Manila Film Center

Gambar

Seseorang berjalan melintasi bangunan Manila Film Center pada pertengahan tahun 1990an, ketika itu dia didekati oleh seorang pria yang nanti memberinya sebuah kartu telepon. Pria itu mengatakan padanya untuk menghubungi keluarganya, memberitahu mereka bahwa dia baik-baik saja serta akan bebas tidak lama lagi. Orang itu mengikuti seluruh perintah pria tersebut.

Ketika menghubungi keluarga pria tadi, dia mendapat kabar yang cukup mencengangkan. Pihak keluarga mengatakan bahwa pria itu merupakan seorang suami yang sudah meninggal – tepat di tempat itu – sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Kisah ini boleh dibilang tidak terlalu aneh jika menyangkut Manila Film Center. Bangunan yang didirikan pada tahun 1982 ini ditujukan sebagai panggung utama dari Festival Film Internasional Manila yang pertama. Festival film ini merupakan buah pikiran dari seseorang yang nantinya menjadi seorang first lady Filipina, Imelda Marcos.

Marcos adalah seseorang yang menyukai kehidupan mewah, dan ingin gaya hidupnya itu tercermin dalam segala pekerjaannya, karyanya, dan juga pandangan di negerinya. Sebagian akan mengatakan Marcos seorang yang sangat ambisius, dengan tidak memberi proyek ini cukup waktu untuk didirikan bangunan yang akan menghelat fesival film tersebut. Walau begitu, rencana itu terus dijalankan.

Penampilan gedung itu terinspirasi dari Parthenon, dan lokasinya berada di sebuah lahan di atas laut – ujung Pasay City. ‘Daratan baru’ ini belum cukup kuat untuk menampung berat struktur bangunan, jadi pondasi kemudian dibuat sedemikian rupa hingga diyakini memperkokoh daratan tersebut.

Pembangunan lantas tetap berjalan sesuai rencana, tapi Marcos melakukan beberapa perubahan hingga menyebabkan penundaan dan kabarnya mengabaikan standar keselamatan. Walau begitu, dengan harta yang melimpah di tangan, keajaibanpun mungkin terjadi, dan tak membutuhkan waktu yang lama makin banyak pekerja bangunan bekerja di tempat itu. Sebuah perkemahan dibangun, di mana para pekerja serta sebagian kecil keluarga mereka dapat tinggal – agar dapat mengawasi mereka tiap waktu.

Demi laju pembangunannya, dan untuk memenuhi tenggat waktu yang mepet, lebih dari 4000 pekerja bangunan di pekerjakan dengan tiga sesi,  24 jam sehari. Beberapa bagian bangunan yang seharusnya membutuhkan enam minggu terselesaikan hanya dengan tiga hari. Tentu saja, itu sesuatu yang terlalu dipaksakan dan biasanya apa yang dipaksa itu akan berakhir buruk. Dan memang demikian.

Pada sekitar pukul 3 dinihari tanggal 17 November 1981, sebuah tragedi terjadi. Sebagian besar dari landasan langit-langit bangunan tersebut runtuh, dan menimpa sekurang-kurangnya 169 pekerja di bawahnya. Bukannya, menolong nyawa yang malang itu, menghubungi bala bantuan, atau apapun untuk membantu orang-orang itu keluar, Imelda Marcos dan juga beberapa bawahannya malah memerintahkan pihak keamanan untuk menutup area itu – agar tidak seorangpun masuk, tidak ada bala bantuan, atau apapun.

Area itu kemudian tertutup selama sembilan jam hingga akhirnya siapapun diperbolehkan memasukinya – untuk menolong orang-orang yang masih hidup. Banyak nyawa melayang akibat runtuhan itu, dan mungkin lebih banyak lagi diakibatkan tidak seorangpun bala bantuan dapat masuk ke dalamnya.

