Hinna-kami

Gambar

Hinna-kami adalah ritual untuk membuat sebuah boneka yang bisa mewujudkan segala keinginan dari pembuatnya. Namun, pada akhirnya akan membawa kesengsaraan bagi yang memujanya.

Bagaimana membuat Hinna-kami :

*      Kumpulkan tanah dari tujuh makam dari tujuh desa yang berbeda.

*      Campur tanah itu dengan darah manusia dan bentuk menjadi sebuah boneka dewa/dewi yang kau yakini.

*      Kuburkan boneka itu di jalan-jalan yang ramai dan biarkan seribu orang melangkah di atasnya.

*      Jika kau memuja boneka itu nantinya, dia akan mewujudkan segala keinginanmu.

Tapi sebelum kau melakukan ritual ini, ingat bahwa Hinna-kami akan mengikutimu seumur hidup, dan pada akhirnya kau akan berakhir dengan kematian yang sangat menyakitkan dan mengerikan. Benda itu mungkin bisa menguasai jiwamu setelah kematian, dan membawanya ke neraka.

Di Jepang, apalagi di sekitar prefektur Toyama, orang-orang mengartikan Hinna-kami sebagai nama yang diberikan kepada jenis roh yang selalu ingin menguasai. Pada jaman dahulu, jika orang-orang yang tinggal di daerah itu melihat sebuah keluarga yang tiba-tiba menjadi kaya, maka mereka akan beranggapan bahwa keluarga itu pasti memuja Hinna-kami.

Ada juga pembuatan Hinna-kami dengan cara lain :

*      Buat seribu buah boneka, dengan masing-masing tingginya 9cm lalu rebus mereka di sebuah panci.

*      Jika kau melihat satu dari seribu boneka itu mengapung di permukaan air. Namakan boneka itu ‘Kochobo’, konon boneka ini telah memerangkap seribu roh di dalamnya.

*      Jika kau memuja boneka itu nantinya, dia akan mewujudkan segala keinginanmu.

Jika kau tidak memberitahu apa keinginanmu seterusnya, maka dia akan mendatangimu dan menanyakan “Apa berikutnya? Apa berikutnya?”. Maka dari itulah disebutkan bahwa keluarga yang memuja Hinna-kami akan kaya mendadak.

Kami dalam bahasa Jepang berarti ‘dewa/tuhan’. Ada banyak cara lain membuat Hinna-kami, beberapa juga berbunyi boneka itu harus terbuat dari batu nisan atau membutuhkan tiga ribu orang dalam jangka waktu tiga tahun.

Advertisements

Buletin Berita

Buletin Berita merupakan pengalaman dari seseorang yang menyalakan televisi di suatu malam dan menemukan ada yang aneh dengan acara televisinya.

Sekitar 10 tahun yang lalu, saya pernah menyalakan televisi di sekitar pukul 2.30 dinihari. Saya cukup yakin, ketika itu saya melihat layarnya menunjukkan batang-batang berwarna seperti ketika stasiun televisi sudah habis jamnya, dan tidak ada tanda-tanda acara akan dimulai. Saya hampir saja menyerah dan pergi tidur kembali ketika tiba-tiba batang-batang warna itu lenyap di layar, dan gambar sebuah tempat muncul menggantikannya.

Bersamaan dengan gambar itu, kalimat “Buletin Berita NNN” keluar dari televisi. Sesaat layar itu terus menampakkan gambar tempat yang sama, diambil dari jauh.

Saya tetap menontonnya, penasaran apakah itu. Segera beberapa nama mulai muncul, bergerak pelan dari atas turun ke bawah, seperti nama-nama yang ada di dalam akhir sebuah film dan sebuah suara datar keluar membacakan nama itu satu demi satu. Itu berlangsung selama lima menit atau lebih, di balik sunyinya suasana kala itu, dengan musik yang menyeramkan sebagai latar belakangnya.

Akhirnya setelah semua nama sudah disebutkan, suara itu kemudian berkata “Mereka adalah para korban di esok hari. Selamat malam.”

Sejak itu saya sangat ketakutan jika harus menonton televisi lewat tengah malam. Dan tidak satu pun yang mempercayai ceritaku ini.

