Manusia Kampak

Gambar

Andrew Hellman adalah seorang pembunuh gila pertama di Ohio, Amerika Serikat. Dia juga terkenal dengan sebutan Manusia Kampak.

Julukan Manusia Kampak ini lalu menjadi sebuah legenda di Ohio yang mengatakan bahwa arwah pembunuh ini masih menghantui sebuah pemakaman yang berada di sana. Pada malam hari yang pekat, di sekitar api unggun dan pesta kemah, orang-orang biasa menceritakan sejarah tentang pembunuh terkenal bernama Andrew Hellman. Mereka juga mengatakan bahwa arwah penasarannya masih mengintai jalanan di sana, mencari mangsa untuk menebas mereka dengan kapak andalannya.

Legenda Manusia Kampak ini mulai pada tahu 1830an. Di masa itu, Andrew Hellman adalah seorang penjahit yang sukses  dan tinggal di Ohio bersama istrinya, Mary. Mereka memiliki tiga orang anak, Louisa, Henry dan John. Orang-orang yang mengenal Hellman selalu mengatakan bahwa dia orang yang sangat kasar dan kejam seperti iblis. Tidak seperti keluarga yang bahagia, istri dan anak-anaknya malah hidup dalam ketakutan terhadap suami dan ayah mereka.

Mereka bilang Hellman menyimpan kebencian yang teramat gila kepada wanita. Dia yakin bahwa semua wanita harusnya diperlakukan seperti budak dan apa yang baik dari seorang wanita hanyalah membersihkan rumah, memasak makanan dan mengatur kaos kakinya.

Dia memukul istrinya tanpa ampun dan memperlakukan anak-anaknya seperti kotoran, sering meninggalkan mereka kelaparan dan tidak memberikan mereka apapun kecuali kebutuhan hidup yang hampa. Dia bahkan semakin menjadi-jadi ketika Henry kecil lahir. Dia bilang bahwa anak itu bukan anaknya yang sebenarnya. Dia yakin istrinya telah selingkuh darinya. Setelah John kecil lahir, Hellman bersumpah jika istrinya memberinya bayi lagi, dia akan langsung membunuhnya.

Musim semi di tahun 1893, kegilaan Hellman berbuah pembunuhan keji. Muak dan lelah dengan keluarganya, dia memutuskan untuk menghabisi semua anggota keluarganya dengan tangannya sendiri.

Pertama, dia mencoba membunuh istrinya dengan memberi racun pada susu sarapannya. Rencana ini gagal ketika istrinya menyadari bubuk putih yang tergenang di atas susu dan membuangnya langsung. Berikutnya, Hellman berniat meracuni anak-anaknya. Suatu hari, ketiga anak kecil ini tiba-tiba jatuh sakit dan menghabiskan dua hari di atas ranjangnya, menderita sakit yang tak diketahui penyebabnya.

Louisa dan John akhirnya meninggal karena tak tahan menahan sakit yang luar biasa, tapi syukurlah dengan usaha tak kenal lelah dari ibu mereka, Henry kecil masih dapat terselamatkan. Tentu saja, ketika istri Hellman menuduh suaminya yang meracuni anak-anak mereka, dia menyangkal semuanya. Untuk berhemat, Louisa dan John dikuburkan dalam lubang yang sama. Dari semenjak hari itu, istri dan putranya hidup ketakutan pada Andrew Hellman – gemetar dan cemas ketika dia berada bersama mereka.

Lima bulan kemudian, Henry bekerja di ladang pamannya, meninggalkan ibunya sendiri bersama ayahnya. Setelah pertengkaran yang kasar, Hellman sepenuhnya menggila dan mengamuk luar biasa. Dia kalap dengan mengambil sebuah kapak, mengejar istrinya dalam rumah, dan menebasnya berkali-kali.

Ketika dia tersadar atas apa yang telah diperbuatnya, dia tahu dia harus menyembunyikan hasil kejahatannya. Rumahnya sudah dipenuhi dengan percikan darah dan dia tidak bisa membersihkannya begitu saja, jadi dia membuatnya seolah-olah telah terjadi sebuah perampokan. Dia berjalan ke seluruh ruangan, mengosongkan barang-barang dan segala perabotan. Lalu, melumuri tangannya dengan darah istrinya dan menggosok seluruh tubuhnya dengan itu.

Ketika polisi tiba, mereka terperanjat menemukan potongan-potongan tubuh istri Hellman yang malang tersebar di seluruh kamar tidur mereka. Kepalanya sudah hampir terpisah dari lehernya. Sedang Andrew Hellman berbaring di ranjang, menangis dan merintih serta mengaku bahwa mereka baru saja diserang oleh segerombolan perampok.

Bagaimanapun, polisi tetap curiga dan ketika mereka mencuci noda darah di tubuhnya, mereka tidak menemukan luka sebanyak itu pada kulitnya. Dia langsung ditahan dan dikirim ke dalam penjara. Namun, jeruji besi tidak dapat menahan Manusia Kampak itu berlama-lama.

Setahun kemudian, dia melarikan diri. Ketika penjaga penjara tidak melihatnya, dia menyelip keluar dari rantai besi yang diikatkan di kakinya. Mencuri seekor kuda dan memacunya ke kegelapan malam sebelum penjaga mengetahui bahwa dia sudah tidak ada. Tenaga pencarian dikerahkan dan mereka menelusuri jalanan siang dan malam mencari tawanan yang melarikan diri itu, namun setelah menyisir beberapa daerah, mereka tidak menemukan sedikitpun jejak darinya.

Andrew Hellman melarikan diri ke Baltimore, Maryland, di mana dia membuka sebuah kedai jahit kecil dan memulai lembaran baru dari hidupnya yang gila, dan sakit jiwa. Menyebut dirinya sendiri “Adam Horn”, dia menikahi seorang wanita lain bernama Malinda Hinkle dan pindah ke sebuah rumah baru dengannya. Namun, bulan madu itu tidak bertahan lama.