Banyak rumor yang beredar mengenai apa yang terjadi selama area tersebut ditutup berjam-jam. Ada yang mengatakan penyelidikan sedang dikerjakan untuk mengetahui penyebab runtuhnya bangunan, dan Marcos khawatir adanya sabotase dari pihak pengembang setelah melihat tiga belas landasan langit-langit itu terpotong. Sebagian orang lagi mengatakan bahwa Marcos cemas pembangunan itu tidak akan selesai tepat waktu, dan fesitval filmnya akan dibatalkan. Takut menanggung malu, dia malah meminta dibuatkan campuran beton lebih banyak lagi, untuk menyembunyikan bukti-bukti kejadian tersebut. Pada akhirnya, jasad para pekerja bangunan itu ditimbun dengan semen dan menjadi rata dengan tanah – menjadikan bangunan itu layaknya sebuah kuburan.

Dengan begitu banyaknya orang yang mengalami cedera dan terbunuh dari tragedi ini, jumlah sebenarnya tidak pernah terungkap. Namun menurut orang-orang yang berada di tempat kejadian, ada lebih banyak nyawa melayang dari yang di perkirakan. Langit-langit bangunan itu runtuh dan juga menghantam perkemahan, membunuh beberapa pekerja bangunan dan keluarganya. Ada banyak nyawa yang juga telah menyatu dalam lapisan beton yang baru saja dituang di tempat kejadian.

Eliodoro Ponio, yang bekerja di sana, diwawancarai dalam sebuah acara televisi, mengatakan bahwa seluruh mayat yang ada di sana sudah tertutup dan menggambarkan ‘bahkan sebuah kuku jari tidak ditinggalkan di sana’. Semua pekerja dikuburkan dengan sebaik-baiknya.

Saat pembangunan Manila Film Center ini akhirnya rampung tepat waktu untuk festival film itu, film-film seperti ‘Body Heat’, ‘Gallipoli’, dan ’36 Chowringhee Lane’ dari India diputar – film India ini lalu memenangkan gambar terbaik.

Setelah festival, bangunan ini dimasukkan ke dalam arsip film nasional hingga sebuah gempa bumi menghantamnya di tahun 1990an, menyebabkan bangunan ini rusak dan terbengkalai. Ditinggalkan selama satu dekade, bangunan ini akhirnya digunakan sebagai panggung pertunjukan ‘Amazing Show’, sebuah acara transgender yang diadakan pihak Amazing Philippines Theatre.

Beberapa orang yang mengunjungi tempat ini mungkin tidak mengetahui sejarah dari bangunan tersebut. Tragedi dari hilangnya banyak nyawa, dan jiwa-jiwa yang terperangkap di bawah kaki mereka. Kejadian aneh yang terjadi bukan hanya sosok asing yang meminta para pengunjung untuk menghubungi keluarga mereka, dan mengatakan keadaannya baik-baik saja tapi masih banyak kejadian-kejadian paranormal lainnya. Rintihan-rintihan meratap dan mengerang sering juga dilaporkan, keluar dari pondasi bangunan tersebut. Penampakan juga muncul dihadapan pengunjung, menyelinap keluar dari bawah lantainya. Orang-orang yang berlatih atau membersihkan tempat itu juga selalu melaporkan saat-saat mereka merasakan klaustrofobia ketika mereka berada di dalam, merasakan sesuatu tak kasat mata yang hadir di tengah-tengah mereka.

Beberapa paranormal melakukan ritual-ritual untuk berhubungan dengan yang mati di sana, sebagian besar mendapatkan sambutan yang tidak ramah, penolakan demi penolakan, aktivitas paranormal yang menakutkan, serta aktivitas poltergeist juga terjadi pada beberapa ritual yang dilakukan.