Legenda Sungai Sanzu

Gambar

Sungai Sanzu berada di dekat Gunung Osore. Sanzu adalah nama yang sama dengan sungai di mitologi Jepang yang memisahkan alam manusia dengan alam baka. Konon jika seseorang menyeberangi sungai ini, dia tidak akan pernah kembali ke dunia nyata.

Sudah banyak cerita tentang pengalaman seseorang yang mengalami sekarat atau hampir mati ketika melihat sungai alam baka ini. Mereka menemukan diri mereka tengah berdiri di pinggir sungainya, dan di seberangnya berdiri seseorang yang memanggil-manggil.

Seseorang itu biasanya adalah seseorang yang sangat dicintai atau leluhur, kadang-kadang juga orang asing. Sementara orang-orang di seberang lainnya biasa memanggil-manggil mereka kembali dan tidak menyeberang ke sungai itu.

Sebuah cerita juga mengisahkan pengalaman seseorang ketika melihat orang-orang melambaikan tangannya memanggil dan menyuruh untuk menyeberangi sungai itu, ada sebuah kekuatan yang menahannya dan memaksa dirinya untuk segera bangun.

Menurut Legenda Sungai Sanzu atau Tepi Sungai Sai (Sai no Kawara) merupakan tempat dari roh seorang anak kecil yang meninggal lebih dulu dari orangtua mereka karena karma buruknya. Karena terlalu berdosa untuk ke surga, namun terlalu naif di neraka, mereka kemudian ditempatkan di sungai itu. Dikatakan bahwa Setan kemudian akan menggunakan mereka untuk mengambil batu-batu yang ada di sekitar sungai untuk membangun sebuah menara sebagai penebusan dari rasa berdosa mereka. Namun, Setan juga akan terus menghancurkan menara itu tiap kali anak-anak itu berhasil membangun sebuah menara di sungai itu. Roh anak-anak itu akan terus terperangkap di tempat itu untuk membangun menara batu yang hanya akan dihancurkan oleh Setan. Dengan begitu, mereka akan merasa berdosa selamanya.

Gambar

Legenda Sungai Sanzu juga merupakan bagian dari tradisi agama Buddha di Jepang. Dikatakan bahwa seorang manusia yang telah meninggal dunia akan menyeberangi sebuah sungai yang membatasi alam manusia dengan alam baka. Mudah atau sulitnya menyeberangi sungai itu sesuai dengan perbuatan manusia itu sendiri semasa hidupnya. Konon orang baik akan menyeberangi sungai itu dengan mudah, sedangkan orang jahat diharuskan menebus kesalahannya dahulu di sungai itu. Jika mendesak, beragam halangan bisa menyiksa orang itu sesuai dosanya. Ada yang disiksa oleh sosok iblis yang berubah menjadi naga, air berbentuk ular yang mencengkeram roh manusia, atau sesuatu yang lebih menakutkan lainnya. Pada ritual pemakaman orang Jepang, biasanya enam buah koin juga ditempatkan di peti mati orang yang sudah meninggal. Koin-koin itu dipercaya akan digunakan orang itu untuk membayar biaya dalam menyeberangi Sungai Sanzu.

Tensu Metsu

Tensu Metsu adalah urban legend tentang teror yang menghadang orang-orang yang berjalan di sekitar jalanan pegunungan. Suatu waktu seorang ibu membawa anaknya berkendara. Ketika mobil itu mogok sekitar pegunungan yang sunyi, mereka kemudian melihat penampakan yang mengerikan. Cerita ini berdasarkan cerita yang ada di Jepang.

Gambar

Seminggu yang lalu, saya tengah mengemudi pulang ke rumah dan anak perempuanku bersamaku di mobil saat itu. Saya tengah tergesa-gesa, jadi saya memutuskan untuk menyusuri jalan singkat yang melalui sebuah pegunungan yang sunyi. Tiba-tiba, di tengah-tengah perjalanan, mesin mobilku mulai tersendat-sendat dan tidak lama berhenti jalan.

Ketika saya melihat telepon genggamku, tidak ada sinyal sedikit pun. Kami benar-benar terjebak, di dalamnya pegunungan. Saya tidak tahu harus berbuat apa dan langit saat itu mulai gelap. Tidak ada tempat pengisian bahan bakar dekat situ dan tidak satu pun yang tampak melintasi jalan itu.