Penjara tidak mengubah karakter jahat dari Andrew Hellman beserta temperamen kasarnya. Tak membutuhkan waktu yang lama, Hellman terlibat pertikaian dengan istri barunya. Dia mengatakan kepada tetangganya bahwa istrinya masih terlalu muda untuknya dan curiga istrinya telah berselingkuh darinya dengan pria lain. Akhirnya, dia muak dan bosan dengan usahanya dan ketika menemukan istrinya tengah hamil, di situlah ambang kesabarannya.

Sekali lagi, dia mengambil sebuah kapak dan mencincang istrinya hingga menjadi beberapa bagian. Setelah selesai, dia mengumpulkan potongan-potongan tubuh itu dan menyebarkannya di seluruh bagian di rumahnya. Lengan dan kakinya disembunyikan dalam kamar tidur dan mengubur sekantong potongan pinggangnya di kebun buah. Kepalanya tidak pernah ditemukan sama sekali.

Ketika kejahatannya terkuak, polisi akhirnya mencocokkan ciri-ciri dan menyadari bahwa dialah Manusia Kampak yang sama. Hellman diadili di pengadilan dan hakim memutuskan bahwa dia bersalah atas pembunuhan tingkat atas. Dia akhirnya digantung hingga tewas di tiang pancung dan mayatnya dikubur di sebelah makam istri pertama dan kedua anaknya.

Menurut legendanya, arwah Andrew Hellman masih menghantui pemakaman di mana dia dikuburkan. Rumah tempat dia membantai istri dan anak-anaknya juga sangat dekat dari sana. Penduduk setempat menyebutnya dengan Pemakaman Manusia Kampak dan batu nisannya konon bersinar dengan cahaya yang menakutkan.

Laporan tentang suara-suara misterius serta langkah-langkah kaki sudah biasa terdengar di antara orang-orang yang mencari rumahnya. Ada yang mengatakan, lewat tengah malam, mereka bisa mendengar sebuah kapak tertancap berulang-ulang pada batu nisannya. Beberapa orang yang berani mengatakan bekas tancapan kapak itu memang terlihat di atas batu nisannya.

Beberapa tahun yang lalu, penjaga makam itu tengah melakukan jaga malam ketika dia di serang sesosok misterius yang membawa sebuah kapak. Penjaga itu ditebas berkali-kali meninggalkan genangan darah dan pembunuhnya menghilang dalam gelap malam – tanpa pernah dilihat lagi.

Bahkan ada cerita yang mengisahkan pembunuh maniak kapak itu menewaskan tiga mahasiswa pemberani yang berkemah di dalam pemakaman itu. Ketika mahasiswa itu tiba di sana, mereka dilaporkan melakukan tindakan merusak beberapa batu nisan dan diketahui mencari keberadaan rumah Manusia Kampak tersebut. Walau di tengah musim dingin, dinding rumah itu masih panas. Mahasiswa yang masuk ke dalamnya hingga ketakutan setelah melihat bayangan seorang pria berdiri di atapnya, menggenggam sebuah kapak. Legenda mengatakan bahwa dia membunuh semua mahasiswa itu dan menyembunyikan mayatnya. Namun bagaimanapun, mereka tidak pernah terlihat sama sekali. Konon jika kau pergi ke sana dan dinding rumah itu masih panas, itu berarti Manusia Kampak siap memangsa dan mencari korban barunya.

Beberapa orang mengaku telah melihat arwah penasaran mengendap-endap di antara batu-batu nisan di sana dan berjalan menuju jalanan yang melewati pemakaman. Katanya dia suka muncul di malam hari, menakut-nakuti para pengemudi – biasanya yang wanita, atau siapapun yang kendaraannya mogok di sekitar sana. Dia sangat membenci wanita, jadi jika kau kurang beruntung harus melewati daerah ini pada malam hari, hati-hati. Kau mungkin bisa saja melihat sosok Manusia Kampak itu, berjalan turun ke jalan, dengan kapak yang sudah siap di tangannya, dan tak sabar melampiaskan nafsu membunuhnya terhadap wanita lain.

Advertisements

Kamera Video

Kamera Video adalah sebuah cerita menakutkan tentang seorang mahasiswa yang meyakini dirinya sedang dibuntuti oleh seseorang. dia lantas meninggalkan sebuah kamera perekam di kamarnya untuk mengetahui siapa orang tersebut.

Gambar

Beberapa tahun yang lalu, seorang pemuda bernama Bryan baru saja masuk ke sebuah perguruan tinggi. dia tidak memiliki cukup uang untuk tinggal dalam asrama kampus, jadi dia menyewa sebuah apartemen untuk dirinya sendiri di kota itu.

Setelah tinggal di sana dalam beberapa hari sendiri, dia menyadari ada beberapa hal yang aneh. sering terjadi, ketika dia baru saja pulang dari kampus, tirai kamarnya selalu tertutup padahal dengan jelas dia mengingatnya meninggalkan tirai itu dalam keadaan terbuka pada pagi harinya. di kesempatan lainnya, beberapa barang-barang miliknya terlihat sudah dipindahkan bahkan hilang – tak pernah ditemukan.

Kejadian-kejadian aneh ini mulai menakuti Bryan, jadi pemuda tersebut mencoba menceritakan hal ini kepada teman-temannya, Trisha dan Alex. Mereka bertemu di kedai terdekat dan setelah menyeruput kopinya, dia mulai menceritakan semua hal-hal aneh yang disadarinya.