Seorang paranormal melakukan ritual pengusiran di sana dan berhasil mengontak beberapa makhluk halus yang menghuni tempat itu. Pada kesempatan kali ini, paranormal itu mengaku mendapatkan balasan dari beberapa arwah yang ada di sana. Mengatakan bahwa mereka akan pergi apabila kisah mereka diceritakan sehingga diketahui orang. Walau begitu, tidak semua menginginkan itu, beberapa dari mereka sudah tidak bisa lagi dipisahkan dari tempat itu. Jiwa dan kisah mereka tertawan di sana, menghantui tempat itu selamanya.

Advertisements

Bite Marks

Bite Marks adalah sebuah urban legend menakutkan dari Filipina yang menceritakan tentang seorang polisi yang berhadapan dengan seorang wanita.

bite marks

Pada bulan Mei 1951, sebuah peristiwa aneh terjadi di kota Manila di Filipina. Suatu malam, seorang petugas kepolisian sedang berpatroli ketika dia bertemu dengan seorang anak gadis berusia 18 tahun yang tersandung di sebuah jalan. Gadis itu mengenakan pakaian yang tipis dan kelihatan sedang berbicara sendiri. Dia mendengar gadis itu mengatakan, “Tolong aku! Tolong aku! Seseorang menggigitku!”

Polisi itu mencurigai gadis itu tengah dalam pengaruh obat-obatan dan mengalami halusinasi, jadi dia menahannya dan membawanya ke kantor polisi. Namun, ketika dia melepaskan borgolnya dikantor dan mencoba mengambil sidik jari, gadis itu tiba-tiba berteriak.
“Dia disini! Dia disini! Tolong aku! Dia mengejarku!” tangisnya, sebelum pingsan dilantai.

Polisi itu kemudian mengangkatnya dari lantai, namun ada sesuatu yang membuatnya ketakutan. Tepat didepan matanya, sebuah bekas gigitan yang masih baru terlihat di lengan dan punggung gadis tersebut. Lukanya sangat dalam dan mengeluarkan darah. Polisi itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan segera menghubungi kepala polisinya.

Atasannya ini sangat marah karena telah diganggu ditengah malam begini. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju ke kantornya untuk melihat ada masalah apa. Awalnya, dia menganggap gadis ini pasti telah menggigit dirinya sendiri, tapi ketika dia memperhatikannya secara seksama, dia kemudian menyadari bahwa bekas gigitan yang ada ditubuh gadis itu berada di tempat yang tak mungkin dijangkaunya.

“Kau tidak bisa menggigit punggungmu sendiri,” dia menggumam, seraya menggosok-gosok kepalanya.

Mereka kemudian memutuskan untuk menjaga gadis itu semalaman di kantor polisi dan menempatkannya di sebuah sel disitu. Selama sisa malam itu, seorang petugas polisi ditugaskan untuk menjaganya dan memastikan bahwa dia tidak melukai dirinya sendiri selama dibawah pengawasan kepolisian. Ketika subuh hari telah tiba, gadis itu tengah tertidur nyenyak, jadi polisi yang menjaganya itu memutuskan untuk istirahat sejenak dengan secangkir kopi.
Ketika dia baru saja menuangkan kopi dalam cangkirnya, dia mendengar gadis itu berteriak lagi.
“Dia kembali! DIA KEMBALI!”

Jeritannya sangat mengerikan dan petugas polisi itu terkejut mendengarnya sampai dia menjatuhkan kopinya. Cangkir ditangannya menghantam lantai dan dia berusaha menemukan kunci di sakunya. Teriakan dari arah sel penjara tersebut, membuatnya dia yakin bahwa gadis itu mengalami ketakutan terbesar dalam hidupnya.

Ketika polisi itu akhirnya dapat membuka pintu yang menuju ke selnya, jeritan itu terhenti. Kemudian dia menemukan gadis itu telah bermandikan darah. Lehernya tercabik-cabik dan ada bekas gigitan di seluruh leher belakangnya.

Tak lama, kepala polisi itu datang kembali ke kantornya, kali ini membawa petugas forensik untuk bersama-sama menyelidiki mayat gadis itu. Mereka berdua tidak bisa menjelaskan bagaimana dia terbunuh sementara dia berada dalam sel yang kosong. Tiap petugas di kantornya menjadi gemetar ketakutan.