Sudah jelas kami harus menghabiskan malam ini di dalam mobil saja dan berharap ada yang melintas, berhenti dan memberi kami tumpangan. Matahari sudah tenggelam di balik gunung dan udara mulai dingin. Sebuah perasaan ngeri di balik heningnya suasana pegunungan di malam hari muncul dan yang terdengar hanyalah desiran angin yang menembus pepohonan.

Putriku sudah tidur di kursi penumpangnya, saya pun menutup mataku dan mulai terlelap ketika saya mendengar suara yang lainnya.

Suara itu seperti suara seseorang.

Saya tidak bisa mengatakan dengan jelas apa itu. Kedengarannya seperti ocehan.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Awalnya, saya kira ini mimpi, tapi suara itu makin dekat dan kian mendekat. Saya membuka mataku dan melihat di sekelilingku.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Sesosok gelap lalu muncul dan mendekati mobil. Yang ku lihat hanyalah sebuah bayangan. Tampak seperti seorang pria yang kelihatannya tengah menyeret-nyeret kakinya.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Tiba-tiba, suara itu berhenti. Berganti dengan ngerinya keheningan malam yang kembali.

Tidak lama, saya melihat dengan terperanjat ketakutan. Di samping itu, saya harus menghentikan diriku untuk tidak berteriak sekencang mungkin.

Berdiri di jendela penumpang sosok paling menyeramkan yang pernah ku lihat. Seperti seorang pria, tapi wajahnya sangat buruk dengan garis-garis wajah yang menakutkan. Penampakannya benar-benar membuatku tak bisa berkata-kata. Tampak seperti tiap bagian dari kulit wajahnya terkelupas dan yang tersisa hanya darah dan urat-uratnya.

Dia tidak punya hidung. Tidak punya telinga, sorot matanya tajam menembus kaca jendela itu.

Saya lalu memutar kunci kontak mobilku dan mencoba menyalakannya, tapi tidak ada gunanya. Mobil itu hanya bergetar sebentar dan mati.

Di luar jendela itu, pria yang mengerikan itu mengeluarkan sebilah pisau. Dia mulai menggumam ulang-ulang sendirian.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Tiap kali dia mengatakan itu, dia menusuk jendela itu dengan pisaunya – memukul dengan keras dan semakin beringas tiap kalinya. Saya terus mencoba menyalakan mesin mobilku. Airmata sudah dari tadi mengalir di wajahku. Saya benar-benar tak berdaya untuk keluar dari sana.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Tiba-tiba, hantaman yang keras terdengar dari jendela penumpang. Kacanya pecah – menyebar ke seluruh tubuh putriku. Saya berteriak semakin histeris. Tangan pria itu menembus jendela dan masih menggenggam pisau tajamnya, sembari mengacungkannya ke arahku.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Tidak lama dari situ, ketika saya memutar sekali lagi kunci mobilku, entah bagaimana mesin itu berderung hidup. Sontak saya menginjak pedal gasnya dan membawa mobil itu lari dari cengkeram makhluk menyeramkan itu. Saya terus memacunya di tengah jalanan sempit pegunungan, meninggalkan pria itu di belakang.

Saya tidak tahu kemana kami pergi, saya hanya terus mengemudi dan memacu mobilku, tanpa pernah memandang ke belakang lagi.

Ketika itulah saya menyadari bahwa anak perempuan tidak pernah bergerak. Ketika aku berhenti untuk melihatnya, saya lalu menemukan dirinya bergumam sendiri.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Seketika bulu kudukku berdiri.

Wajah putriku memucat dan dia gemetar. Saya mengguncang tubuhnya, berusaha menyadarkannya, tapi ketika dia membuka matanya, yang ada dia sungguh membuatku ketakutan.

Matanya berputar ke belakang – saya hanya melihat bola putih matanya. Dia mengencangkan rahangnya dan mulai mengeluarkan busa dari mulutnya. Wajahnya berubah. Dia bahkan tidak terlihat seperti putriku lagi. Dia hanya terus mengerang, lagi dan lagi.

“Tensu Metsu! Tensu Metsu! Tensu Metsu!”

Saya melanjutkan memacu mobilku dan akhirnya sampai di riuhnya perkotaan. Kami langsung ke gereja dan saya memarkirkan mobilku di sampingnya. Memapah tubuh anakku, saya kemudian membawanya masuk ke gereja dan berteriak meminta tolong.