“Mungkin saya hanya sedang paranoid,” kata Bryan. “Tapi saya benar-benar curiga bahwa seseorang telah merangsek masuk ke dalam apartemenku di siang hari, ketika saya masih di kampus dan …”

“Dan apa?” potong Alex. “Merubah tirai jendela dan memindahkan barang-barangmu? Siapa yang begitu gila hanya melakukan itu?”

“Ini memang terdengar gila, tapi mungkin saja seseorang sedang mengintaimu.” kata Trisha. “Itu mungkin saja. Dan jika ini benar, saya rasa menghubungi polisi adalah jalan yang terbaik.”

“Apa yang polisi bisa lakukan?” tanya Alex. “Mereka tidak akan menghabiskan waktu hanya untuk menjaga apartemenmu. Di samping itu, tidak ada bukti kerusakan pada barang-barang. Tidak ada tanda-tanda seseorang mendobrak masuk. Singkatnya, kau tidak memiliki bukti.”

“Jadi apa yang bisa kulakukan?” tanya Bryan. “Saya tak tahu harus berbuat apa.”

“Saya tahu apa yang bisa menenangkan pikiranmu.” usul Trisha. “Mudah saja. Taruh sebuah kamera video di kamarmu, dan tetap nyalakan ketika kau keluar ke kampus. Jika benar kau memiliki penguntit, kau bisa menunjukkan rekamannya nanti ke polisi sebagai bukti.”

“Kau tahu, itu adalah sebuah ide bagus.” kata Bryan.

“Dan jika kau benar-benar hanya paranoid atau gila, kau bisa menunjukkannya kepada psikiater.” ledek Alex.

Malam itu, Bryan meminjam kamera video Trisha dan membawanya ke rumah. Pada subuh-subuh sekali esok paginya, dia menyembunyikan kamera itu di bawah beberapa laci mejanya. Sebelum dia pergi ke kampus, dia menekan tombol rekam dan meninggalkannya tetap menyala.

Sepanjang hari itu, ketika dia duduk dalam bangku kuliah, pemuda ini sudah melupakan tentang kamera video itu. Tapi akhirnya dia mengingatnya ketika sudah sampai di rumah dan masuk ke kamarnya.

Mengambil kamera itu dari tempat persembunyiannya, dia menekan tombol berhenti. Lalu mengambil ponselnya dan menghubungi temannya.

“Hey, Trisha.” katanya. “Saya baru saja pulang. Saya akan menonton videonya.”

“Keren.” kata Trisha. “Jangan tutup teleponnya. Beritahu saya jika kau melihat sesuatu.”

Dia menekan tombol play-nya dan menonton rekaman video itu dari layar kecilnya. Dia melihat dirinya berjalan meninggalkan kamarnya untuk ke kampus pada pagi hari dan menutup pintunya. Lalu, tidak ada apa-apa yang terjadi. Dia menekan tombol untuk mempercepat dan menyaksikan seluruh rekaman itu. Ruangan itu benar-benar kosong.

“Masih tidak ada apa-apa.” katanya.

“Saya sudah bosan menunggu,” timpal Trisha. “Tapi, acara televisi sedang buruk jadi tidak ada yang bisa ku tonton.”

“Ya Tuhan!” jerit Bryan memencet tombol play secara bersamaan.

“Apa? Ada apa?” tanya Trisha bersemangat.

“Pintunya terbuka!” kata Bryan. “Itu seorang wanita …”

“Apa yang dilakukannya?” tanya Trisha.

“Hanya berdiri di sana … menutup pintu … dan berjalan kesana-kemari …”

“OMG! Aneh sekali! Bagaimana rupa wanita itu?”

“Saya tidak bisa melihat wajahnya … Rambut panjang, hitam, tipis … dengan pakaian sobek-sobek …”

“Kau mengenalnya?”

“Tidak, saya tidak mengenalnya sama sekali … Dia membawa sebuah pisau … Pisau dapur yang besar … Dia berjalan melewati tempat sampah … Sekarang, dia mengambil pakaianku dan merobek-robeknya.”

“Ugh! Gila! Ada apa dengannya?”

“Dia berjalan ke kamar kecil sekarang … Dia masuk ke sana.”

“Segera percepat dan lihat apa yang dilakukannya lagi.”

Bryan memperhatikan layarnya dengan seksama beberapa saat, tapi ruangan itu tetap kosong.

“Kau tahu apa artinya,” kata Bryan. “Sekarang saya punya bukti ini dan saya bisa ke kantor polisi agar mereka menjagaku.”

“Saya tahu,” kata Trisha. “Mereka pasti melakukan itu.”

“Alex pasti gila kalau melihat ini.”

“Pasti. Dia tidak percaya ceritamu. Cuma saya yang percaya.”

“Saya tahu. Kau memang teman yang baik … Ya Tuhan!”

“Apa? Apa?”

Bryan menekan tombol play kembali.

“Pintu depan terbuka lagi.” kata Bryan.

“Siapa itu?” tanya Trisha.

“Oh, bukan apa-apa.” jawab Bryan. “Itu hanya saya yang pulang dari kampus.”

Dia menyaksikan dirinya sendiri di layar, sedang mematikan kamera.

“Ayo ke kantor polisi sekarang,” kata Trisha. “Saya akan ikut denganmu. Kita bisa menunjukkan video itu.”

“Ok. Saya akan menemuimu di jam makan malam 15 menit lagi.” kata Bryan mengambil kamera video itu.

“Ok … tapi tunggu dulu.” kata Trisha. “Kau bilang dia masuk ke kamar kecil. Apakah dia pernah keluar? Bryan, apakah dia pernah keluar?!”

Bulu kuduk Bryan tiba-tiba berdiri. Di belakangnya, dia mendengar pintu kamar mandinya menyeret terbuka.