Menurut legendanya, pihak kepolisian menutup peristiwa aneh ini dan menetapkan kematian gadis tersebut sebagai sebuah bunuh diri. Namun, rincian dari kasus ini tercatat di kantor kepolisian Manila dengan catatan khusus, rahasia, dan diberi judul “Unsolved Mystery No. 108 – The Bite Marks”.

White Lady of Balete Drive

White Lady of Balete Drive adalah sebuah urban legend dari Filipina yang menceritakan seorang wanita berpakaian serba putih yang selalu muncul di sekitar Jalur Balete.

Gambar

Nama Jalur Balete muncul karena sebuah pohon Balete besar pernah tumbuh di tengah jalanan tersebut. Walau pohon itu tak lagi berada di sana, jalanan ini masih tumbuhi pohon Balete di sisi-sisinya. Beberapa rumah-rumah bergaya Spanyol juga terlihat di sepanjang jalan ini.

Beberapa dari rumah-rumah di sini konon dihantui oleh penghuni sebelumnya, arwah mereka katanya dapat dipanggil dengan ritual-ritual atau tenung. Penduduk-penduduk setempat juga percaya bahwa pohon Balete tidak untuk digunakan sebagai bahan ornamen atau perabotan karena mereka dapat mengundang makhluk halus.

Jalur Balete juga merupakan tempat bagi White Lady, sosok hantu yang terkenal di sekitar tempat itu. Jalanan ini membentang sepanjang Distrik New Manila di Quezon City, Filipina. Sejak tahun 1950an, cerita-cerita tentang seorang wanita yang muncul dan menghilang sepanjang jalan itu, juga dalam mobil orang-orang yang melintas, telah dilaporkan dan bahkan diumumkan di media massa.

Konon orang-orang yang melintas di jalan itu – umumnya para pria – tidak dapat mengalihkan pandangan mereka terhadap sosok  seorang wanita cantik yang muncul di jalan itu hingga dia menghilang.

Biasanya, pengemudi mobil itu akan melihat seorang wanita cantik berpakaian serba putih berdiri di sebuah sisi jalan untuk mencari tumpangan. Ketika mereka bersedia memberi wanita itu tumpangan, mereka akan melihat sosok  berwajah pucat dengan dipenuhi darah dari kaca mobil mereka. Lalu dengan sekejap wanita itu akan menghilang.

Tidak seorangpun tahu nama wanita berpakaian putih ini, tapi ada dua cerita yang mengisahkan siapa dia sebenarnya. Sebuah cerita menceritakan bahwa wanita itu adalah seorang gadis yang tewas karena mobil yang ditumpanginya menabrak sebuah pohon Balete di jalan itu. Kemampuan mistis pohon ini kemudian menyebabkan arwah gadis itu harus tinggal di daerah tersebut.

Cerita lainnya berhubungan dengan alasan mengapa pengemudi taksi sepertinya banyak kali diganggu oleh sosok hantu ini. Suatu waktu seorang gadis menghentikan sebuah taksi dan menuju ke rumahnya, namun pengemudi taksi itu kemudian menghentikan kendaraannya di suatu tempat dan memperkosa gadis tersebut. Setelah melakukan perbuatan bejatnya, pengemudi taksi itu kemudian membunuh dan melempar gadis malang itu dari taksinya hingga terjerembab di sisi jalan tepat di bawah pohon Balete.

Sejak itu penampakan seorang wanita berpakaian serba putih acapkali muncul di daerah jalan itu. Dan menurut para saksi yang mengaku pernah melihatnya, konon hantu White Lady paling sering muncul sekitar pukul 12 malam hingga pukul 3 dinihari dan dia akan muncul di antara jalan Mabolo dan Bougainvilla.