Seorang pendeta tua muncul di depan pintunya dan menanyakan apa yang terjadi. Saya menceritakan seluruh yang ku temui di jalan pegunungan. Dia memandang putriku, lalu mengambilnya dari lenganku dan membaringkannya di altar gereja.

Saya hanya melihatnya, sambil menangis dan gemetar karena ketakutan, pendeta itu mengambil sebuah rosari dan menggengam salib kayu di hadapan putriku. Tidak lama kemudian, dia mulai membaca doa-doa dalam bahasa Latin.

Pendeta itu mengijinkan kami untuk tinggal di sana malam itu. Dia membawa putriku di kamar yang lain dan menjaganya semalam penuh, menggenggam tangannya, membalurinya dengan air suci seraya membacakan ulang doa-doa untuknya. Dia juga menaruh sebuah alkitab di dadanya dan sebuah scapula di lehernya.

Dia memberitahu bahwa putriku tengah dirasuki oleh iblis dan dia harus melakukan ritual eksorsis untuknya. Dia bilang jika itu tidak dilakukan dan putriku dibiarkan terus begitu hingga 49 hari, dia tidak akan pernah sembuh lagi. Dia akan sepenuhnya kehilangan kesadarannya.

Pendeta itu menyuruhku untuk mempercayakan anak perempuanku padanya jadi dia bisa melakukan ritual yang seharusnya. Dia juga bilang kalau saya tinggal, ada kemungkinan iblis itu juga bisa beralih merasukiku.

Sudah seminggu sejak anak perempuanku mengalami hal itu dan pendeta itu masih merawatnya. Saya mengunjunginya tiap hari. Ini membuatku merasa dia tidak seperti putriku lagi. Dia hanya menyeringai dan menatapku dengan pandangan mengerikan.

Saya benar-benar ingin putriku kembali.

Jika kau nanti menemukan dirimu tengah berkendara sendiri di pegunungan, apapun itu, jangan pernah berhenti …

Foto Hitam Putih

Foto Hitam Putih adalah cerita seram tentang sekumpulan muda-mudi yang pergi berkemah dan tanpa sengaja lewat di depan sebuah gubuk tua di pegunungan. Cerita ini berdasarkan cerita yang ada di Jepang.

Gambar

Ketika saya masih sekolah, saya pergi berkemah di gunung dengan ketiga teman baikku. Setelah kami mendirikan tenda, kami berncana untuk mengarungi area sekitarnya. Setelah berjalan-jalan selama satu jam, kami mulai lelah dan langit juga sudah mulai gelap. Saat itu memang sudah waktunya untuk kembali ke kemah.

Lalu kemudian, tanpa sengaja kami melewati sebuah gubuk tua yang terbengkalai. Penasaran, kami semua memutuskan untuk memeriksanya. Ketika saya mengingat kembali tentangnya, seharusnya saat itu kami meninggalkan tempat itu begitu saja dan kembali ke kemah kami.

Gubuk tua itu sudah sangat buruk dan kayu-kayunya sudah mulai lapuk dan membusuk. Salah satu temanku mencoba untuk membuka pintunya, tapi pintu itu terasa sulit untuk dibuka. Kami semua kemudian beramai-ramai untuk menariknya dan memaksa pintunya terbuka.

Di dalam gubuk itu, debu dan sampah berserakan di lantainya. Ada sebuah meja di sana dan di sampingnya, sekumpulan kertas suratkabar tersusun di sana. Tampaknya tempat ini sudah lama tidak ditinggali pemiliknya.

Saat temanku melihat-lihat sekeliling gubuk itu, saya mengambil salah satu suratkabar yang ada di sana. Tanggalnya menunjukkan tahun 1961. Saya kemudian penasaran siapa yang tinggal di gubuk ini di tahun itu.

Saya membuka halaman demi halaman dari suratkabar itu hingga saya sampai di salah satu halamannya – yang paling belakang. Ada sebuah artikel di halaman depannya yang tampak familiar. Saya melihat tanggal dari suratkabar itu dan menyadari bahwa suratkabar itu baru saja di sini beberapa hari yang lalu.

Ada seseorang yang benar-benar tinggal di sini.

Saya merasa tidak nyaman, perutku terasa mual.

Tidak lama kemudian, salah satu dari temanku menyahut, “Wow!”

“Ada apa?” tanyaku.

“Ketika aku membuka laci mejanya, keluar ini …” katanya, seraya menunjuk ke foto-foto hitam putih yang ada di lacinya.