“Bryan! Keluar dari sana!” teriak Trisha di telepon, tapi sudah terlambat. Teleponnya mati. Dan ketika dia mencoba menghubunginya kembali, tidak ada jawaban.

Petang itu, polisi menemukan tubuh tak bernyawa mahasiswa 18 tahun itu terbaring di atas genangan darahnya sendiri – tertikam sebanyak 21 kali. Kamera video masih tergenggam erat di tangan kaku dan dinginnya. Ketika polisi memeriksa kamera itu, kartu memorinya sudah hilang.

Tidak ada satupun jejak wanita itu pernah ditemukan.

Sekarang, mungkin saja dia bersembunyi di kamar mandimu.

Tangga Kayu

Tangga Kayu adalah urban legend dari Jepang tentang sebuah apartemen di mana penghuninya selalu meninggalkannya dalam waktu seminggu.

Gambar

Sebuah bangunan apartemen tua di Jepang memiliki 7 lantai. Apartemen ini sangat kecil dan tak memiliki lift. Yang ada hanyalah sebuah tangga besar dari kayu yang merentang di ketujuh tingkat bangunan tersebut. Tiap tangga itu memiliki tujuh pijakan.

Pada lantai satu dari bangunan ini, ada sebuah ruangan apartemen yang berhadapan langsung dengan tangga ini. Pemilik apartemen yang mengelolanya selalu kesulitan mencari penghuni yang tinggal dalam ruangan apartemen tersebut. Kapanpun dia berharap ada yang tinggal lebih lama, penghuninya pasti  pergi tanpa alasan yang jelas. Tiap penghuni yang tinggal di sana selalu meninggalkan tempat mereka tidak lebih dari seminggu sejak menyewanya.

Suatu hari, seorang pemuda mencari sebuah apartemen kosong. Dia seorang mahasiswa dan tidak memiliki banyak uang.  Apartemen itu sangat kecil dan pemiliknya memberikannya biaya sewa yang sangat murah sehingga pemuda itu memutuskan untuk mengambil kesempatan ini dan pindah ke dalamnya dalam beberapa hari kemudian.

Hari pertama pemuda ini pindah ke dalam tepat di hari Senin. Pada malam harinya, dia terbangun dari tidurnya karena suara yang aneh. Kedengarannya seperti suara seorang anak kecil, menggema di dekat tangga depan pintunya.

“Aku sudah menginjak langkah pertama tangga kayunya.” tutur suara tersebut.

“Anak macam apa yang melakukan itu di malam-malam begini dan belum tidur?” pemuda itu mengatakan kepada dirinya sendiri. Tapi, dia sangat mengantuk malam itu sehingga tidak menghiraukannya dan hanya melanjutkan tidurnya.

Di malam berikutnya, dia terbangun kembali oleh suara yang sama. “Langkah kedua dari tangga ini sudah kunaiki.”

Pada hari rabu malam, suara itu memekik. “Langkah ketiga tangga ini sudah kunaiki.”

Pemuda itu melompat turun dari ranjangnya dan berlari ke pintu depan. Ketika dia membuka pintunya dan melihat keluar, tangga itu hanyalah tangga kosong. Bermacam-macam pikiran mulai muncul di benaknya. “Mungkinkah tangga itu berhantu?”

Dan itu berlangsung sama terus di hari keempat, kelima, dan keenam.

Tiap malam, pemuda ini pasti mendengar suara anak itu. Tiap waktu, semakin dekat dan mendekat.

Minggu malam akhirnya tiba dan pemuda ini mulai gemetar ketakutan di atas ranjangnya. Dia merasa harus pindah keluar, tapi dia meyakinkan dirinya bahwa dia harus tetap berani. Dia menolak perasaan takut yang keluar dari tubuhnya karena suara yang menyeramkan itu.

Tepat di tengah malam itu, dia terbangun oleh sesuatu yang mencakar-cakar pintunya.

Sebuah suara lalu memekik keluar. “Aku sudah sampai di pijakan ketujuh tangga ini!”

Bulu kuduk pemuda ini mendadak tegang ketika dia mendengar pintu depan yang tadinya terkunci menggeser terbuka.

Esok paginya, pemilik apartemen datang untuk menagih uang sewanya. Ketika dia mengetuk pintu apartemen tersebut, tidak ada jawaban sekalipun. Curiga sesuatu telah terjadi, dia membuka pintunya dengan kunci cadangan dan masuk ke dalamnya.

Terjerembab di ranjang, dia menemukan penghuninya sudah tebujur kaku di sana. Wajahnya menunjukkan ketakutan yang teramat sangat. Polisi lalau datang dan memeriksa mayatnya, namun tidak menemukan penyebab kematiannya. Hanya sepertinya pemuda ini mati karena ketakutan.

Apartemen itu masih kosong hingga kini, menunggu penghuni baru yang datang. Setahun berlalu, semua penghuni yang pernah tinggal di sana pergi sebelum sampai seminggu tinggal di dalamnya. Mereka semua mengatakan bahwa mereka pergi karena ketakutan akan terjadi sesuatu ketika suara itu tiba di pijakan ketujuh.

Hanya ada dua yang mengatahui apa yang sebenarnya terjadi; Pemuda yang meninggal itu dan sesuatu yang tidak diketahui yang menaiki tangga kayu itu tiap malam.

Headless Annie

Headless Annie adalah sebuah urban legend yang menyeramkan tentang hantu seorang gadis yang dibunuh di Harlan County, Kentucky, Amerika Serikat.

Gambar

Konon katanya hantu seorang gadis tanpa kepala menghantui Gunung Big Black di daerah Harlan County, Kentucky. Penduduk lokal biasa menyebutnya Headless Annie.