Beberapa pengemudi taksi dikatakan sering mengalami kecelakaan di sekitar sana. Beberapa terkejut karena melihatnya, sebagian lainnya tak diketahui penyebab kecelakaannya. Kabarnya hantu wanita itu ingin membalaskan dendamnya atas pengemudi taksi yang mirip dengan orang yang merenggut nyawanya di jalanan malam itu.

Area jalan itu akhirnya terkenal di antara para pemburu hantu dan orang-orang yang ingin melihat langsung tempat legenda White Lady itu terjadi. Penduduk setempat sering juga mengeluh ke petugas kepolisian karena mendengar jeritan orang-orang yang melihat penampakan hantu tersebut.

Orang-orang yang mengetahui legenda ini juga dianjurkan ketika melintas di jalan ini untuk tidak menerima serang wanita untuk menumpang atau melihat ke belakang dari kaca spion kendaraan mereka sepanjang Jalur Balete.

Dompet Kulit

Gambar

Dompet Kulit adalah sebuah cerita menakutkan tentang dua orang saudari yang menemukan sebuah dompet pria dalam bus. Di dalamnya, mereka kemudian menemukan sebuah catatan yang aneh, tertulis dalam bahasa Latin. Cerita ini bedasarkan cerita yang beredar di negara Filipina.

Saudariku Maria satu tahun lebih tua dariku. Saat itu kami tinggal di asrama sekolah yang sama. Tiap akhir pekan, kami diijinkan untuk pulang dan mengunjungi ibu.

Suatu minggu di petang hari, saudariku dan aku pergi berbelanja di kota. Ketika kami ingin pulang, kami menghentikan sebuah bus. Maria lalu menemukan sebuah domper kulit di lantai tepat di bawah tempat duduk kami. Dompet itu sangat tua dan kelihatannya sudah rusak. Ada 20 dollar di dalamnya.

Aku mengatakan kepadanya bahwa kita harus membagi uang itu, tapi saudariku menolak. Dia memang tipe orang yang selalu jujur. Dia berkata bahwa kita harus mengembalikan domper itu ke pemiliknya.

Ketika kami tiba di rumah, rumah kami kosong. Ada sebuah catatan di meja dapur dari ibu yang memberitahu kami agar menjaga diri sementara dia keluar. Dia pergi berlibur selama dua minggu dengan pacar barunya.

Maria lalu membuka dompet kulit itu dan mulai memeriksa apa yang ada di dalamnya. Ada sebuah kartu ATM tanpa nama di situ, sebuah tiket bus, sebuah foto hitam putih dari seorang pria, dan sekumpulan kertas-kertas catatan. Dia mengeluarkan kertas itu dan melihatnya.

“Apa yang tertulis di situ?” tanyaku.

“Aku tidak tahu,” jawab Maria. “Aku rasa ini bahasa Latin.”

Aku mengambil catatan itu dan mulai membacanya “MORITVM TE SALVTAMVS, EST DEXTRVMI CVRITE… AVE VERSUS CRISTUS, VERUM DE TREVI, VERMI EST REFLEXUM, ARUM DRI TRIPUM… DEXTRUMI LENTENUM, AVE SATANI.”

“Bukan, konyol.” saudariku itu tertawa. “Kau salah menyebutkannya semua. Apakah kau tidak mengetahuinya? Ketika orang Roma menulis dalam bahasa Latin, mereka menggunakan V sebagai pengganti U. Semua V itu disebutkan menjadi U.”

“OK, jika kau begitu pintar, bacalah.” timpalku.

Maria merenggut potongan kertas itu dari tanganku dan membacanya keras-keras.

“Apa artinya itu?” tanyaku.

“Aku tak tahu,” jawabnya. “Kita belajar bahasa Latin di sekolah, tapi tidak mengenal satu pun dari kata-kata itu.”

Dia menaruh kertas-kertas itu kembali ke dalam dompet kulitnya dan meninggalkannya di meja ranjangnya – memberitahuku bahwa dia akan membawanya ke kantor polisi di minggu berikutnya.