Dia mengambil foto-foto itu keluar dan kami semua melihatnya. Awalnya saya tidak tahu apa yang ku lihat. Ada gambar-gambar dari dua orang gadis yang duduk di kursi. Foto-foto itu tampaknya diambil dalam gubuk itu. Ketika melihatnya lebih dekat, saya lalu menyadari bahwa gadis-gadis itu tengah diikat dan ditawan. Mimik wajah mereka mengerikan.

“Oh, Tuhan!” sahut salah satu temanku.

“Ini aneh,” kataku. “Ayo cepat keluar dari sini … lekas!”

Kami meninggalkan gubuk itu secepatnya dan mulai menyusuri perjalanan panjang ke tempat berkemah kami. Saat itu langit sudah gelap dan kami terbiasa melihat dari balik pundak kami ke belakang – memastikan tidak seorang pun mengikuti.

Malam itu, tidak satu pun dari kami bisa terlelap. Kami terus terjaga di dalam tenda dan mengobrol tentang foto-foto hitam putih yang aneh itu. Kami semua ketakutan karenanya.

“Mungkin kita harus melaporkan hal ini kepada polisi.” saranku.

“Mari lupakan semua yang terjadi hari ini.” timpal temanku.

Semuanya lalu sepakat.

Keesokan paginya, kami mengepak barang-barang kami dan berkendara pulang ke rumah. Temanku menurunkanku di depan rumahku. Ayah dan ibu sedang keluar untuk berakhir pekan, jadi saya masuk sendiri mengangkat tasku dan langsung naik ke atas untuk segera mandi.

Ketika saya membuka pintu kamarku, saya benar-benar terperanjat.

Di dindingnya berbaris foto-foto hitam putih. Foto-foto yang sama yang kami temukan di dalam gubuk itu.

Bake-neko

Bake-neko atau Setan Kucing merupakan makhluk supranatural yang ada di cerita rakyat Jepang. Bake-neko sejatinya merupakan kucing biasa yang berubah menjadi setan yang menakutkan. Menurut legendanya, dia bahkan bisa mengubah wujudnya menjadi sesosok manusia. Bake-neko memiliki arti “Kucing Setan” atau “Kucing yang mampu berubah wujud”.

Gambar

Pada masa yang lampau di Jepang, ada banyak takhyul mengenai kucing. Banyak orang percaya bahwa seekor kucing bisa menjadi kucing setan yang menakutkan, dan disebut Bake-neko, jika kucing itu telah hidup di tempat yang sama selama 13 tahun dan memiliki berat 3 kilogram lebih.

Ada yang bilang Setan Kucing itu bisa berjalan dengan dua kaki layaknya seorang manusia. Juga bisa mengubah wujudnya menjadi manusia, melahap mereka dan mengambil kepribadiannya.

Kisah Bake-neko yang terkenal melibatkan seorang lelaki yang bernama Takatsu Genbei, yang kehilangan kucing yang telah dipeliharanya selama bertahun-tahun tepat ketika kepribadian ibunya mendadak berubah sama sekali. Wanita tua itu menolak untuk makan bersama dan membawa makanannya ke kamarnya untuk dimakan sendiri. Ketika anggota keluarganya penasaran dan mengintipnya, mereka melihat tidak ada yang mirip dengan sosok wanita itu melainkan makhluk seperti kucing raksasa dalam pakaian wanita tua tersebut, tengah mengunyah bangkai binatang. Takatsu, walau benar-benar enggan melakukannya, akhirnya membunuh sosok yang mirip ibunya itu. Sehari berselang tubuh sosok itu perlahan kembali ke wujud kucing peliharaannya yang hilang. Tak lama setelah itu, Takatsu bersedih setelah merobek alas tatami dan lantai papan kamar ibunya. Di sana, dia menemukan tulang belulang ibunya, tersembunyi di sana dengan daging yang telah bersih dari tulangnya.

Kisah terkenal lainnya, disebut “Kucing Setan Nabeshima” yang menceritakan tentang seorang pangeran yang menjadi korban Bake-neko. Suatu malam, pangeran ini berjalan di taman istananya dengan geisha kesukaannya – seorang gadis bernama O Toyo. Mereka lalu tidak menyadari bahwa mereka tengah dibuntuti oleh sesosok makhluk yang mengendap-endap dalam kegelapan.