Beberapa tahun yang lalu, Kentucky merupakan daerah tambang dan Harlan County adalah tempat yang memiliki paling banyak pemukiman untuk para buruh penambang. Permintaan yang besar dari hasil tambang membuat tiap orang yang ada di sana dipekerjakan untuk menarik hasil dari kekayaan alam di tambang tersebut.

Namun, pada saat itu, menjadi seorang penambang merupakan pekerjaan yang sangat berbahaya dan para buruh yang bekerja di sana mulai mendesak majikan mereka untuk menaikkan upah mereka. Tapi, sebagian majikan lantas membunuh mereka di daerah penambangan itu sewaktu bekerja sehingga daerah Harlan County menjadi terkenal dengan nama Harlan Berdarah.

Menurut legendanya, sekitar masa itu, seorang gadis berusia 12 tahun bernama Annie pernah tinggal di Gunung Big Black. Ayah Annie bekerja di tambang dan sangat menyetujui dengan adanya asosiasi bagi para buruh. Dia kemudian bagai duri dalam daging perusahaan-perusahaan penambangan yang ingin meraup keuntungan di sana dan mereka ingin menjatuhkannya serta menjadikan contoh bagi yang lainnya agar tidak mencoba melakukan hal yang sama.

Suatu malam, para majikan ini mengirim segerombolan preman untuk pergi ke Gunung Big Black. Mereka menyeret Annie serta ayah dan ibunya turun dari tempat tidurnya dan membawa mereka masuk ke dalam hutan.

Awalnya, mereka membuat Annie dan ibunya menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana kaki ayahnya dijagal. Lalu, mereka menggantung tubuhnya di sebuah pengait daging yang diikat di sebuah pohon, sehingga tubuh ayahnya mengalirkan darah hingga nyawanya habis seperti seekor babi yang disembelih. Annie dipaksa untuk menyaksikan juga pembunuhan yang mereka lakukan atas ibunya dengan cara yang sadis.

Kemudian, giliran Annie. Para pria bejat itu langsung menebas lehernya sehingga kepala dan tubuhnya terpisah, lalu membuangnya di tebing yang curam. Mayatnya tergeletak disana, tanpa ditemukan seorang pun dalam beberapa hari. Sementara itu, binatang-binatang buas yang mencium bangkainya lantas berpesta di sana. Pembunuhan itu tidak pernah terungkap dalam pengadilan.

Kini, jika kau pergi ke Gunung Big Black sesudah gelap, di sekitar tempat di mana dia tewas, konon kau akan melihat hantu dari Annie Kepala Buntung mengitari jalanan itu. Beberapa orang mengaku bahwa mereka melihat sesosok tubuh tanpa kepala, dengan berpakaian gaun tidur bergentayangan dengan bias cahaya yang tak lazim.

Katanya ketika kau melintas di sana, dia akan melompat di atap mobilmu dan mesinnya akan berhenti mendadak. Lalu, dia akan memeriksa jendela mana yang kacanya diturunkan. Jika dia menemukan jendela yang terbuka, dia akan berusaha meraih ke dalam dan mengambil kepalamu hingga terlepas.

Girl Next Door

Gambar

Girl Next Door adalah sebuah kisah nyata tentang seorang gadis yang dibuntuti oleh seorang pria yang tinggal di sebelah rumahnya.

Hi, namaku Jessie dan ini adalah ceritaku. Semua ini berawal ketika saya masih berusia 13 tahun. Saya adalah gadis para tetangga. Seperti gadis-gadis lain pada usiaku, saya pergi ke sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, berolahraga dan keluar dengan teman-temanku. Saya sangat senang dan bebas, tanpa sedikit pun khawatir akan dunia ini. Saya hanyalah gadis yang baru menanjak dewasa.

Rumah di sebelah rumah kami telah kosong selama beberapa bulan, dan kemudian, pada musim semi seorang tetangga pindah ke dalamnya. Dia lalu bertamu dan berbicara kepada ibuku dan kelihatannya dia adalah seorang pria yang bersahabat. Dia bilang namanya Nick. Dia berusia sekitar pertengahan 30an, tapi dia belum menikah dan tidak mempunyai anak seorang pun.

Dia tipe orang yang cukup pendiam dan tidak mengucapkan banyak kata-kata, tapi dia sungguh baik. Dia bahkan menawarkan untuk melakukan pekerjaan halaman atau barang-barang yang bisa diperbaiki untuk kami. Karena ayah tidak berada di rumah, ada banyak tentang rumah kami yang harus diperbaiki, jadi ibuku menerima tawarannya.

Dia sangat membantu kami. Beberapa kali, dia datang untuk mengerjakan sesuatu ketika saya berada di halaman belakang dan dia selalu berusaha memulai sebuah percakapan denganku. Saya rasa itu sangat lucu karena dia sungguh gugup dan berkeringat, juga sering salah ucap.

Lalu, di suatu pagi, tepat sebelum saya berangkat ke sekolah, ibuku membawaku ke samping dan berkata, “Saya tidak mau kau berbicara dengan Nick lagi. Jika kau melihatnya di luar dan saya tidak berada dirumah, saya mau kau masuk ke rumah dan mengunci pintu.”

Ketika saya menanyakan alasannya, ibu tidak menjawabku. Yang dia katakan hanyalah, “Saya mendapatkan firasat yang aneh tentangnya…”

Saya pikir dia hanyalah mencoba melindungiku berlebihan, tapi saya selalu mendengar kata-kata ibuku, jadi saya menjaga jarak dengannya.

Musim panas itu, saya dan teman-temanku membangun sebuah benteng di hutan di belakang rumah kami. Itu hanyalah sebuah pondok kecil yang bobrok dan kami membangunnya dengan kayu-kayu dan papan yang kami temukan di sekitar.

