The Corpse Bride

Film ‘The Corpse Bride’ sebenarnya terinspirasi dari sebuah cerita lama yang terjadi di abad ke 19 di Rusia – saat itu anti Yahudi menyebar di seantero Eropa timur. Sering sekelompok orang jahat yang membenci suku Yahudi menyerang pesta pernikahan orang-orang keluarga Yahudi.

Karena pengantin wanita akan menjadi satu-satunya yang membawa generasi penerus, maka dia  harus diculik dan dibunuh. Dia bahkan akan dikubur bersama gaun pengantinnya.

Cerita lama yang menakutkan ini kemudian menginspirasi Tim Burton untuk menulisnya di film The Corpse Bride arahannya dengan tokoh Victor dan Victoria – yang masing-masing suaranya diisi oleh aktor dan aktris Johny Deep (Victor) dan Emily Watson (Victoria).

Gambar

Suatu waktu hiduplah seorang pemuda yang tinggal di sebuah desa di Rusia. Dia akan segera menikah dan dia bersama sahabatnya tengah bersiap-siap untuk pergi ke desa lain di mana pengantin wanitanya tinggal. Mereka menjalani dua hari dari desa mereka ke sana.

Pada malam pertama dua orang sahabat itu memutuskan untuk mendirikan tenda di tepi sungai. Pemuda yang akan segera menikah ini lalu menemukan sebuah ranting yang aneh tertanam di tanah – terlihat seperti jari yang kurus. Dia dan sahabatnya lalu mulai memainkan lelucon tentang jari kurus yang tertanam itu dan pemuda calon pengantin ini kemudian mengeluarkan cincin kawin emas miliknya dari saku lalu memasangkannya ke ranting yang aneh itu. Dan kemudian mereka mulai melakukan tari-tarian pernikahan di sekeliling ranting itu; dia menari mengelilingi ranting yang mengenakan cincin emas itu tiga kali dan menyanyikan lagu pernikahan suku Yahudi. Dia juga mengucapkan seluruh sumpah perkawinan yang suci ketika tengah menari-nari mengelilinginya, dia dan sahabatnya kemudian tertawa terbahak-bahak sepanjang malam.

Kesenangan mereka terhenti tiba-tiba ketika tanah di situ mulai mengguncang dan bergetar di atas kaki-kaki mereka. Tempat di mana ranting itu berada kemudian terbuka dan memperlihatkan mayat dengan penampakan yang sangat buruk rupa, sebuah mayat hidup. Dia adalah mayat seorang pengantin, tapi kini dia tidak lebih dari sebuah tulang belulang yang terbungkus dengan kulit yang rusak – masih mengenakan gaun pengantin sutra putih yang tua dan terobek-robek. Cacing dan jaring laba-laba tergantung di salah satu bagian tubuhnya juga di cadarnya yang robek. Kedua pemuda itu terperanjat melihatnya.

“Ah.” kata pengantin wanita itu, “kau telah melakukan tarian pernikahan dan mengucapkan sumpah perkawinan juga telah memakaikan sebuah cincin di jariku. Kini kita adalah suami dan istri. Aku meminta hakku sebagai pengantin wanita.”

Terperangah dengan teror yang diucapkan pengantin mayat itu, kedua pemuda ini segera berlari ke desa di mana pengantin muda yang akan segera dinikahi itu berada. Mereka langsung pergi ke rabbi – pendeta Yahudi. “Rabbi,” tanya pemuda itu tersengal-sengal. “Aku punya sebuah pertanyaan yang sangat penting untukmu. Jika suatu waktu kau berjalan di dalam hutan dan menemukan sebuah ranting yang terlihat seperti jari kurus yang panjang keluar dari tanah dan kemudian kau memakaika cincin kawin emas pada jari itu lalu melakukan tarian pernikahan juga mengucapkan sumpah perkawinan, apakah itu benar-benar sebuah pernikahan yang nyata?”

Terlihat bingung, rabbi itu bertanya. “Apa kau tahu situasi yang seperti itu?”

“Oh, tidak, tidak, tentu saja tidak. Itu hanya pertanyaan biasa.”

Meraba janggutnya yang panjang, rabbi itu berkata, “Akan kupikirkan dulu.”

Dan sesaat kemudian, hembusan angin yang kencang membuka pintunya, dan seorang pengantin mayat berjalan masuk. “Aku datang untuk mengakui pria ini sebagai suamiku, ketika dia sudah memasukkan cincin kawin ini di jariku dan mengucapkan sumpah perkawinannya.” dia menuntut, jari-jari kurusnya tergeretak ketika dia menunjuk ke arah pengantin prianya.

“Ini adalah sesuatu yang sangat serius. Aku akan merembukkannya dengan rabbi-rabbi yang lain.” kata rabbi itu. Segera setelah seluruh rabbi dari bermacam-macam desa berkumpul bersama, mereka mengadakan pembicaraan sementara kedua pemuda tadi khawatir menunggu keputusannya. Pengantin mayat wanita itu menunggu di beranda, menghentak-hentak kakinya seraya mengucapkan, “Aku ingin merayakan malam pengantinku bersama suamiku.”

Kata-kata ini menaikkan bulu kuduk pemuda-pemuda itu hingga puncaknya, walau saat itu musim panas sedang hangat-hangatnya. Sementara para rabbi itu berembuk, pengantin wanita sesungguhnya datang dan ingin mengetahui kekacauan apa yang sedang terjadi. Ketika tunangannya selesai menjelaskan apa yang terjadi, dia mulai menangis. “Oh, hidupku telah rusak. Semua harapan dan mimpi-mimpiku telah lenyap. Aku takkan pernah bisa menikah, takkan pernah memiliki keluarga.”