Setelah pangeran itu hendak beristirahat dan pergi ke kamarnya, Bake-neko diam-diam menyelinap ke kamar geisha itu dan menunggu di bawah tempat tidurnya hingga gadis itu tertidur. Tengah malam, Kucing Setan itu naik ke atas gadis yang terlelap itu dan mencekiknya hingga tewas. Kemudian dia menyeret tubuh gadis itu keluar, menggali sebuah lubang di taman bunga, dan mengubur jasad itu dalam sebuah makam buatannya.

Setelah selesai melakukan perbuatan jahatnya, kucing jahat itu mengubah wujud dan penampilannya menjadi geisha yang telah dibunuhnya itu, dan mengelabui orang-orang. Tiap malam, Bake-neko menyamar menjadi gadis itu, menyelinap ke kamar pangeran untuk meminum darahnya.

Tak lama, pangeran itu mengeluh telah mengalami mimpi yang sangat buruk. Tubuhnya melemah dan wajahnya pucat. Para dokter disibukkan dengan penyakit misterius yang menimpa pangeran dan memerintahkan penjaga agar menjaga kamar pangeran selama dia tertidur. Meski begitu, mendekati tengah malam, para penjaga itu merasa mengantuk sekali. Tak peduli bagaimana mereka mencoba untuk tidak tidur, mereka tidak bisa tetap terjaga.

Akhirnya, seorang prajurit muda yang bertugas di kerajaan datang ke istana pangeran. Ketika dia mendengar tentang kejadian aneh yang menimpa pangeran, dia mengajukan dirinya untuk berjaga dan melindungi pangeran. Ketika tengah malam mulai tiba, prajurit itu melihat para penjaga lain mulai mengantuk, satu per satu dari mereka akhirnya tertidur. Walau mulai merasakan kantuk juga, prajurit itu berusaha untuk tetap terjaga. Merasa kesulitan untuk menahan rasa kantuknya, dia mengambil belati dan menancapkannya di pahanya, agar dia bisa tetap terjaga. Kapan pun dia merasa akan segera tertidur, dia akan memutar pisau itu di lukanya untuk menambah rasa sakitnya sehingga dia tetap terjaga.

Tengah malam itu, prajurit itu melihat pintu geser pangeran terbuka perlahan-lahan. Dari sana, seorang geisha yang cantik diam-diam merangkak masuk ke kamarnya dan berjalan menuju kamar tidur pangeran itu. Prajurit itu kemudian bangkit dengan pisau di tangannya, namun ketika geisha itu menoleh dan melihatnya, dia langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa bersuara, sama seperti bagaimana dia masuk.

Selama tiga malam berturut-turut, prajurit itu berdiri menjaga pangeran yang tertidur, menikam tubuhnya tiap malam agar tetap berjaga. Kesehatan pangeran pun mulai kembali. Ketika prajurit itu menceritakan tentang geisha itu, entah kenapa, pangeran itu menolak untuk mendengarkannya. Dia tak membolehkan seorang pun meragukan kesetiaan gadis kesukaannya itu. Tidak gentar, prajurit itu menyusun rencana untuk menghadapi geisha itu sendirian.

Di tengah larut malam, prajurit itu mengetuk kamar gadis itu. Dia bilang dia membawa pesan untuknya dari pangeran. Ketika gadis itu membuka pintu kamarnya, prajurit itu dengan cepat mencabut belatinya dan mencoba menikam gadis itu, tapi dengan mudahnya gadis itu berkelit menghindari serangannya. Geisha itu kemudian berubah menjadi wujud aslinya, Bake-neko dan menyerang balik prajurit itu dengan geramnya, mendesis dan mengumpat ketika dia berusaha bertahan.

Keduanya terlibat perkelahian yang sengit, tapi ketika prajurit itu mulai memenangkannya, Bake-neko lari menerobos jendela, naik ke atas atapnya, dan terjun ke sebuah taman. Makhluk itu berhasil melarikan diri ke pegunungan.

Keesokan harinya, prajurit itu menceritakan pada pangeran apa yang telah terjadi. Petugas kebun istana mencangkul taman bunga itu dan menemukan jasad dari geisha yang asli. Dirundung duka, pangeran itu kemudian memerintahkan penjaganya untuk memburu Kucing Setan itu. Bake-neko kemudian berhasil dibunuh oleh prajurit muda itu, setelah menemukan kelemahan makhluk jahat itu.