Suatu hari, saya pulang ke rumah dari sekolah dan menemukan bahwa seseorang telah memperbaikinya dan merubahnya menjadi sebuah pondok yang bagus. Pondok itu memiliki sebuah jendela, pintu dan segalanya. Bahkan ada sebuah kotak surat kecil di depannya dengan namaku di atasnya. Di dalamnya, ada sebuah surat. Ketika saya membukanya, aku sadar bahwa itu dari Nick.

“Dear Jessie,” tulisnya. “bentengmu kelihatan sungguh buruk. Saya rasa saya harus memperbaikinya untukmu. Harap kau menyukainya. Saya pikir ini biasa melihat bagaimana kita tinggal berdampingan. Hormat saya, Nick.”

Saya rasa itu sangat keren jadi saya segera menulis ucapan terimakasih dan menaruhnya ke dalam kotak surat miliknya. Di hari berikutnya, ada sebuah surat lain lagi dari Nick di kotak surat bentengku.

Surat itu sangat panjang dan penuh dengan hal-hal yang aneh. Dia bilang ingin bersahabat denganku selamanya dan tidak sabar hingga saya berusia 18 tahun jadi saya bisa pindah tinggal bersamanya dan kita akan hidup bersama. Dia juga mengatakan bahwa ibuku gila dan berusaha untuk memisahkan kami berdua.

Bagian paling aneh adalah ketika dia memberitahukanku bahwa dia tidak akan menyakitiku dan dia juga tidak akan membiarkan seorangpun melukaiku. Saya tidak dapat berpikir apa yang dia maksud dengan itu.

Membutuhkan beberapa lama untukku berpikir dan selesai membaca itu semua, ketika ibuku tiba di rumah dari sepulang bekerja. Dia membuatku menunjukkan itu padanya dan ketika dia selesai membacanya, dia bilang surat itu membuatnya merinding.

“Pria berusia 34 tahun macam apa yang menulis surat seperti itu kepada seorang anak gadis berusia 13 tahun?” sahutnya.

Dia segera menelepon polisi, dan ketika petugas datang ke rumah kami dan membaca suratnya, mereka mengatakan kepada kami bahwa Nick baru saja keluar dari penjara. Esoknya dia ditahan dan mereka mengirimnya kembali ke penjara. Ibuku memberitahuku bahwa dia dihukum selama dua tahun.

Tak lama setelah itu, ibuku mulai mendapatkan beberapa surat dari Nick. Semuanya berisi tentang kemarahan dan kata-kata kotor. Dia terus menanyakan ibuku mengapa dia berbohong tentangnya kepada polisi dan bilang bahwa dirinya tahu bahwa saya mencintai dirinya. Ketika ibuku menunjukkan surat-surat itu kepada polisi, mereka memberinya tahun tambahan di penjara. Setelah itu, kami berhenti mendapatkan surat darinya.

Waktu terus berlalu, saya berangsur-angsur melupakan semua tentang Nick dan melanjutkan hidupku. Lalu, suatu hari, saya menuju ke rumah dari sepulang sekolah dan ketika berjalan sepanjang jalannya, saya melihat dia berdiri di halaman depan rumahnya, menatap tajam ke arahku. Saya seperti mendapat sebuah pukulan mengejutkan jadi saya hanya bisa langsung berlari masuk ke rumah dan membanting pintu yang ada di belakangku. Jantungku berdetak kencang dan tubuhku gemetar seperti selembar daun yang ditiup.

Itulah awal dari mimpi buruk. Tiap hari, dia mulai memperhatikanku gerak-gerikku tanpa henti. Kapanpun saya keluar, dia akan berada di halaman rumahnya, hanya memandangi diriku, dengan senyuman yang aneh di wajahnya. Itu adalah perasaan yang sangat buruk. Siang dan malam, dia tidak pernah terlihat melepas pandangannya ke arahku. Rasa takut dari tidak mengetahui apa yang bisa dilakukannya membuat perutku sakit. Seperti menjalani hidup di dalam sebuah film seram.

Lalu, suatu pagi, ibuku menemukan sebuah boneka beruang teddy tersandar di pijakan kaki belakang rumah kami. Ada namaku di atasnya. Polisi mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan karena kami tidak bisa membuktikan bahwa Nick yang meninggalkan itu di sana. Saya merasa seperti seorang tawanan di rumahku sendiri. Saya bahkan merangkak di lantai dari ruangan ke ruangan karena tidak ingin dia menangkap sekilas pun dariku melalui jendela.

Beberapa hari kemudian, saya mengemudi ke sekolah. Ketika baru saja masuk ke dalam mobil, di sebelah saya melihat Nick tengah duduk di dalam truknya, hanya menatap ke arahku. Tepat ketika saya baru saja melaju, dia mulai mengikutiku. Saya tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Yang saya tahu saya harus melarikan diri.

Saya tidak pernah merasa teramat takut begini sepanjang hidupku. Dia terus membuntutiku dan saya sudah putus asa untuk melarikan diri darinya. Saya menancap gasnya dan mengemudikan mobilku menuju ke rumah nenek. Ketika saya tiba di sana, dia bahkan masih mengikutiku sepanjang jalan itu, tapi ketika dia melihat nenek, dia kabur. Saya sangat takut.

Ibuku melaporkan hal ini kepada polisi dan mereka bilang bahwa itu sebuah kekerasan dalam masa percobaannya. Mereka akhirnya menahan Nick dan mengirimnya kembali ke penjara. Tapi bagaimana pun, saya tahu itu belum selesai. Saya adalah tujuan dari obsesinya dan dia tidak akan berhenti hingga mendapatkan apa yang diinginkannya.

Saya mengharapkan yang terburuk, tapi apa yang terjadi berikutnya sungguh mengejutkanku hingga tak percaya. Ibu mendapat sebuah panggilan telepon dari polisi yang mengatakan bahwa Nick telah keluar dengan uang jaminan. Dia langsung menghubungiku di sekolah dan mengabarkan hal itu padaku. Saya tidak dapat mempercayai ini.