Sepanjang malam itu, ketika aku sudah hampir terlelap, aku mendengar Maria tiba-tiba melompat keluar dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi. Dia muntah di dalam toilet.

Terkejut, aku lalu turun dari ranjang dan pergi melihat apakah dia baik-baik saja. Aku menemukan dirinya sudah tertunduk di wadah toilet, menahan tubuhnya dengan satu tangan. Dia menangis.

“Apa yang terjadi?” Aku bertanya. “Maria, ada apa denganmu?”

Dia tidak menjawab dan hanya pergi berlalu melewatiku.

Esok paginya, Maria mengalami demam. Dia bilang bahwa dia merasa pusing dan tidak mampu bangun ke sekolah. Dia ingin aku pergi sendiri dan memberitahukan guru kami bahwa dia sedang sakit dan baru akan masuk ke sekolah besok hari.

Aku menghabiskan sisa minggu itu di asrama sekolah, tapi Maria tidak pernah datang. Aku terus mengirim sebuah pesan singkat padanya – menanyakan keberadaannya, tapi dia tidak pernah membalasnya.

Minggu berikutnya – ketika aku pulang ke rumah, aku menemukan rumah dalam keadaan gelap. Ada bau busuk yang sangat menyengat dari udara yang mengalir di dalamnya. Tercium seperti daging yang membusuk.

“Maria! Maria!” Aku menyahut. “Dimana kau? Sangat busuk di sini!”

Ketika aku pergi ke lantai atas, saudariku itu tiba-tiba muncul dari kamar mandi.

“Maria, apa yang begitu busuk?” tanyaku, menutup hidung. “Baunya seperti tikus busuk.”

Dia menganggukkan kepalanya. “Bau itu dari rumah sebelah,” katanya. “Anjing mereka mati. Tertabrak oleh mobil. Setelah mobil itu melarikan diri, anjing itu masih bisa berjalan masuk ke kandangnya dan mati di sana.”

“Mengapa mereka tidak menguburnya?” tanyaku.

“Tetangga itu sedang pergi berlibur. Sudah berapa hari berlalu dan dia belum pulang juga. Pagarnya terkunci dan tak seorang pun dapat masuk ke dalamnya.”

“Benarkah, pagarnya terkunci? Tapi bagaimana anjing itu bisa kembali ke dalam?”

“Coba tebak.”

“Baiklah, biarkan jendela-jendela tertutup rapat jadi bau busuk itu takkan masuk ke dalam,” kataku. “Bau itu cukup dapat membuatmu muntah.”

Maria berjalan ke sekeliling rumah menutup seluruh jendela. Sesaat kemudian, aku menyediakan makan malam dan memanggil saudariku itu. Dia mengatakan bahwa dia tidak ingin makan apapun karena telah kehilangan selera makan. Aku makan sendiri akhirnya.

Malam itu, ketika aku tengah terbaring di ranjang, aku masih bisa mencium mayat anjing tetangga sebelah. Bau busuk itu sangat menyengat. Aku bangkit dan menyemprot kamar dengan pengharum ruangan.

Hari berikutnya, bau itu masih tercium. Aku berjalan-jalan keluar, hanya untuk menghindari bau busuk yang menjijikkan itu. Maria tinggal dalam kamarnya sepanjang hari. Dia bilang dia harus mengejar mata pelajaran sekolah yang dia tinggalkan.

Pada Minggu petang hari, aku mengatur pakaianku dan bersiap menuju ke asrama. Aku tidak melihat Maria merapikan apapun.

“Apa kau ikut denganku?” tanyaku.

“Tidak. Aku masih belum sembuh benar,” jawabnya. “Seragam sekolahku masih kotor. Aku akan mencucinya sebentar.”