Tak lama kemudian para rabbi itu keluar dan bertanya. “Apakah betul kau memakaikan sebuah cincin emas pada jarinya, dan kau melakukan tarian di sekelilingnya tiga kali serta mengucapkan sumpah perkawinanmu seluruhnya?” Kedua pemuda yang tengah bersandar di sebuah sudut ruangan yang jauh itu menganggukkan kepala mereka.

Terlihat sangat cemas para rabbi itu kembali berembuk. Dan pengantin wanita menyeka airmatanya, sementara pengantin mayat wanita itu kini tak sabar menunggu malam pengantin mereka yang panjang. Tak lama para rabbi lalu keluar dari ruangannya, mengambil tempat duduk mereka, dan mengumumkan, “Karena kau telah mengenakannya cincin kawin pada jari pengantin mayat ini dan kau telah menari mengelilinginya tiga kali seraya mengucapkan sumpah perkawinan, maka kami memutuskan bahwa hal ini merupakan upacara perkawinan yang benar. Walau begitu, kami juga memutuskan bahwa yang mati tak berhak mengakui yang hidup.”

Desah dan gumaman terdengar dari seluruh penjuru, pemuda itu lega. Pengantin mayat wanita itu, memelas, “Oh, lenyap sudah kesempatan terakhirku untuk hidup. Aku tidak akan pernah memiliki mimpi yang tercapai kini. Semuanya telah hilang selamanya.” dan dia terjatuh ke tanah. Dengan pemandangan yang menyedihkan, seluruh tulang belulang dalam balutan gaun pengantin lusuh itu terbaring di sana, tanpa kehidupan.

Diselimuti perasaan belas kasihan kepada pengantin mayat itu, sang pengantin wanita berlutut dan memapah tulang belulangnya, dengan hati-hati menyeka pakaian sutranya dan memeluknya erat, setengah bernyanyi, setengah bergumam, seperti menenangkan bayi dalam buaian. “Tak usah takut. Aku akan menghidupkan mimpi-mimpimu, aku akan menghidupkan harapan-harapanmu, aku akan memiliki anak-anak untukmu, aku akan memilki keturunan yang cukup untuk kita berdua dan kau bisa beristirahat dengan tenang mengetahui anak-anak dan anak dari keturunan kita akan terpelihara dengan baik dan tidak akan melupakan kita.”

Dengan damai dia menutup mata pengantin mayat itu, dengan tenang dia menggenggam tangannya dan dengan pelan dan hati-hati dia memapahnya menuju sungai dan dengan sandaran yang rapuh, membaringkannya di sisi sungai di mana dia telah menggali sebuah lubang makam untuknya dan membaringkannya di dalam. Menyilangkan lengannya yang kurus di dadanya, merapikan gaun pengantin di sekelilingnya, dan kemudian berbisik. “Beristirahatlah dengan tenang, aku akan mewujudkan mimpi-mimpimu. Jangan khawatir, kami takkan melupakanmu.”

Pengantin mayat itu terlihat bahagia dan damai dalam makamnya yang baru, ketika mengetahui bahwa dia bisa mewujudkan impiannya melalui pengantin wanita itu. Dan pengantin wanita itu menutup – dengan perlahan – mayat pengantin itu, mengubur gaun pengantinnya yang telah robek, menguburnya dengan tanah lalu menanam bunga-bunga liar di atas makam itu beserta bebatuan di sekelilingnya.

Kemudian pengantin wanita itu kembali kepada tunangannya lalu mereka menikah dalam upacara pernikahan yang sangat megah dan mereka hidup bersama sepanjang waktu. Dan seluruh anak-anak beserta cucu-cucu mereka selalu diceritakan kisah pengantin mayat itu, sehingga dia tidak terlupakan, begitu juga dengan nilai-nilai dan belas kasihan yang telah diajarkan kepada mereka.

Black Tights

Gambar

Black Tights atau bisa dibilang berarti stoking hitam adalah sebuah cerita tentang seorang gadis yang memiliki sebuah pakaian yang terlalu ketat. Cerita ini merupakan cerita menyeramkan anak-anak dari Rusia.

Suatu waktu ada seorang gadis kecil yang sangat mencintai balet. Ibunya lalu membelikannya sepasang stoking hitam sebagai kado ulangtahunnya. Gadis kecil itu langsung mengenakannya ketika ibunya menurunkannya di tempat latihan balet.

Ketika ibunya datang kembali untuk menjemputnya beberapa jam kemudian, gadis itu kelihatannya tengah kesakitan.

“Ibu! Ibu!” katanya. “Kakiku sakit!”

Ibunya mengatakan kepadanya untuk menunggu hingga mereka tiba di rumah sebelum melepas stoking hitam itu.

Ketika mereka dalam perjalanan pulang, gadis itu mengeluh kembali.

“Ibu! Ibu!” katanya. “Kakiku sakit!”

“Tunggu sampai kita di rumah.” kata ibunya. “Lalu kita akan melepaskan stoking hitammu dan melihat mengapa itu menyakitkan.”

Ketika mereka sudah hampir tiba di rumah, gadis itu mulai menangis.

“Ibu! Ibu!” katanya. “Kakiku sakit!”

“Tunggu sampai rumah.” kata ibunya. “Kita akan tiba beberapa menit lagi.”

Ketika mereka akhirnya tiba di rumah, gadis itu segera melepaskan korset hitamnya, dan lalu mulai memekik menjerit. Daripada melihat kakinya, di sana hanyalah tersisa tulang.