Saya sungguh ketakutan hingga hampir mati. Setelah semua itu, sayalah yang mengirimkan dia kembali ke penjara. Kini dia akan mengamuk dan saya takut dia akan mendatangiku.

Ibu dan saya lalu meninggalkan rumah kami hari itu juga dan tak pernah kembali. Untuk beberapa saat, kami tinggal di sebuah hotel hingga bisa menemukan rumah yang lainnya. Sementara kami menunggu hal itu, kami terus melarikan diri.  Saya benar-benar merasa dia akan membunuhku. Saya takut… benar-benar takut. Jika dia tidak menemukanku. Dia tidak akan membunuhku, jadi saya harus tetap bersembunyi.

Tiba-tiba, pengadilan memutuskan Nick untuk menjalani dua setengah tahun di penjara.  Untuk semua hal yang menakutkan yang diberikan kepada ibu dan saya, itu bukanlah apa-apa. Ketika dia keluar, saya akan berusia 18 dan saya takut dia akan datang kepadaku lagi. Saya takut dia tidak akan pernah berhenti.

Pengalaman ini banyak mengubahku. Saya bukanlah gadis kecil riang dan beruntung yang pernah ada itu lagi. Saya tidak dapat mempercayai siapapun seperti sebelumnya. Saya rasa saya bertumbuh lebih cepat sedikit dari siapapun seumuranku. Saya adalah gadis para tetangga. Saya hanya pernah tinggal di sebelah seorang pria yang berubah menjadi iblis yang tengah menyamar.

Hal yang paling menakutkan tentang cerita ini adalah karena kisah ini nyata. Nama gadis itu adalah Jessie Cooper dan pembuntutnya adalah Nick Hamilton.

Black Tights

Gambar

Black Tights atau bisa dibilang berarti stoking hitam adalah sebuah cerita tentang seorang gadis yang memiliki sebuah pakaian yang terlalu ketat. Cerita ini merupakan cerita menyeramkan anak-anak dari Rusia.

Suatu waktu ada seorang gadis kecil yang sangat mencintai balet. Ibunya lalu membelikannya sepasang stoking hitam sebagai kado ulangtahunnya. Gadis kecil itu langsung mengenakannya ketika ibunya menurunkannya di tempat latihan balet.

Ketika ibunya datang kembali untuk menjemputnya beberapa jam kemudian, gadis itu kelihatannya tengah kesakitan.

“Ibu! Ibu!” katanya. “Kakiku sakit!”

Ibunya mengatakan kepadanya untuk menunggu hingga mereka tiba di rumah sebelum melepas stoking hitam itu.

Ketika mereka dalam perjalanan pulang, gadis itu mengeluh kembali.

“Ibu! Ibu!” katanya. “Kakiku sakit!”

“Tunggu sampai kita di rumah.” kata ibunya. “Lalu kita akan melepaskan stoking hitammu dan melihat mengapa itu menyakitkan.”

Ketika mereka sudah hampir tiba di rumah, gadis itu mulai menangis.

“Ibu! Ibu!” katanya. “Kakiku sakit!”

“Tunggu sampai rumah.” kata ibunya. “Kita akan tiba beberapa menit lagi.”

Ketika mereka akhirnya tiba di rumah, gadis itu segera melepaskan korset hitamnya, dan lalu mulai memekik menjerit. Daripada melihat kakinya, di sana hanyalah tersisa tulang.

Kamera Digital

Kamera Digital adalah sebuah cerita hantu tentang seorang gadis yang ibunya meninggal secara mendadak. Dia lalu mulai mencoba perilaku-perilaku aneh dan menolak jika ditinggal sendirian. Cerita ini berdasarkan apa yang terjadi di Jepang beberapa tahun yang lalu.

 Gambar

Salah satu keluargaku meninggal secara mendadak. Aku tak pernah bertemu dengan wanita ini. Dia memiliki seorang anak perempuan yang berusia empat tahun. Gadis kecil itu bernama Yuki. Ayahnya tidak bisa membesarkannya sendiri, jadi dia meminta bibiku untuk menjaga dan merawatnya. 

Gadis kecil ini selalu menolak jika ditinggal sendiri dan tak pernah lepas dari sisi bibinya. Hal itu kemudian mulai menjadi sebuah masalah. Bibiku kini tidak bisa pergi kemana-mana tanpa Yuki. Dia selalu membutuhkan perhatian. Hingga anak-anak perempuan bibiku mulai merasa iri dengan dirinya.

Suatu hari, bibiku mengatakan kepadaku bahwa dia harus pergi ke luar kota untuk beberapa hari dan dia memintaku untuk menjaga gadis kecil ini untuknya. Aku katakan bahwa itu bisa menjadi kesenanganku. Aku tinggal sendiri dan aku bisa melakukan itu dengan beberapa teman.

Beberapa hari kemudian, bibiku menitipkan Yuki di apartemenku. Ketika dia hendak pergi, dia memandang gadis kecil itu dan berkata, “Yuki, baik-baiklah. Jangan nakal.”

Ketika bibiku telah pergi, aku mencoba memulai percakapan dengan Yuki dan memainkan beberapa permainan dengannya, tapi tingkah gadis kecil itu sangat aneh. Dia memiliki sebuah boneka Teddy Bear terselip  rapat di bawah lengannya dan dia tidak pernah melepas barang itu. Dia tidak pernah tersenyum. Tak pernah berbicara. Apa yang dilakukannya hanyalah duduk diam di sudut dan melihat ke dinding. Hal itu membuatku sedikit tidak nyaman.