Aku pergi kembali ke sekolah, tapi minggu itu, Aku tidak pernah mendengar kabar apapun dari saudariku. Aku mengirimkan pesan untuknya hingga pulsaku habis tapi dia tidak pernah menjawabnya.

Suatu pagi, aku terbangun dan menemukan sebuah pesan singkat di telepon genggamku. Itu dari ibu. Ketika aku membukanya, aku tidak percaya apa yang kubaca.

“PULANGLAH SEGERA. KAKAKMU MENINGGAL. IBU.”

Teleponku jatuh dari tanganku yang gemetar dan aku merasa sangat pusing. Aku harus duduk. Saat itu aku seperti sedang berada dalam mimpi buruk yang mengerikan. Aku terus berharap untuk dapat bangun dan menemukan bahwa dirinya masih hidup. Sayangnya, tidak seperti itu.

Aku mengepak beberapa pakaianku dan langsung pulang ke rumah.

Ketika aku tiba, aku melihat pagar kami telah terbuka dan ada beberapa orang berkumpul di sana. Ibu berdiri di jalan, menangis dan menggenggam secarik kertas di tangannya.

“Bu… apa yang terjadi?” tanyaku, meledak dalam tangis.

Ibu memeluk dan memegangku erat-erat.

“Maria sudah meninggal. Dia tewas tiga belas hari yang lalu. Aku menemukan mayatnya di bawah kasur. Tubuhnya sudah membusuk… Baunya sangat menyengat… Di mana kau? Kenapa kau tidak mencarinya?”

Tubuhku bergetar. Bulu kudukku berdiri tegang.

Siapakah yang bersamaku terakhir kali aku pulang ke rumah?

Siapa yang tidur di ranjang tepat di sampingku?

Aku melihat sekeliling dan mendapati tetangga kami sedang berdiri di pekarangannya. Anjingnya duduk di kakinya. Anjing yang sama yang Maria katakan telah mati dan menyebabkan bau busuk itu.

Tidak seorang pun yang tahu apa yang terjadi pada saudariku. Itu masih sebuah misteri besar. Aku curiga ada sesuatu dengan catatan yang dibacanya dalam bahasa Latin itu. Aku sampai lelah mencari artinya di internet.

Menurut penemuanku, inilah arti dari kata-kata itu;

MORITVM berarti mati
SALVTMVS berarti menghormati atau memberi hormat
TREVI berarti hidup
AVE VERSVS CRISTVS berarti menyambut anti Kristus
REFLEXVM berarti bayangan
DEXTRVMI LENTENVM berarti akan ada kebangkitan setelah hari tiga belas
AVE SATANI berarti menyembut Setan

Dengan kata lain, ini adalah sebuah mantera pengikut setan… Sebuah ejaan ilmu hitam…

Menurut apa yang telah kubaca, mantera ini digunakan oleh orang yang ingin mati. Mereka menghafal ejaan itu untuk mengadakan sebuah perjanjian dengan Setan… menawari jiwa mereka untuk iblis. Setelah membaca mantera itu, jiwa mereka lambat laun akan merosot dan meninggal. Dalam waktu tiga belas hari kau akan melihat orang yang mengucapkan kata-kata itu, tapi sesungguhnya, mereka hanyalah sebuah bayangan dari pemiliknya yang terdahulu. Hantu. Lalu, setelah tiga belas hari, mayat mereka akan menampakkan diri.

Ada satu hal yang masih membuatku heran. Aku membaca catatan itu juga, kenapa hal ini tidak berpengaruh padaku? Mengapa aku tidak mengalami hal yang sama dengan saudariku tercinta?

Apakah karena caraku membacanya? Mungkin ketidakpedulianku terhadap bahasa Latin yang menyelamatkan hidupku.

Tapi tunggu sebentar…

Ketika kau membaca ini…

Apa kau melafalkan kata-kata Latin?

Apa kau salah membacanya seperti aku membacanya?

Aku harap begitu…

Aku harap kau tidak membacanya dengan benar…

Bukan begitu?