Boneka Jepang

Boneka Jepang adalah sebuah cerita seram tentang seorang ayah yang memiliki anak perempuan, yang menemukan sebuah kotak misterius di taman di rumah baru mereka. Cerita ini merupakan salah satu cerita-cerita seram yang ada di Jepang.

 Gambar

Karena pekerjaanku, aku harus pindah ke daerah lain dari tempat tinggalku. Perusahaan telah membayar uang sewa rumah untuk keluargaku di mana kami akan tinggal nanti untuk sementara. Rumah itu merupakan rumah yang cukup besar dan lokasinya berdampingan dengan pegunungan. Satu-satunya masalahnya hanyalah terlalu sunyi dan terpencil.

Kami sudah tinggal sekitar sebulan lamanya ketika anak perempuanku menemukan sesuatu yang aneh di tamannya. Dia menemukan sebuah kotak kecil. Ketika dia menunjukkannya padaku, aku merasa sesuatu yang tidak baik tentang kotak itu. Aku mengambil kotak itu darinya dan mengatakan bahwa aku akan membuangnya segera.

Jika waktu itu aku hanya membuangnya begitu saja, mungkin kejadian ini tidak akan menimpa kami. Entah mengapa, aku malah memutuskan untuk membakarnya.

Beberapa hari kemudian, sesuatu yang buruk terjadi. Salah satu sahabatku mengalami kecelakaan dengan mobilnya. Kendaraannya tiba-tiba terbakar. Sahabatku yang malang terjebak di dalamnya dan terbakar hidup-hidup. Dia meninggal sebelum akhirnya pemadam kebakaran tiba di tempatnya.

Tak lama dari hari itu, temanku yang lain mengalami kejadian tragis. Dia sedang menyalakan api unggun di luar rumahnya ketika tanpa sengaja membakar pakaiannya. Dia kemudian menderita luka bakar di sisi kanan wajah dan lengannya.

Aku kemudian pergi menjenguk temanku itu ketika dia sudah sembuh di rumah sakit, dan dia menceritakan seluruhnya padaku tentang kejadian itu. Dia bilang, beberapa hari sebelum kejadian itu terjadi, dia mengalami mimpi yang sangat aneh. Dalam mimpinya itu, tubuhnya terbakar dalam api.

Walau aku tidak pernah mau percaya dengan takhyul, aku merasa ngeri ketika memikirkan kembali kotak yang ditemukan putriku waktu itu.

Aku segera pulang ke rumah dan mencari di taman, melihat ke lubang di mana aku membakar kotak itu. Aku menemukannya dan ketika aku mengambilnya, aku merasakan hawa dingin menyelimuti tubuhku.

Dalam kotak hangus itu, ada tiga boneka. Boneka Jepang tradisional, yang mengenakan kimono. Satu telah hangus terbakar, yang kedua hanya terbakar di satu sisinya, dan ketiga belum tersentuh dengan api. Ketika aku mengangkat boneka yang hanya terbakar separuh itu, kimononya yang sudah compang-camping jatuh ke tanah.

Di saat itulah aku melihat punggung boneka itu, dan tersentak ketakutan. Ada nama temanku terukir di punggung boneka itu. Nama dari sahabatku, yang sudah meninggal, juga terukir di belakang boneka lain yang seluruhnya telah hangus terbakar itu. Boneka yang masih utuh dan tersisa memiliki namaku, terukir di atasnya.

Seketika bulu kudukku berdiri dan menyisakanku untuk berpikir siapa yang melakukan hal ini. Siapa yang telah meninggalkan boneka-boneka ini di taman rumahku? Aku tidak merasa memiliki musuh. Tidak seorang pun yang punya alasan untuk mengutukku. Aku tidak habis pikir.

Aku lalu membawa istri dan anakku pindah dari rumah itu segera. Kami tidak bisa membuang begitu saja boneka-boneka itu, jadi kami titipkan di kuil Buddha. Bahkan hingga kini, kata-kata dari biksu Buddha yang menerimanya masih terus terngiang di kepalaku.

“Aku sudah mencoba memberkati boneka-boneka ini agar kutukannya lepas,” kata biksu itu. “Tapi itu tidak mungkin lagi. Kutukan yang melekat di boneka-boneka ini bukan berasal dari manusia …”