Aku sudah mencoba untuk menemukan sesuatu yang mungkin bisa menghiburnya. Aku mengambil sebuah kamera digital yang baru saja kubeli dan membiarkan Yuki mencoba kameraku yang lama. Ketika dia melihat kamera itu, matanya berbinar-binar. Aku lalu menunjukkan bagaimana cara menggunakannya dan dia mulai mengelilingi apartemenku untuk mengambil beberapa gambar apapun yang ditemuinya. Sebuah senyuman lebar merekah di wajahnya.

Sore itu, aku menemukan betapa sulitnya berinteraksi dengan Yuki. Kapanpun kucoba meninggalkan ruangan, dia mulai menangis dan meneriakkan namaku. Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri atau dia akan membuat keributan yang besar. Dia bahkan memaksa untuk ikut denganku ke kamar mandi, di mana hal itu membuatku malu.

Ketika tiba waktunya untuk tidur, dia menolak untuk tinggal di ruangannya dan bersikeras untuk tidur di ranjangku. Aku membacakannya cerita pengantar tidur dan setelah beberapa saat, aku menyuruhnya untuk segera menutup mata. Ketika itu juga aku menyadari Teddy Bear-nya. Salah satu kaki boneka itu hangus dan hitam, seperti sudah pernah terbakar. Hal itu membuatku heran.

Pada tengah malam, aku terbangun oleh sebuah bunyi aneh. Ketika aku menoleh, aku lihat ada sesuatu yang salah dengan Yuki. Tubuh gadis kecil itu berguncang dan gemetar. Matanya terbuka lebar, giginya menggeretak dan airmata mengalir di pipinya. Aku memeluknya erat-erat dan bertanya apa yang terjadi dengannya.

“Dia sedang melihatku lagi,” gumamnya.

“Siapa?” terkejut aku bertanya.

“Wanita hitam itu,” jawab Yuki.

Dia tidak bisa lagi mengucapkan apa-apa. Aku coba mengatakan padanya bahwa itu hanya imajinasinya, tapi dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengerang. Butuh waktu yang lama untuk kembali menidurkannya.

Hari selanjutnya, Yuki sudah baik-baik saja. Dia suka bermain dengan kamera digitalku. Ketika tiba waktunya untuk pulang, aku mengatakan padanya bahwa dia bisa membawanya. Yuki memelukku. Walau dia tidak mengatakan apapun. Aku bisa mengatakan bahwa dia sangat-sangat senang.

Aku menurunkan gadis kecil itu di rumah bibiku dan tinggal sejenak untuk secangkir teh. Bibi berterimakasih kepadaku telah menjaga Yuki ketika kami menghabiskan beberapa waktu bercakap-cakap di meja dapur.

“Anak yang kasihan,” kata bibi. “Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak ibunya meninggal.”

Aku tidak dapat lagi menahan rasa penasaranku. “Bagaimana ibu Yuki meninggal?” tanyaku.

Sebuah ekspresi aneh muncul dari wajah bibi. “Dia meninggal karena kebakaran …”

“Bagaimana api itu bermula?” tanyaku.

“Ya …” bibi berhenti sejenak, seperti tidak ingin melanjutkannya. “Itu adalah cerita yang sangat menyedihkan. Dia memutuskan bunuh diri. Ibu Yui adalah seorang wanita yang sangat bermasalah. Dia melumuri tubuhnya dengan bensin lalu menyalakan sebuah korek api. Dia membakar dirinya sendiri.”

“Ya, Tuhan.” seruku. “Sungguh mengerikan!”

“Ya,” kata bibi. “Keluarganya sangat terguncang, mereka menyangkal itu dan berpura-pura bahwa itu adalah sebuah kecelakaan. Kami mengadakan pemakaman sederhana tapi hanya keluarga yang diundang. Yuki tidak di sana. Dia bahkan tidak mengetahui bahwa ibunya telah meninggal. Dia pikir ibunya hanyalah pergi berlibur dalam waktu yang lama. Kami tidak cukup memiliki hati yang kuat untuk memberitakukan yang sebenarnya.”

“Kasihan Yuki.” aku bergumam.

Bibi menganggukkan kepalanya dengan sedih. “Kasihan Yuki.”

Beberapa hari setelah itu, Yuki meninggal.

Bibiku telah mencoba merubah perilaku Yuki. Malam itu, dia memaksa gadis kecil itu tidur di kamarnya sendiri. Walau Yuki berteriak dan menangis, bibiku meninggalkannya sendiri dan mengunci pintunya. Esok paginya, dia menemkukan Yuki terbaring lemas di ranjangnya. Gadis kecil yang malang itu telah meninggal.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Ahli forensik juga tidak dapat memastikan penyebab kematiannya. Tak ada tanda apapun di tubuhnya. Dia juga sangat sehat. Dia meninggal secara misterius begitu saja malam itu. Tanpa ada penjelasan.

Setelah pemakaman, aku kembali ke rumah bibiku. Tiap orang sangat sedih. Dia mengembalikan kamera digital yang kuberikan pada Yuki. Aku membawanya pulang. Itulah sesuatu yang bisa mengingatkanku padanya.

Kartu memorinya penuh dengan bermacam-macam foto yang telah diambil Yuki. Aku memeriksa semuanya, seraya menepikan airmata yang turun dari mataku. Gambar-gambar ini adalah gambar dari apartemenku, rumah bibi, bunga, anjing, mainan, permen kesukaannya … Gambar-gambar konyol yang seorang anak kecil bisa menangkapnya.

Lalu, aku tiba di gambar yang terakhir dan itu membuat darahku membeku.

Tanganku bergetar.

Aku ingin teriak, tapi ku tak bisa.

Waktu yang ditunjukkan dalam gambar itu adalah malam dimana Yuki meninggal.

Ini gambar terakhir yang gadis malang itu ambil dengan kamera digitalku.

Gambar