maka biasanya di tiap-tiap keluarga akan menghidangkan makanan di rumahnya masing-masing untuk menyambut arwah keluarga mereka yang kelaparan. Di samping itu, biasanya di sudut-sudut jalanan terdapat beberapa sesajen, lilin, hio, atau uang kertas yang konon juga dipersembahkan untuk hantu-hantu kelaparan yang sudah tidak memiliki keluarga di dunia ini.

Ci’ Ye’ Pang tidak selamanya sesuram yang dibayangkan. Di negara-negara lain, pertengahan bulan ke-tujuh merupakan waktu di mana festival diadakan untuk merayakannya. Di Singapura, atau Hong Kong, mereka mengenalnya dengan Hungry Ghost Festival (Festival Hantu Lapar). Biasanya mereka semua akan keluar rumah untuk merayakan festival tersebut. Membakar hio untuk mendoakan arwah leluhur mereka, membakar dan menerbangkan lentera ke langit sebagai ungkapan mengirim doa untuk mereka yang sudah meninggal. Yang lainnya ada juga yang mengungkapkan pesannya dengan mengapungkan perahu-perahu kertas di air. Konon jika perahu itu mengapung lama dan sampai di pinggiran pantai yang lainnya, maka itu berarti arwah leluhur mereka telah menjadi makhluk yang abadi (berada di dunia yang baik).

Sebenarnya ada beberapa cerita dan legenda yang melatarbelakangi ritual Ci’ Ye’ Pang yang diadakan di seluruh dunia. Kebanyakan dari mereka berasal dari ajaran Kong Hu Cu, Buddha, atau legenda-legenda lainnya. Dari segi menyiapkan sesajen, hidangan atau bekal, bisa ditilik dari pemahaman Buddhisme, di mana ada sebuah hari yang dikenal dengan nama Ulambana. Ulambana biasanya jatuh di pertengahan bulan Juli, namun sebenarnya tidak dapat disangkutpautkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan hantu, karena Ulambana merupakan hari untuk memperingati para bikkhu meraih pemahaman penuh tentang agama Buddha, dan menyediakan bekal bagi mereka dipercaya bisa mendatangkan berkah dan kehidupan yang lebih baik. Sementara itu jika melihat dari letak geografis, ritual Ci’ Ye’ Pang bisa dibilang berasal dari masyarakat timur yang umumnya berkehidupan agraris atau bertani. Di masa-masa pertengahan bulan ke-tujuh, biasanya merupakan saat-saat menyambut masa panen, oleh karenanya ada harapan agar panen mereka berhasil. Maka di bulan itulah, mereka biasanya berdoa kepada dewa-dewa serta meminta dukungan leluhur mereka agar panen mereka bisa berlimpah, sekaligus memberi penghormatan kepada arwah leluhur.

Sebuah legenda juga ikut melatarbelakangi Ci’ Ye’ Pang. Legenda itu merupakan cerita dari seorang Mu Lian, yang mencoba menyelamatkan ibunya dari api neraka. Mu Lian adalah seorang murid Buddha yang paling taat. Namun, entah bagaimana ibunya telah melanggar sumpahnya untuk tidak memakan daging dan akhirnya dikutuk untuk merasakan hukuman di alam di mana hantu-hantu lapar bergentayangan. Bagaimana pun Mu Lian mempersembahkan nasi kepada arwah ibunya yang sudah meninggal, para hantu lapar itu akan mengambilnya hingga tidak sampai ke arwah ibunya. Putus asa, Mu Lian kemudian memohon kepada Buddha untuk menolongnya. Buddha kemudian mengatakan bahwa yang bisa menolongnya hanyalah para bikkhu yang berasal dari sepuluh mata angin. Para bikkhu itu telah menyiapkan segala jenis makanan dan barang-barang untuk dipersembahkan kepada leluhur selama tujuh generasi, dan mereka melakukan itu di tanggal 15 di bulan ke-7 tiap tahunnya. Maka setelah itu, Mu Lian akhirnya bisa mengirimkan bekal ke alam di mana ibunya berada.

Ci’ Ye’ Pang memang identik dengan malam yang penuh hantu. Ada beberapa pantangan atau pamali yang berhubungan dengan mitos atau takhyul, yang konon jika dilanggar akan mendatangkan nasib buruk atau kesialan. Berikut beberapa mitos yang biasa didengar semasa Ci’ Ye’ Pang

  • Dilarang keluar malam hari, karena konon para hantu akan bergentayangan di masa-masa itu.
  • Jangan meludah di jalanan atau di pohon, karena bisa saja mengenai makhluk halus yang mendiami tempat tersebut.
  • Jangan menatap lilin atau api.
  • Jangan sembarang melangkah atau menendang barang-barang yang ada di pinggir jalan, bisa saja barang-barang itu adalah milik atau dipersembahkan kepada hantu-hantu yang bergentayangan malam itu.
  • Jangan melihat di bawah meja altar sembahyang selama ritual itu berlangsung. Konon katanya selama ritual, para makhluk halus yang bergentayangan suka dengan aroma dupa/hio yang berada di meja altar sembahyang. Bisa saja mereka bersembunyi di bawah mejanya.
  • Jangan melirik ke kiri dan ke kanan, atau sebaliknya secara berulang-ulang jika kamu merasakan ada yang tidak baik. Tetap menatap ke depan dan berjalan dengan tenang. Jika tidak, bisa saja kamu akan melihat penampakan yang mengerikan.
  • Jangan mengikuti atau mencium aroma-aroma harum yang kamu tidak ketahui sumbernya.
  • Jika kamu berada di Cina, jangan duduk di bangku yang berada di baris pertama ketika menonton Opera Cina. Di sana, tempat duduk yang berada di barisan pertama memang sengaja dibiarkan kosong begitu saja. Bangku-bangku itu memang diperuntukkan untuk para makhluk halus, yang sengaja mereka undang untuk hadir menyaksikan opera tersebut.
  • Jangan membuka payung di malam hari, terutama jika payung itu berwarna merah.
  • Jangan menggunakan pakaian serba merah, dengan selop tinggi dan berjalan sendirian. Merah dalam tradisi Chinese, merupakan warna untuk merayakan sementara Ci’ Ye’ Pang merupakan sebuah ritual untuk orang mati. Maka itu akan dianggap tidak menghormati ritual tersebut.
  • Jangan mengambil barang apapun yang kamu temui, atau tidak kamu kenali di jalan.
  • Jangan berdiri di bawah pohon di malam hari, kamu akan diculik oleh hantu lapar.
  • Jangan menunggu di halte bus setelah tengah malam lewat.
  • Jangan bersiul di malam hari, kamu mungkin akan mendengar seseorang menyanyi bersamamu tapi tak kasat mata.
  • Jangan menggantung pakaian di tengah malam.
  • Jangan berjalan di kegelapan dan bersandar di tembok, sesuatu yang tak kasat mata mungkin menemanimu berjalan atau menempel di sisi yang lainnya.
  • Jangan menjawab atau membalas ketika seseorang yang tak kamu kenal memanggilmu, terutama jika kamu mendengarnya dari belakangmu.
  • Jangan membalikkan badan atau kepalamu ketika seseorang menepuk pundakmu di tengah jalan.
  • Jangan menggunakan perhiasan berwarna gelap dan hitam.
  • Jangan menyisir rambut di depan cermin, pada tengah malam.
  • Jangan berseru atau berteriak di tengah malam. Tetaplah diam sesenyap mungkin terutama ketika kamu merasa hawa dingin tiba-tiba menyergapmu. Jangan mencoba menangis atau larut dalam emosimu, jika itu terjadi di tengah malam.
  • Jangan membiarkan lukamu terbuka begitu saja. Selalu tutup dengan selotip luka atau perban, jika kamu memiliki luka yang berdarah.
  • Jangan menjadi terlalu cepat penasaran jika tiba-tiba mendengar suara yang aneh atau berisik. Jangan juga terburu-buru, ketika mendengar tangisan bernada rendah yang tidak kamu ketahui sumbernya. Tetaplah tenang.
  • Jangan berenang di sungai atau di kolam di tengah malam hari, sesuatu bisa saja menunggu untuk menarik kakimu ke bawah air.
  • Jangan bermain di taman bermain di tengah malam hari, terutama dengan ayunan.
  • Jangan menerima tantangan untuk masuk ke area pemakaman atau rumah kosong yang terbengkalai. Itu berarti kamu menantang makhluk halus yang berada di dalamnya.

 

Pamali atau pantangan itu tidak seharusnya dilanggar, tetapi jika kamu memang sengaja melanggarnya maka resiko harus kamu tanggung sendiri. Kendati demikian, terkadang pantangan itu bisa dijadikan uji nyali atau permainan bagi sebagian orang yang memang sengaja ingin melihat makhluk halus. Sebuah permainan atau ritual menjelaskan bagaimana cara agar kita dapat melihat para hantu yang bergentayangan di malam Ci’ Ye’ Pang yang terkenal dengan hantu laparnya. Cara ini sudah diceritakan turun-temurun dan sudah menjadi semacam permainan di malam Ci’ Ye’ Pang bagi anak-anak. Cukup sediakan sebuah penampi beras yang terbuat dari anyaman rotan. Letakkan penampu beras itu hingga menutupi kepalamu, kemudian jongkoklah di bawah jembatan atau di tempat-tempat yang kamu yakini merupakan tempat yang berhantu. Konon jika kamu melakukan hal ini dengan benar, maka tidak lama kamu akan menyaksikan hantu-hantu kelaparan itu lewat di hadapanmu. Meski begitu, jangan sampai wajahmu terlihat, dan kamu harus memainkan permainan ini hingga hantu-hantu itu menghilang seluruhnya. Karena kalau tidak, hantu-hantu itu akan mengejarmu.